Charitri

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Butuh waktu yang tak sebentar untuk sampai kembali di rumah, tak sedikit juga doa untuk beberapa kesialan selama perjalanan; berharap siapapun membawaku pulang meski itu mobil ambulan. Tak bisa bersama hingga tujuan adalah satu hal, namun di tengah segala kebingungan dan kemarahan ini bagaimana ku bisa temukan lagi jalan pulang?

Butuh waktu yang tak sebentar untuk sampai kembali ke rumah, ku buka lagi pintu yang dulu pernah kututup dengan doa-doa bahagia diiringi isak bak ucapan "selamat datang di rumah".

Ada hari dimana aku terus ingin berduka, menangis mengasihani diri sendiri betapa hidup menjadi semalang ini. Ada juga hari dimana aku merasa aku pun harus bahagia, melewati hari dengan banyak perabot rumah yang berganti posisi demi menyibukkan diri. Berulang, esok, lusa, berulang lagi hingga ritme hidup kembali dikenali diri.

Pernah kucoba merunut kembali jalan yang pernah kita lalui, keindahannya menyesakkan hati. Kucoba jalan lain yang tak kalah indahnya, "andai kamu lihat ini" terus menggema di kepala. Lalu kukunci lagi pintu juga jendela.

Ada hari dimana  kulihat kamu datang, kuanggap itu sebuah kebetulan karena rasanya tidak mungkin jika kamu datang karena merasa kehilangan. Tak mungkin juga berteduh kan? karena kamu tidak sedang kehujanan, apalagi bertamu pada orang yang pernah kamu tinggalkan di tengah jalan. Pintu tak kubuka, rumah ini kembali berserakan saat aku datang, tawamu yang dulu menyeruak menyenangkan kini bergantian menghujam; menyedihkan.

Aku di dalam, barangkali kamu masih penasaran. Jejakmu hari itu pun sesekali masih kupandang, lekat dan dalam. Masih berantakan, rumah pun aku juga yang di dalamnya; barangkali juga pencapaian ini yang menurutmu menyenangkan untuk didengar.

Sebab aku tahu, jatuh cinta bukan hanya tentang debar yang tertinggal meski sudah sekian setelah jumpa, beberapa video dan foto kucing untuk memulai sapa bertukar tawa, atau yang tiba-tiba ingin bercanda sampai menepuk kepala manja karena saking gemasnya.

Maka aku sedang tidak jatuh cinta.

Aku hanya merindukan saat-saat bepergian denganmu, merunut wisata dengan kaleng-kaleng bir dan lagu-lagu kesukaan kita. Mencari kedai kopi dengan pemandangan senja yang selalu kita suka untuk berbincang tentang apa saja.

Aku hanya suka membayangkan melihatmu yang fokus di belakang kemudi dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan konyolku agar kamu tertawa sebelum menjawabnya, yang barangkali nanti malam masih menyisakan tawa ketika kamu mengingatnya sebelum tidur, lalu mengirimkan foto segelas kopi buatanmu besok pagi.

Aku tidak jatuh cinta. Kurasa hanya sedikit kurang lengkap, kurang penuh sebuah hari jika kamu tidak hadir dalam notifikasi. Biasanya aku akan mulai sibuk menimbang lagi, menimang hati yang perlahan dipeluk sedih. Tentu saja hariku masih berjalan seperti biasa, meski memang rasanya lebih mendung dari biasanya.

Percayalah, aku tidak jatuh cinta.

Tidak jika kamu tak merasakan hal yang sama.

Hari ini terik, dan seakan matahari menjadi lebih lambat turun saat kemacetan menahanku di tengah perjalanan pulang. Sudah delapan lagu di It Won't Be Soon Before Long tapi kemacetan tak juga terurai, tak masalah juga karena ini album terbaik Maroon 5; menurutku ya.

Menurutmu juga.

Aku suka langit sore. Aku suka mengabadikan semua jingga dan merah mudanya, meski sejujurnya aku lebih suka foto langit sore hasil jepretanmu. Di tanganmu, menghilangnya jingga dan merah muda seakan menjadi lebih dramatis dan manis. Kuarahkan lagi ponsel menengadah menghadap senja, kali ini sebuah video dengan perlahan zoom in namun dengan lagu latar yang sedikit kusayangkan.

Now waking up is hard to do
And sleeping's impossible too
Everything's reminding me of you
What can I do?

Petang sudah datang, dua kilo lagi sampai rumah. Kupesan sate di tempat kita biasa makan sepulang kerja, tentu saja punyaku dengan extra bawang merah. Apa kukirim kamu pesan saja untuk tanya harga bawang merah di pasar Wiyung berapa, ya?


