Pencapaian

Butuh waktu yang tak sebentar untuk sampai kembali di rumah, tak sedikit juga doa untuk beberapa kesialan selama perjalanan; berharap siapapun membawaku pulang meski itu mobil ambulan. Tak bisa bersama hingga tujuan adalah satu hal, namun di tengah segala kebingungan dan kemarahan ini bagaimana ku bisa temukan lagi jalan pulang?

Butuh waktu yang tak sebentar untuk sampai kembali ke rumah, ku buka lagi pintu yang dulu pernah kututup dengan doa-doa bahagia diiringi isak bak ucapan "selamat datang di rumah".

Ada hari dimana aku terus ingin berduka, menangis mengasihani diri sendiri betapa hidup menjadi semalang ini. Ada juga hari dimana aku merasa aku pun harus bahagia, melewati hari dengan banyak perabot rumah yang berganti posisi demi menyibukkan diri. Berulang, esok, lusa, berulang lagi hingga ritme hidup kembali dikenali diri.

Pernah kucoba merunut kembali jalan yang pernah kita lalui, keindahannya menyesakkan hati. Kucoba jalan lain yang tak kalah indahnya, "andai kamu lihat ini" terus menggema di kepala. Lalu kukunci lagi pintu juga jendela.

Ada hari dimana  kulihat kamu datang, kuanggap itu sebuah kebetulan karena rasanya tidak mungkin jika kamu datang karena merasa kehilangan. Tak mungkin juga berteduh kan? karena kamu tidak sedang kehujanan, apalagi bertamu pada orang yang pernah kamu tinggalkan di tengah jalan. Pintu tak kubuka, rumah ini kembali berserakan saat aku datang, tawamu yang dulu menyeruak menyenangkan kini bergantian menghujam; menyedihkan.

Aku di dalam, barangkali kamu masih penasaran. Jejakmu hari itu pun sesekali masih kupandang, lekat dan dalam. Masih berantakan, rumah pun aku juga yang di dalamnya; barangkali juga pencapaian ini yang menurutmu menyenangkan untuk didengar.

0 comments