Charitri

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Semalam, akhirnya kuberanikan diri menghubungimu lagi. Meski rasa rindu dan ego yang haus penjelasan akan alasanmu menyerah pada kita sudah habis memamah jiwa, nyatanya keberanianku semalam bukan karena itu. Membaca tulisan penuh candamu itu seakan mengoyak luka yang kuabaikan sakitnya. Bagaimana hal yang kau gaungkan sebagai alasanmu menyerah itu keluar sebagai canda, sedang aku hingga hari ini masih sibuk meyakinkan diriku untuk menerima luka.

Aku senang melihatmu baik-baik saja, sungguh. Meski tak banyak, aku masih berharap bisa menemukanmu seperti saat kita masih saling rindu. Bukan kamu yang malam itu, yang mengartikan keteguhanku semata-mata untuk melawan ibumu. 

Kubaca berulang kali jawabanmu dan kutemukan kamu malam itu lagi, kamu yang tak pernah kukenali. 

Aku masih terlalu keras kepala untuk sekedar menyerah begitu saja. Masih kuusahakan semua sisa-sisa kebetulan yang kupunya, barangkali saat kamu menutup pagar nomor lima, berkendara dengan lusi putihmu menunggu lampu merah atau di tengah lelah menuju rumah.

Masih kuusahakan semua sisa-sisa kebetulan ini demi satu pandang dan barangkali kita bisa berbicara lagi.

Kira-kira sudah berapa isak dan hela napas yang mengamini bahwa mereka memang tak akan pernah bisa meredakan pedih? bahwa hati akan selalu merasakan nyeri tiap kepala tak henti bertanya dengan dalih menyelesaikan teka-teki. Pada akhirnya yang melekat pada kita hanyalah sisa-sisa perasaan, dan selebihnya adalah kenangan yang barangkali sudah bertumpuk dengan penyesalan. Aku tak lagi menghitung malam yang kuhabiskan dengan mengeringkan basah mata dengan ujung sarung bantal, karena rupanya ingatan tak butuh angka untuk merasakan kehilangan.

Hingga hari ini kepergiannya masih menjadi teka-teki yang semakin aku coba mengerti hanya membawaku pada pedih yang lebih dalam lagi, yang seakan memaksaku untuk melepasnya dengan rela yang pura-pura. Pun bagaimana bisa aku sepenuhnya rela jika dipaksa berpisah meski perasaan kita masih sama?

Jika air mata melembabkan hidup, maka kesedihan bak jamur yang tumbuh di sepanjang tembok gang sempit sebelah rumah. Terlihat menggemaskan dengan wujudnya, yang entah di perjalanan keberapa kita tak lagi melihatnya bahkan bagaimana akhirnya dia mati. Bak kesedihan yang terus menjalari hidup, yang entah di hari keberapa kita tak lagi merasakannya entah terkikis rasa muak atau seseorang datang membersihkannya hingga rasa gelinya membawa gelak.

Hujan pasti datang, pun tangis. Kudoakan tangismu banyak bahagianya ya, kalaupun ada sedihnya kuharap ada seseorang yang membabat cepat jamurnya. Atau alih-alih menunggu orang lain bagaimana jika kita memilih sendiri untuk tertawa? Karena tak banyak yang bisa dilakukan ketika hujan terlalu deras untuk diterjang tanpa membuat kita kuyub.

Aku menyukai gelayut suaramu tiap memanggilku, seperti teduh halte Basra jam delapan pagi. Aku menikmati obrolan malam kita sebelum tidur meski tak jarang banyak hening yang menggenang saat kantuk mulai datang. Aku juga selalu menantikan panggilan video kita tiap pagi, aku sibuk mencari bedak di tengah kantukmu yang enggan beranjak.

Tapi aku juga menikmati sesak jalan raya di jam pagi dan pulang meski sering kuumpat diam-diam para pengendaranya, langit jingga selepas maghrib ketika menuju rumah, lampu-lampu jalan yang perlahan menelan gelap, bangunan-bangunan tinggi yang mulai berkedip warna-warni atau kepul hangat cilok pinggir jalan.

Dan tiba-tiba aku mau kamu ada berdiri di sini.

Dalam antrian cilok meski menggerutu sesekali.

Sejak kamu menetap akhir-akhir ini, tulisanku tak lagi jadi tempat kemana larinya sedih dan sepi. Mereka hidup lebih riuh minta duluan ditulis, pesannya dengan manis. Pun aku yang seolah tak ingin kalah, terus kewalahan meski kamu tak henti kugambar kala bermunajah.

Semoga menetapmu menjadi tinggalku, menjadi rumah di setiap pulangku.

“Gimana, apa sudah ada pacar baru?”, absennya setiap mulai mengisi ruang obrolan.


Rasanya aku sudah tak kaget lagi dengan kemunculannya atau bahkan dengan segala pertanyaan yang masih saja kekanak-kanakannya itu. Kuintip dari luar ruangan, nanti sajalah kujawab jika aku tak malas.