Kuambil ponselku.

Kuch Kuch Hota Hai kalo syuting di Jepang judulnya jadi apa? Kuch Kuch Honda Hai eheheheh-
    Hapus.

Lembur?-
    Hapus.

Kulihat notifikasi namamu mengunggah sebuah cerita, cerita kekesalanmu kehilangan satu airpod kananmu.
    
    Balas.

Hilang lagi? Sathu dhuwa Irfan Bachdim, Astaghfirullahaladzim.
    Hapus.

Kangen-
    Hapus.


Pesananku sudah terbungkus rapih, kuletakkan di kursi sebelah kiri tapi akupun seakan enggan untuk menggerakkan kemudi.


[sent a photo]
Hari ini langitnya cantik banget!

    Terkirim.

Anggap saja kemarin kita berkelana dengan balon udaramu. Kita berada di ketinggian yang sama dengan terpaan angin yang sesekali membuat kita memejamkan mata, terengah kala mencari arah saat mengejar matahari yang siap menorehkan jingga, juga nyanyian-nyanyian baru yang sibuk kuhapalkan liriknya.

Barangkali semalam kita terlalu tinggi hingga perjalanan turun terasa begitu melelahkan, entah aku yang mulai menikmati ketinggian atau sebenarnya aku tak suka mengucap kalimat perpisahan. Hingga kulihat sekawanan kupu-kupu menghampiri, seakan menyambutku menginjakkan kaki di daratan membuat perpisahan tak pernah semenggilitik ini.

Kulihat mereka mulai berangsur pergi, barangkali kembali bersama ayunan angin balon udaramu yang beranjak tinggi. Teringat ini sebuah perpisahan hatiku memberat seakan kelebihan sendu, sekawanan kupu-kupu tadi ternyata terbang memenuhi dada dan perutku.

Jika nanti ketinggian menjadi terlalu sepi untukmu dan daratan sudah menjadi tujuan pulangmu, kau tahu kemana harus melintas dan berlabuh; di titik koordinat saat kau tinggalkan sekawanan kupu-kupu padaku.

Doa indahmu atas diriku bak sebuah perjudian dengan segala kebetulan. Pesan pendekku bak jawaban yang menyelinap dalam mimpi di sepertiga malam. Barangkali keruh hatiku meredam jernih rasamu, riuh kepalaku menutup suara panggilanmu, sedang riang sambutmu masih terasa mengganggu.

Dan jika tak sedang dikejar waktu, senang jika kamu mau berlama-lama menunggu.

Jika sudi menarik kembali kita di sore awal bertemu, aku masihlah wanita yang dipenuhi banyak ragu. Bukan pada pandangan pertama, bukan pula langsung suka sejatuh-jatuhnya; sepenuh hatiku yang penuh cinta ini adalah buah dari waktu-waktu yang kita habiskan bersama.

Maka mengertilah, jika maafmu tak cukup membuatku seketika sembuh atau rasa bersalahmu tidak pula cukup membuatku lalu luluh. Pun hatiku, yang lukanya tak akan cukup satu tangisan untuk sembuh. Pun diriku, semampunya melewati waktu untuk kembali menjadi utuh.

Barangkali saat ini memang hatiku seluas-luasnya hatiku sejak dulu. Isinya berjejal segala bentuk rasa yang entah kapan dan bagaimana mereka menunjukkan wujudnya suatu hari nanti. Di kala kurasa mereka berdesakan di dalam sana, seakan hidupku justru di tengah tornado yang hanya terasa hening dan asing. Berjejal desak berlarian, mereka berputar seakan terburu untuk minta kurasakan. Yang semakin kencang mereka berputar semakin hening tubuhku menerima putaran rasa ini. Seringkali aku hilang dalam kepalaku, bak teleportasi dalam semua sinema luar negeri, kepalaku sungguh sering di luar kendali.

Satu waktu aku bisa menghabiskan waktu dengan berlari atau berjalan bak atlet lari, yang waktu bekerja lah yang bisa menjeda. Satu waktu aku bisa menghabiskan waktu dengan memilih banyak makanan, yang hanya bisa dihentikan oleh perutku yang menolak terus dijejal makanan. Satu waktu aku bisa mengabiskan waktu untuk terus bekerja, yang setiap kurasa lelah aku hanya cukup menutup mata. Satu waktu aku bisa menghabiskan waktu untuk tidur, yang setiap terbangun aku hanya akan meraih obat flu yang lain. Satu waktu itu adalah masa hening di tengah tornado rasaku, satu waktu itu adalah masa bertahanku, saat semua rasa berlomba untuk dirasakan, saat hidup dan diriku ingin diselamatkan.

