180°
Semalam, akhirnya kuberanikan diri menghubungimu lagi. Meski rasa rindu dan ego yang haus penjelasan akan alasanmu menyerah pada kita sudah habis memamah jiwa, nyatanya keberanianku semalam bukan karena itu. Membaca tulisan penuh candamu itu seakan mengoyak luka yang kuabaikan sakitnya. Bagaimana hal yang kau gaungkan sebagai alasanmu menyerah itu keluar sebagai canda, sedang aku hingga hari ini masih sibuk meyakinkan diriku untuk menerima luka.
Aku senang melihatmu baik-baik saja, sungguh. Meski tak banyak, aku masih berharap bisa menemukanmu seperti saat kita masih saling rindu. Bukan kamu yang malam itu, yang mengartikan keteguhanku semata-mata untuk melawan ibumu.
Kubaca berulang kali jawabanmu dan kutemukan kamu malam itu lagi, kamu yang tak pernah kukenali.

1 comments
“yang mengartikan keteguhanku semata-mata untuk melawan ibumu”
BalasHapusshit gila sih bener banget,kita cuma mau fight bukan mau ngajak ngelawan orangtua i feel you kak T-T