“Sudah”, jawabku dengan tambahan ehehe agar tak terkesan canggung.


Jika kutarik di kali terakhir kau menanyakannya, jawaban belumku menarikmu dengan ajakan konyol juga akhirnya. Bagaimana tak konyol, bertahun aku berjalan tak peduli aku terseok bahkan terjatuh mengiringimu tak juga bisa meluruhkan egomu untuk sekedar meraih tanganku. Bukankah terdengar konyol jika saat ini, di mana aku memutuskan untuk berhenti dan menghilang dari pandangmu, aku mendengar pertanyaanmu yang tak salah jika kunilai kekanak-kanakan itu?


“Ga ada pacar mulu tiap ditanya, ga mau sama aku aja?”, tulismu.


“Engga”, lagi-lagi kubalas dengan tambahan ehehe agar tak terkesan angkuh.


Butuh waktu yang tak sedikit untuk akhirnya ada di sini, barangkali jika kamu ingin tau. Bukankah kamu juga tau meski  perlahan tak mengiringi, panggilanmu masih sering kuhampiri; semudah itu aku dulu.

Meski tak begitu yakin, semoga jawabku tak membuatmu patah.

Meski sedikit, kuharap kamu terluka.

Aku selalu menyukai perjalanan meski tau tujuannya kurang begitu menyenangkan. Pun hidup, meski terlunta lara dan susah payah mengembangkan tawa tetaplah bagaimana tujuan hidup ini aku pun masih selalu ragu ketika akan menjawabnya. Kita pun demikian, dua hati asing yang bertemu di entah simpang jalan yang mana atau pada kendaraan yang keberapa. Berkendara di antah berantah dengan tujuan yang masih entah.

Kita sepakat bahwa tak ada perjalanan yang sepenuhnya aman, tapi melihat kita bersamaan memasang seatbelt, memilih playlist lagu, tumpukan snack di bangku belakang juga genggam yang sesekali kau ciumi saat menyetir rasanya aku akan cukup merasa nyaman di sepanjang jalan.

Sebenernya kurang suka banget sama semua hal yang berbau perselingkuhan atau hubungan yang sebenernya udah kurang  nyaman buat dijalanin tapi diem-dieman bae malah nyeret orang lain masuk ke hubungan itu trus jatohnya saling nyakitin satu sama lain. Kayak, kalo udah gamau tuh ya komunikasi berdua maunya gimana bukannya malah bikin skena baru lagi.

(((SKENA)))

Kemaren pas baca sinosis Decision to Leave tertarik karena masuk genre misteri dan melibatkan peran detektif gitu berarti ada unsur kriminalnya nih, tapi pas sampe bagian di tengah penyelidikan pada saling tertarik jadi kayak, hmm sa ae nih bumbu selingkuhnya ehehe

Pas kelar film terus terang bengong banget liatin layar bioskop, ini film kriminal tapi bisa full romantis dan bisa tragis banget gini gimana mikirnya siih T-T Di awal film mulai udah ngerasa ini alurnya lambat banget kaya cara berpikirku sumpah wqwq, informasi soal karakter atau akar masalahnya ini dikit banget menurutku karena peralihan ke scene selanjutnya tuh kayak cepet banget gitu bikin harus mikir dulu barusan tadi apaan. Tapi bisa enak banget  sepanjang film ini bisa fokus banget ke layar sampe kelar.

Jadi ini ceritanya tentang seorang detektif (Park HaeIl) yang akhirnya suka sama tersangka di kasus kematian yang dia selidiki, tapi menurutku udah di level obsesi sih yaa karena pas proses pengintaian tersangka tuh udah  kayak menembus imajinasinya. Hmm menembus imanijasi ga tuh istilahnya wqwq. Mungkin yang sering ngikutin drama soal detektif pasti ngga asing sama scene seakan detektif bisa masuk dalam another universe pas lagi di TKP untuk reka ulang adegan pembunuhan, nah kayak gitu, tapi di film ini digambarinnya tuh kayak bagus banget gitu seakan ngajak yang nonton ngeciye-ciyein selama adegan berlangsung. Dan tersangka perempuannya (Tang Wei) ini tuh juga digambarin misterius, mencurigakan juga tapi jelas banget dia tuh menggoda banget di sini. Mana cangtip banget lagi TangWei Masyaallah ketiplek dek JiSoo BLACKPINK banget. Kayak dihipnotis sama ceritanya, yang awalnya males banget soal cerita selingkuh ini jadi kayak berubah haluan jadi rooting pasangan selingkuh ini sepanjang film. Nangis.

Meskipun diajak mikir sepanjang film sambil mungutin scene yang transisinya cepet banget buat dimengerti, bisa agak istirahat mikir dulu sama beberapa komedi partner detektifnya (Go KyungPyo) sih. Jadi sembari ngetawain bego-begonya dia sambil mikir nyambungin potongan adegan yang udah jadi pikiran wqwq. 