Demi Tuhan, ini sungguh memuakkan.

Dia samarkan rasa bersalah lewat doa-doa agar akupun segera menemukan bahagia, seperti dirinya yang tengah merayakan cinta barunya. Lalu, apa pesta perayaan cinta barunya kurang meriah jika tanpa aku yang tengah ikut berpesta? Melupakan luka untuk sekedar mengucap selamat dan semoga bahagia?

Lalu sampailah aku dalam menghadapi segala kebohongan-kebohongan itu tak lagi membuatku marah, setengah mati rasanya mencari tau apakah nyata cinta ini benar ada atau sebatas aku yang kamu letakkan dalam diorama. 

Bagaimana rasanya, melihatku yang penuh cinta dibalik kotak kaca?

Bagaimana kelihatannya, aku yang hancur masih kau tanya lagi  perasaannya?

Dusta dan nyata kini tak terlihat ada beda, terus memaksa membedakannya tak menghilangkan fakta bahwa aku pun sudah terluka. Terbaik hatiku sudah kuberikan, meski ternyata semua berakhir dalam kebohongan yang semoga aku tak pernah berkubang dalam penyesalan. Sembuhlah dengan orang baru, sembuhku biar menjadi urusanku. Pun aku tidak berencana untuk memaksa diri terlihat baik-baik saja, kuungkapkan sakitku jika memang masih terasa. Jika sakitku masih menghidupkanmu dalam rasa bersalah, maka terimalah untuk hidup di dalamnya.

September ini, bapak 68 tahun. Raganya sudah banyak lemahnya, daya ingatnya sudah banyak lupanya, bicaranya pun sudah lebih sering hilang kosa katanya.

Dua minggu setelah Lebaran, saat hati masih begitu angkuh memeluk ketegaran, malam sekali kuhampiri bapak di kamar dengan insulin yang siap disuntikkan. Yang biasanya hanya sedikit terbangun, malam itu membalikkan badannya tepat ke hadapan.

Namanya, adalah kata pertama yang bapak ucapkan. Nama yang sedang ingin kulupakan, bapak sebut perlahan. Bapak tanya apakah aku pulang larut dengannya, kuangguk kepalaku sekenanya. Bapak harusnya lupa saja, ingatan bapak tentangnya sudah tak akan ada lagi kenangannya. Harusnya bapak lupakan saja.

Barangkali isi kepalaku saat ini adalah bapak yang sehari-sehari. Yang kapan saja percikan ingatannya begitu melemahkan, yang mencegahnya pun tak akan bisa diupayakan.

Pagi ini pintu kamarku digoyangnya kencang, aku beranjak cepat kukira minta dicarikan acara tv yang sedang tayang. Ternyata, ingatan tentangnya kembali datang. Pagi ini bapak lupa namanya, bapak tanya mengapa dia lama tak datang ke rumah.

Bapak, aku sedang mengusahakan rela jadi bapak bisa mulai untuk lupakan segera ya.

Ada beberapa hal yang entah bagaimana kerasnya ingin kudapatkan hanya berakhir menjadi lipatan kecil di sudut hati. Sudah menyerah, tak juga ingin membuangnya, hanya ingin dia tetap terlihat dan meninggalakn setitik harapan suatu hari entah itu kapan dia akan hidup atau dihidupkan kembali; olehku sendiri atau orang lain. Ketenangan.

Barangkali karena memang sudah menyerah, aku sudah tidak tertarik mengejarnya. Sesekali teringat meski langsung tersadar untuk berhenti mendekat. Pun ketika itu ada pada diri yang berwujud, kecil hatiku sekuat hati menjauh.

Namanya Tenang, sesuai hidupnya; setidaknya itu yang kugambarkan. Dia tak keberatan mendongakkan lehernya sepanjang film yang ingin kutonton hari itu, tak apa katanya film-nya seru. Aneh kan, andai aku yang beli tiketnya aku pasti pilih jam selanjutnya. Tapi begitulah kami berdua, hari pertama sudah terlihat berbeda.

Tenang mengajariku berenang. Di dalam air, hidup kami berdua jelas terlihat tidak seimbang.

Tenang dan hidupnya seperti lipatan kecil di hatiku, lipatan kecil yang diam-diam masih kudoakan untuk kembali hidup. Bersamanya aku menjadi kerdil, besar hatinya menggerus hatiku semakin kecil, sejenak kudambakan apa yang bisa kupertaruhkan agar suatu saat nanti hidupku yang riuh ini akan menenang dalam tangannya yang penuh andil.