TAPI GO KYUNG PYO GANTENGNYA APPROVED BANGET 100% SELERAKU 


Soal jalan cerita kedetektifan ini pasti udah paham lah gimana, pas pembuktian alur kejahatannya emang bagus ya tapi aku lebih suka alur cerita setelahnya kayak ngga ketebak aja gitu bakal masukin jalan cerita kayak gitu. Semakin gambarin gimana misterius dan bahayanya Tang Wei di sini. Masyallah lagi-lagi mbatin bisa cangtip gitu gimana siiih mbaaa

Soal aku pada akhirnya rooting ke pasangan diem-diem selingkuh ini ngga langsung makjreng seneng gitu ya, justru karena aku disuguhin adegan-adegan mereka berdua yang tersirat kalo mereka tuh sebenernya lagi jatuh cinta. Kayak lagi baca puisi, ngga semua dijelasin dengan rinci tapi cukup aja kita paham maksudnya aww. Di luar chemistry mereka yang bagus banget itu, ya gimana aku ngga kebawa buat ngedukung mereka kalo sepanjang mereka berdua tuh nunjukin small gestures, act of service atau physical touch, yang apa ya bahasanya, indah (?), buat ditunjukin ke kita yang nonton.


How to say I love you without saying I love you


Ahzeq.

Nah kayak gitu menurutku, gambaran hubungan mereka berdua sepanjang film.

Aku suka banget gimana karakter Tang Wei ini dirahkan jadi semisterius itu, kayak semua soal dirinya tuh digambarin ambigu banget; abu-abu. Dari gimana hubungannya sama almarhum ibu dan suaminya atau gimana cara pikirnya untuk bisa selalu ketemu Park HaeIl lagi. Sampe soal dirinya sendiri tuh aku ngerasa seambigu wallpaper dinding rumahnya yang entah kukira di awal adalah gambar ombak ternyata pas ada scene agak zoom ternyata bisa jadi itu deretan gunung-gunung, sama kayak gambaran karakter si Tang Wei ini sebenernya cuma emang istri yang udah jadi janda atau emang psikopat aja dia mah. Dan dari kepikiran soal wallpaper dinding ini aku juga bisa narik lagi ke latar film ini yang nyuguhin gunung dan laut sebagai latarnya, dimana menurutku ini ngegambarin begitu bedanya sosok istri Park HaeIl dan Tang Wei.

Ih beneran seru deh!


Seringkali aku merasa bersalah pada kurir yang mungkin sedang bertugas untukku, entah bagaimana shift kerjanya tapi kukirimkan paketku untukmu lima kali tiap harinya. Semoga ada shift karena jika aku sendiri yang mengirimnya di perjalanan puluhan kilo bolak-balik begitu pasti penat di jalan, apalagi kalau macet parah. Sudah kutuliskan lengkap namamu dan kubungkus rapi meski tanpa pita, tapi jika mungkin ketika kau terima nanti ada kusut atau kurangnya akan kuperbaiki di kiriman selanjutnya.

Yang pertama, sebagai bising alarm yang membangunkanmu tepat di jangkauan tangan ketika pagi tiba

Yang kedua, sebagai kotak makan siang yang kerap menggoda ujung hidungmu dengan aromanya

Yang ketiga, sebagai terik matahari sore yang memicingkan matamu saking silaunya

Yang keempat, sebagai hembus angin yang dinginnya selalu menemani perjalanan pulangmu menyusuri kota

Yang kelima, sebagai gagang pintu kamar yang segera kau tutup agar kau bisa merebahkan semua lelahmu di dalamnya

Maka lengkap sudah paketku, lima kecup untuk pipi atau keningmu. Dari kotaku yang sedikit agak jauh, dengan rindu yang selalu penuh.

Rasanya udah lama ngga keluar dari bioskop dengan mata bengep karena nangisin film Indonesia, bahkan seingetku terakhir keluar bioskop sambil mata bengep tuh nonton Kim Ji-Young, Born 1982; itupun film Korea. Dan itu udah lama banget kayaknya.

Beberapa hari yang lalu nyempetin pergi bioskop setelah beberapa kali liat tweet Ernest Prakasa di linimasa twitter soal film ini, film yang ditulis dan disutradarai Bene Dion salah satu komika di Indonesia. Ngga bohong kalo dibilang tergoda karena Ernest Prakasa yang ngerekomendasiin, karena sampe hari ini selalu suka film-film garapannya ehehe

Film dimulai dengan pengenalan karakter-karakter anak dalam keluarga Batak dengan masing-masing masalahnya yang membuat mereka hingga lupa untuk pulang. Pulang di sini bener-bener nunjukkin dua arti yang berbeda dalam satu pemaknaan. Pulang dengan datang ke rumah dan pulang dengan kembali pada jantungnya seorang anak; orang tua. Dari sini udah ngerasa kesindir, betapa aku selama ini juga ngelakuin hal sama. Baru juga mulai, bor!

Dengan bekal sedikit bocoran alur cerita dari linimasa dan trailer di aplikasi tiket online, solusi yang digunakan orang tua di sini untuk membuat anak-anaknya pulang adalah merekayasa kondisi rumah tangga mereka dengan perceraian karena perceraian bukanlah hal wajar dalam lingkungan keluarga Batak. Meski latar belakang dan kehidupan yang diangkat adalah keluarga Batak, yang bukan orang Batak masih bakal bisa relate kok apalagi kalian yang lagi merantau. Tapi bener-bener ngga nyangka apa yang disuguhin di dalem film ini bisa berjalan jauh dari sekedar pura-pura bercerai. Dibikin ngga siap sama alur cerita lanjutannya beneran makanya crycry mulu T-T

Kalo pada mikir bakal full lucu karena hampir semua pemain di sini tuh komika seperti film-film komika pada umumnya, please jangan. Karena komedi yang ada di sini adalah yang muncul dari percakapan-percakapan yang biasanya muncul dalam keseharian. Malah kaget di sini semua komika yang terlibat bener-bener kasih akting dari yang ngga biasa kita lihat di media sosial, persona atau konten-konten mereka. Ada satu scene dimana masalah bener-bener ditunjukkan dalam satu percakapan panjang, semua anggota keluarga bicara mengenai pandangannya terhadap keluarga mereka secara bergantian dalam satu long take. Bayangin gimana dengerinnya, ada beberapa orang dalam satu ruangan gantian ngomongin masalah uneg-uneg yang selama ini mereka pendem, ya nanges lah akunya. Kirain cuma lagi nonton film, ternyata ngegambarin kisah dan masalahku juga wqwqwq sad

Gita Bebhita yang udah punya persona sendiri di kepalaku semenjak Keluarga Badak, di sini jadi buyar semua. Setelah scene di paragraf sebelumnya, dibikin kejer lagi nangisnya pas scene di belakang rumah ketika dia mencecar semua kakak dan adiknya dengan banyak pertanyaan, kekesalan dan kesedihannya sebagai anak perempuan yang juga sebagai penengah di banyak pihak.

SUMPAH YA
ITU
SAKITNYA
NYAMPE
KE SINI

Kesindir abis :)

Selain soal alur cerita yang ngga ketebak, suka banget sama tiap detailnya. Dari penggunaan bahasanya yang total Batak disesuaiin sama latar belakangnya, tampilan adat Bataknya, makanannya, musiknya juga dan yang paling nyenengin banget dikasih pemandangan-pemandangan bagus Danau Toba. Kayaknya bisa aku bengong seharian di bukit-bukitnya tuh saking bagusnya :')
Dan yang menariknya lagi, kita yang bukan berasal dari suku Batak bisa belajar tentang adat dan budaya suku Batak karena ada cukup banyak scene yang menjelaskan tentang ini dengan cukup enak diikutinnya. 

Suka!

Di tengah badai yang kuciptakan ini, rasanya aku tak cukup pantas jika sedikit saja barang merasa tenang atau bahkan senang. Tapi dia datang seakan menjadi jawab di setiap doa yang selalu aku rapal diam-diam dengan lantang. Aku hanya ingin merasakan kemudahan di tengah semua kesulitan-kesulitan yang ada, seperti itu dia dengan segala kemudahannya di tengah badai yang entah kapan akan segera hilang.

Aku tak pernah menghitung, tapi darinya aku seakan menerima kembali semua yang telah kuhabiskan pada yang sudah-sudah; bahkan lebih. Aku tak lagi merasa habis karena sering kehilangan, aku tak lagi merasa sedih karena banyak kesenangan yang hilang atau aku tak lagi merasa hampa melihat tulusku yang seringkali hanya berbuah sia-sia, tepatnya aku merasa lebih dari cukup merasakan diriku lagi. Dia menemukanku dan aku mendapatkan lagi diriku sendiri.

Seringkali aku merasa bersalah padanya karena sesekali masih merasa kecil hati menerima banyak cinta darinya sedang aku bahkan tak mempersiapkan diriku dengan baik kala menyambutnya datang, tapi seakan badaiku bukanlah hal yang besar, dia redam gemuruhnya dengan peluk yang tenang.

Selamat datang.

Tahun ini menjadi tahun dimana aku begitu menyakiti banyak orang, yang tentu saja baru bisa kusesali ketika ini sudah terjadi. Aku mematahkan semua hal baik yang selama ini kuterima, yang tentu saja baru bisa kuhitung ketika akhirnya aku kehilangan semuanya. Meski tak mengubah apapun, tak menyembuhkan luka siapapun, maafku yang hanya tersisa ini memohon untuk dapat bertemu mereka yang pengampun.

Pejam yang tak pernah temaram, riuh dengan arak-arakan kenangan dan ingatan. Aku berputar-putar dalam kepalaku, menghindar sebelum tenggelam di antara tumpukan peluk dan cium di banyak reka adegan. Sorot lampu tetangga berpendar di dinding kamarku, menarikku dari dekap gelap yang sibuk mengajakku menerka kemana hilangnya kamu.