Hidupnya adalah lautan dengan ombak yang tenang, sedang aku adalah badai yang siap kapanpun menerjang. Ingat saat kubilang dia mengajariku berenang? Ada satu waktu aku hilang seimbang dan hampir tenggelam, kugapai apapun tapi tak kudapatkan satupun meski akhirnya satu tarikan tangannya menolongku ke tepian. Rambutku menutup seluruh wajahku, kubiarkan agar tak terlihat marahku. Dia bilang aku kurang tenang saat akhirnya berani kutatap matanya, dan entah bagaimana takut dan marahku seketika mereda. Dia begitu menguasai diri dan hidupnya, sedang aku adalah gegabah yang terus membuat ulah.

Suatu pagi dia bertanya bagaimana tidurku, kubilang cukup nyenyak meski tak ada suara kipas atau anak-anak yang berteriak. Dia tertawa, menganggapku aneh. Tapi akupun merasa cukup aneh, dua malam di keheningan rumahnya seakan membungkam seluruh riak ombak di kepalaku. Satu malam aku tersadar, kami duduk dalam satu ruangan tanpa obrolan yang panjang. Dia dan dunianya, aku dan duniaku yang riuhnya seakan luruh. Lipatan di hatiku seakan menggeliat membuka dirinya, menggoda untuk dihidupkan segera.

Kecil hatiku seakan kembali menarik diri menjauh, bagaimana jika badaiku membuat tenang lautnya berombak dan mengeruh? riuhku mengganggu dan hadirku menantang bersiteru? Mungkin memang sebaiknya aku bergegas pulang. Terima kasih ya sudah merawat badaiku merasakan tempat yang tenang.

Jika tak salah hitung, saat itu lima jam sebelum takbir Lebaran. Tak pernah kubayangkan melihat diriku hancur di tengah hingar bingar Kemenangan. Tangisku tak kalah berisik beradu dengan takbir anak-anak yang memekik, sedang ibuku tak berhenti bertanya kemana kamu dan keluargamu pergi mudik.

Semalaman kubaca ulang percakapan terakhir kita, perdebatan panjang yang tak kumenangkan hingga beberapa pesanmu yang berulang untuk minta dimaafkan. Sudah kumaafkan meski besok bukanlah Lebaran. Entah ini karena memang betul bentuk perasaan atau hanya sebuah penghiburan, kamu tawarkan diri dan waktu jika nanti barangkali aku butuh bantuan. Terima kasih, tapi hari ini aku sudah cukup menyedihkan.

Hari itu hari Lebaran, butuh waktu yang lama untuk bisa melangkah keluar kamar dengan nyaman. Tangisku sudah pecah meski belum mulai sungkeman, air mataku terus menghapus riasan. Ibu tanya kamu datang kapan, sepupu tanya bisa dikenalkan kapan, sisanya memeluk mendoakan. Andai kamu tahu bagaimana di rumah ini kamu begitu dirayakan, apa kamu masih tetap ingin meninggalkan?


Kupahami lagi keputusanmu tak ingin lagi bertahan, meski aku juga tak begitu paham kompromi mana dariku yang kamu rasa memberatkan.

Mungkin karena hari itu Lebaran, hatiku seakan menjadi begitu lapang.

Mungkin karena hari itu Lebaran, air mataku tertahan oleh banyaknya senyuman.

Mungkin karena hari itu Lebaran, kekalutan hatiku mereda tenang.

Mungkin karena hari itu Lebaran, aku melepasmu meski kepala masih penuh dengan banyak pertanyaan.


Entah bagaimana aku setelah Lebaran.


Entah dari mana akhir ini bermula, pinta yang sering kau anggap amarah atau diam yang kau balas dengan biar. Anggap saja pernah kita berdua bahagia, mesra bersamaku membuat hatimu penuh dengan sesak yang nyata, meski rasa yang terus tumbuh padaku ini adalah cinta tetap kau minta kumatikan dengan paksa. Anggap saja pernah kita berdua bahagia, sebaik-baik memulainya selesaipun kuusahakan aku akan baik-baik saja.

Tak apa, setidaknya salah satu dari kita bahagia.

Setidaknya, luka ini tak menjadi sia-sia.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ►  2025 (3)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ▼  2024 (13)
    • ▼  Desember 2024 (1)
      • Pencapaian
    • ►  Oktober 2024 (1)
      • Sama
    • ►  Agustus 2024 (2)
      • Terkirim
      • Balon Udara
    • ►  Juli 2024 (5)
      • Tunggu
      • Beku
      • Muak
      • Jenaka
      • Fatamorgana
    • ►  Juni 2024 (2)
      • Ingatan
      • Tenang
    • ►  Mei 2024 (2)
      • Lebaran
      • Bahagialah
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ►  April 2022 (3)
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © Charitri. Designed by OddThemes