Jadilah aku pukul dua dini hari ini, yang kembali mencari namamu dan berulang membaca semua pesanmu. Jadilah aku pukul dua dini hari ini, dengan jari yang sibuk mercerca dalam ruang bertuliskan namamu. Jadilah aku pukul dua dini hari ini, yang perlahan terisak membersihkan semua kalimatku. Jadilah aku pukul dua dini hari ini, yang patah lagi.


Suara di speaker sedikit bergetar, kita berdua saling beradu tatap seraya nama bandara lain disebutkan. Kamu tersenyum dan beranjak dari tempat dudukmu, ingin dekat jendela katamu. Kulihat kamu menjauh sedang lampu-lampu terlihat semakin jelas di landasan pacu. Malam itu kita akhirnya mendarat.

Kita bergeming di kursi masing-masing, menatap kegelapan di luar jendela yang entah dimana. Jika diingat di hari pertama kita memutuskan untuk terbang jauh, betapa banyak bawaan kita yang hilang hari ini. Turbulensi yang berulang seakan menghabiskan kenyamanan semua genggaman tanganmu, oksigen yang tak begitu melimpah juga mengeringkan senyum kita juga pagi dan malam yang menghampakan semua peluk.

Nyatanya kita hanyalah pemabuk udara yang memaksa terbang jauh, yang sepanjang perjalanan lebih sering menahan mual dibanding membicarakan hal-hal seru selama di tujuan. Sebelum rasa sakit menghabiskan semua bawaan kita, sebelum tangis memecahkan pesawat dan menghancurkan kita, di tengah mabuk luar biasa malam itu kita begitu penuh kendali.

Kita sudah terbang jauh meski tak sejauh yang kita tuju, mendarat dengan selamat meski banyak luka yang menganga hebat.

Aku masih ingat pagi itu dimana pisau terlempar dari dapur dengan tangis yang mengisi seluruh isi rumah tepat semalam kakak pertamaku pergi dikuburkan. Ibuku, dengan segala kecintaannya melepaskan tangisnya lagi setelah jalan pilihannya untuk pergi digagalkan pagi itu. Aku bahkan tak berusaha menahan air mata, seakan bagaimana hatiku pagi itu membekukan segala rasa sakit. Aku hanya terdiam, merasakan amarah yang hingga tubuhku tak mampu merasakan apapun. Aku membencinya sebanyak rasa cinta yang ikut dikuburkan semalam.

Aku ingin menjadi yang selalu ia butuhkan meski meninggalkanku adalah jalan yang ingin ia tempuh, aku ingin menjadi yang selalu disampingnya meski cintanya selalu mengarah di lain arah. Aku yang ia coba tinggalkan akan menjadi karma selama hidupnya.

--

Hari ini akulah tumpuannya, jika tak salah mengira.

Aku menanggung banyak hal secara materi, aku mendengar semua keluhnya, tangisnya ketika harinya dirasa berat bahkan hanya di depanku lah amarahnya bisa diluapkan meski bukan aku penyulutnya.

Kami memiliki jarak yang kami sendiri tau bagaimana mengendalikannya, jangan tanya bagaimana karena akupun tak tau bagaimana menjelaskannya. Kami tak beradampingan layaknya keluarga lainnya, tapi melihat bagaimana kami menyelesaikan masalah kurasa kami cukup pandai bekerja sama.

Beberapa kali ketika bangun tidur siang di akhir pekan aku melihatnya duduk di tangga teras rumah, sendiri menatap jalanan atau mungkin pohon yang dahannya mulai panjang menjuntai. Sering juga aku kaget sendiri ketika akan mandi sepulang kerja, ia duduk sendiri di kursi dapur. Entah itu sedang minum kopi atau menghabiskan sisa makanan hari itu.

Jarak seperti itu lah yang kubangun selama ini. Aku dan amarah keegoisanku di masa lalu memilih menarik diri dan menempati tempat teramanku sendiri, atau bahkan mungkin menjalankan semua kehidupan impianku dalam kepalaku sendiri, sedang ia dengan semua beban di pundaknya dan mungkin sudah berulang kali kehabisan tenaga dan ingin menyerah. Kami tak banyak bicara, sesekali ketika menggunjing tetangga atau bahkan saudara saja. Terakhir aku ikut bicara ketika mendengarnya mengeluh hanya berujung dengan rasa marah akan kesabarannya.

Ingin rasanya secara gamblang mendengar jika akulah yang dia inginkan keberadaannya, tapi melihat aku yang tak pernah juga bisa menyampaikan rasa sayangku padanya, aku memilih merasa cukup dengan hubungan kami saat ini. Aku selalu merasa bersalah dalam setiap kesendiriannya menjalani kehidupan kami, di setiap tangis yang ditahan berulang kali atau di semua titik sabarnya ditanam, aku memilih berada sendiri di kejauhan yang kuciptakan sendiri. Kuharap jalan tengah dalam jarak ini segera kutemukan sebelum kesepian membunuhnya dan meninggalkanku menjadi nyata.

Barangkali sedih menutup semua celah hatimu, juga bahagia yang masih seringkali kau pertanyakan wujudnya. Dalam hatimu berkecamuk segala bentuk gelisah juga amarah sementara terus hidup tetap kau pilih meski mengakhirinya adalah jangkauan terdekatmu. Mungkinkah itu sebabnya, senyummu yang begitu kusukai itu seringkali guratnya menggariskan rasa sedih?

Pun kesedihan menghabisimu nyatanya tak berhenti kehampaanmu terus mengisiku. Seringkali kupertanyakan sendiri dalam hati bagaimana kau melakukannya, menjadi dirimu saat ini; juga hatiku yang terang-terangan terus kau curi. Tak bisakah kau buat celah agar bisa kumengerti? Setidaknya aku tau jika nanti kamu datang lagi dan sedih masih terus rapat merengkuhmu hingga lagi-lagi kau putuskan untuk hilang dan pergi.

Jika nanti kau datang lagi, kutuliskan ini untuk suatu hari kau gapai ketika kau kan tenggelam dalam rasa sedih.

Jika kau ingin datang lagi, kepergianmu memang melukai tapi menyambutmu datang lebih kusiapkan setengah mati.

Jika kau datang lagi dan perasaanku masih tak juga cukup untukmu punya arti, jemariku masih selalu ada untuk kau raih.

Dan jika kesedihan terlalu memberatkan hati dan hanya tangis yang kau punya, kau hanya cukup temukan mataku dan aku kan menghampirimu meski harus berlari. Entah kemana lagi setelah ini, yang kutau bersamamu selalu banyak tempat bagus untuk disinggahi. Tempat yang selalu ada dalam mimpi-mimpiku, yang entah dimana itu mataku selalu berlabuh pada sosokmu.

Aku sudah lama tak menangisi kepergianmu, seakan hati punya kesibukannya sendiri untuk mengobati. Jikalah sempat kau tanyakan tentang perasaanku nanti, mungkin tak juga bisa kujelaskan meski ini adalah hari yang begitu kunanti. Kuutarakan perasaanku dan kau tau bagaimana perasaanku. Tapi rasanya hatiku cukup bisa menahannya, seluruh perasaanku tak cukup lapar memamah semua sedihmu. Kau tau kan bintang tak akan habis meski kuhitung semalaman? Seperti perasaanku yang tak pernah cukup meski kujelaskan, yang sudah kusiapkan jika nanti harus kutinggalkan.

Maka datanglah lagi meski sedihmu masih selalu utuh, meski pergi lagi adalah jalan yang nanti kau pilih. Aku terlanjur berjanji pada diri yang sejak awal selalu merasa kau buat penuh, untuk selalu di sampingmu hingga kau pulih.

Aku ingat itu Selasa karena seragam kantormu yang unik, pertama lagi kamu datang dan menjemputku tepat enam belas menit dari pukul tujuh. Teman seruanganku menggoda, aku setengah berlari sambil tersenyum menggelengkan kepala; ada-ada saja. Aku berhenti sejenak di cermin lobby kantor, merapikan rambut dan memastikan mataku tetap tenang tak menyiratkan kebahagiaan yang menjura.

Tak seperti biasanya, kamu menunggu di pinggir jalan malam itu yang kedip lampu sein mobilmu seakan seirama dengan degup jantungku. Aku menyapamu setelah banyak reka adegan di dalam kepalaku, entah percobaan nomor berapa yang keluar malam itu yang kuingat hanya wajah kuyu dan rambut yang lumayan panjang dari biasanya. Entah pula bagaimana hubungan kita ini diramu, malam itu sama hangatnya seperti hari-hari kita biasa bertemu.

Sejak Selasa itu namamu semakin sering kubaca lagi, bertukar video lucu sesekali, atau bingung memilih kedai minum kopi. Bohong rasanya jika aku tak menginginkan semua ini kembali seperti dulu, kita berjalan dan kamu menggenggam tanganku, berdiri di eskalator dan kamu bersandar di lenganku atau merangkul bahuku ketika aku merajuk kalah debat denganmu. Pun saat ini aku masih berharap itu terjadi lagi atau setidaknya kamu menggenggam tanganku lagi ketika kita sudah sampai di depan pagar rumahku. Sudah sekian pertemuan sejak Selasa itu tapi tak juga terjadi, lumayan kecewa tapi tak apa. Tertawa bersamamu cukup membuatku kembali bahagia. Mungkin lain kali.

Seakan sudah menjadi kebiasaan kita memilih kopi untuk menutup malam dari pembahasan-pembahasan kita soal kekonyolan di internet, video lucu, gosip kantor bahkan hidup dan keluarga kita. Tapi malam itu entah bagaimana kepalaku hanya menangkap satu nama, nama yang begitu cantik dengan cerita-cerita darimu dengan nada yang tak pernah kudengar sebelumnya, nada yang rasanya selalu kugunakan ketika keceritakan tentangmu pada teman-temanku. Aku menggodamu, menertawakan jawabanmu seakan gelak ini bisa menghilangkan sesak di dada.

Malam itu sesampainya di depan rumahku, kali pertama kamu bilang akan menghubungi jika sudah sampai kosan padahal biasanya aku yang selalu rewel minta dikabari. Aku mengernyit keheranan dan bilang hati-hati di jalan. Kamu bilang terima kasih sambil tertawa, aku juga.

Kutunggu pandangan mobilmu menghilang, aku menutup pagar meski akhirnya terduduk tepat setelah kukaitkan handle penguncinya. Sesak yang tadi masih ada bahkan kaki ikut-ikutan lemas tak kuat menahan gemetar lututku, aku menangis. Tak apa, aku hanya kaget terjatuh saat menutup pagar. Hari-hari yang kuhabiskan bersamamu masih selalu menyenangkan hingga saat ini.

Akhir-akhir ini rindu membawa banyak bebunyian yang sampainya baru ketika malam tiba, lebih riuh dari pekak bantingan telepon kantor di meja sebelahku atau pekik setuju ketika ada tawaran go-food kopi jam tiga sore. Kadang datang ketika mata baru memejam atau tak segan membangunkanku malam-malam. Seringkali aku akan hanya diam menatap apapun dalam kegelapan, tirai yang bergerak karena kipas angin, langit-langit kamar dan bias lampu jalanan yang menempel di dinding kamar.

Kupandang saja handphone-ku di sebelah mata meski kadang berakhir di tangan juga, tapi cukup melegakan aku masih selalu menang dari godaan mencari namamu di sana. Pejam tak lagi meredam, pura-pura tak mendengar juga riuhnya terlalu hingar bingar jadi aku mendengarkan lagu saja; dengan earphone volume penuh dan sesekali bernyanyi dalam gumam.

Mungkin aku akan sedikit beruntung jika menemukanmu dalam satu atau dua lirik lagu.

Aku paham betul, kamupun tak pernah memintaku barang sekali untuk merobohkan dinding sialan ini. Tapi suaramu yang lantang tiap kali memanggil namaku, dentuman dari tiap pukulanmu yang menggetarkan debu dari atas sana atau kerikil-kerikil yang kau lempar hingga menghujani kepalaku itu begitu tak bisa kuabaikan begitu saja. Belum lagi lubang kecil yang berhasil kau keruk berhari-hari dengan telunjukmu sepanjang percakapan-percakapan kita kala itu, pakai alasan saja ingin aku melihat jaket barumu.

Aku paham betul, lubang kecil itu tak lebih dari hasil kurang kerjaanmu sepanjang pembicaraan-pembicaraan kita. Tapi dari lubang itu, setitik cahaya memasuki ruangku. Awalnya aku mulai bisa melihat ujung-ujung jemariku, lalu bertambahnya jumlah dan diameternya semakin membuatku bisa melihat langit lagi; kebiasaanku pun berganti. Dulu aku bisa saja hanya bersandar sepanjang mendengarmu bercerita, mungkin sesekali berpindah posisi entah kanan-kiri atau kepala yang hampir sedekat ibu jari kaki, tapi hari ini entah mengapa langit yang tak seberapa luas kupandang ini begitu menenangkan dengan suaramu yang menjadi latar belakang.

Aku paham betul, bisa melihat langit lagi dan menemukan diriku kembali adalah satu hal yang harusnya mencukupkan aku. Aku begitu menyukai langit dan segala penghuninya, juga diriku yang sudah lama tak kusukai keberadaannya. Tapi tiba-tiba aku ingin melihat langit lebih luas lagi, aku ingin melihat sepatumu atau mungkin jaket-jaket barumu yang lain, aku ingin melihat matamu kala bercerita atau mungkin mendengarmu bernyanyi jika kamu tak lelah.

Aku paham betul, ketika akhirnya kamu bilang andai dinding ini tak ada atau mungkin lebih rendah lagi pagi itu kala bunga matahari sedang tinggi-tingginya di sana atau ketika hujan sore itu yang biasnya melahirkan pelangi, adalah kebingungan terbesarku sepanjang hari-hari kita. Hari itu aku aku memutuskan untuk menghancurkan dinding yang susah payah kubangun bersiap meninggalkan kegelapan paling nyaman.

Aku masih ingat bagaimana senyummu menyambutku hari itu, meski akhirnya aku hanya bisa memicingkan mata karena silaunya; entah karena senyummu atau langit yang terasa begitu luar biasa biru.

Aku masih ingat bagaimana kali pertama kulihat air matamu menetes, andai tak kamu pukul dinding malam itu aku juga tak akan pernah tau kamu tengah terisak ketika cerita dinding ini akhirnya sampai padamu, kamu bilang kamu paham betul mengapa akhirnya aku membangun ini semua namun aku hanya tak begitu paham mengapa kini kamulah alasanku membangun dinding ini kembali.

Kurasa memang cuma Malang yang hujan meski deras rasanya seperti gerimis manis yang biasa saja jika diterjang, sorenya yang dengan atau tanpa langit jingga kemerahannya masih begitu merona, atau segala bentuk manusia dan perasaannya yang kutemui di sepanjang jalan selalu bergerak lebih lambat dan sayang untuk dilewatkan. Pun kamu yang selalu membawaku melihat itu semua.

Kurasa dengan bermimpi untuk terus melihat itu semua bersamamu adalah satu dari bahagiaku. Rumah yang tak perlu taman luas pun tak apa asal ada pagarnya, anak-anak tetangga yang berebutan jambu air di depan rumah kita, atau pagi yang tergesa karena semalam kita saling membangunkan berujung bangun kesiangan.

Kurasa aku sudah cukup indah menggambarkan kamu dan Malang secara bersamaan, dengan rindu yang terus kau gaungkan sedang jarak tak henti kamu bentangkan. Malang masih seperti bait pertamaku meski tanpa kalimat terakhirnya, tak ada yang berubah hanya saja memang ada yang hilang. Kamu, juga perasaanmu yang entah apakah pernah ada itu.

Secara harfiah Idol  atau juga bisa disebut Idola adalah bentuk yang kita puja, tapi dalam hal ini aku akan berbicara dalam subjek manusia; kamu.

Aku masih juga mencari jawaban apa darimu yang begitu kusukai, meski hatiku sendirilah yang paling tau maunya apa. Tapi segala kemustahilan untuk memiliki apa yang kusukai dan itu adalah kamu, itulah yang selalu membuat isi kepalaku tiba-tiba sibuk menghitung jarak antara kenyataan dan harapan bersamamu. Jauh. Bukan jarak, tapi segala kemungkinan atas berhasilnya perjalananku ini.

Kamu, punya segala apa yang hatiku sukai; aku tahu itu. Tapi segala ketidakmungkinanku memilikimu hanya bisa membawaku pada labirin kecil yang tak ingin kucari jalan keluarnya. Aku terus berputar-putar demi terus berada dalam orbitmu, menjaga kesadaranku sendiri agar terus berada dalam batas perasaan ini karena aku tahu semakin aku mengagumimu semakin bertambah jarak ini.

Kamu, idola yang mengalihkan semua kepenatan hidupku tanpa panggung juga riasan. Yang cukup kehadiranmu dan semua percakapan juga nyanyian hingga depan rumahku adalah sejenak yang menyelamatkanku dari semua rasa sakitku. Separuh dunia yang kutau pun bahkan menyanjungmu, maka kurayakan kedekatan yang tak seberapa ini dengan tak lagi tamak utuh memilikimu.

Seseorang pernah bilang, aku ini seperti vending machine.

Apa yang mereka jelas inginkan terhadapku pasti akan kuberikan, namun sayangnya aku terlalu murah hati untuk ukuran vending machine yang selalu mempunyai harga di tiap barang yang mereka punya. Aku hanya cukup menerima kebaikan sekali lalu segalanya bisa kuberikan sebagai imbalannya. Aku tersentak, rasanya ini kali pertama aku mendengar hal seperti ini dan entah mengapa terasa begitu menyedihkan.

Aku tak penah menang akan kebaikan orang lain yang membuatku merasa diterima, mungkin itu sebabnya sekali aku merasa diterima aku bisa memberikan apapun agar tak pernah ditinggalkan nantinya. Tapi mendengar ucapannya aku tersadar, aku bisa kosong dan habis.

Mungkin itu mengapa semua orang pada akhirnya memilih pergi.

Pada akhirnya aku memang tak pernah menjadi tujuan siapapun, aku tak lebih hanya sebuah mesin pemenuh kebutuhan. Hanya menunggu waktu jika tak ada lagi yang bisa kuberikan lalu akhirnya ditinggalkan dan menunggu mereka kembali selagi aku memenuhi diriku lagi karena nyatanya aku bukan favorit siapapun; mereka terus kembali hanya karena aku memang tak pernah pergi kemanapun.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ►  2025 (3)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Juni 2024 (2)
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ▼  2022 (23)
    • ▼  Desember 2022 (1)
      • 180°
    • ►  November 2022 (2)
      • Kebetulan
      • Sudah
    • ►  Oktober 2022 (1)
      • Memilih Tertawa
    • ►  September 2022 (1)
      • hhh kgn
    • ►  Agustus 2022 (1)
      • Asa
    • ►  Juli 2022 (5)
      • Kuharap Kamu Terluka
      • Perjalanan
      • Decision to Leave
      • Paket
      • Ngeri-Ngeri Sedap
    • ►  Juni 2022 (2)
      • Selamat Datang
      • Maaf
    • ►  April 2022 (3)
      • Dua Dini Hari
      • Mendarat
      • Jalan Tengah
    • ►  Maret 2022 (3)
      • Janji
      • Hari yang (masih) Menyenangkan
      • Menemukanmu
    • ►  Februari 2022 (2)
      • Dinding
      • Malang
    • ►  Januari 2022 (2)
      • Idol
      • Vending Machine
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © Charitri. Designed by OddThemes