Tenang

Ada beberapa hal yang entah bagaimana kerasnya ingin kudapatkan hanya berakhir menjadi lipatan kecil di sudut hati. Sudah menyerah, tak juga ingin membuangnya, hanya ingin dia tetap terlihat dan meninggalakn setitik harapan suatu hari entah itu kapan dia akan hidup atau dihidupkan kembali; olehku sendiri atau orang lain. Ketenangan.

Barangkali karena memang sudah menyerah, aku sudah tidak tertarik mengejarnya. Sesekali teringat meski langsung tersadar untuk berhenti mendekat. Pun ketika itu ada pada diri yang berwujud, kecil hatiku sekuat hati menjauh.

Namanya Tenang, sesuai hidupnya; setidaknya itu yang kugambarkan. Dia tak keberatan mendongakkan lehernya sepanjang film yang ingin kutonton hari itu, tak apa katanya film-nya seru. Aneh kan, andai aku yang beli tiketnya aku pasti pilih jam selanjutnya. Tapi begitulah kami berdua, hari pertama sudah terlihat berbeda.

Tenang mengajariku berenang. Di dalam air, hidup kami berdua jelas terlihat tidak seimbang.

Tenang dan hidupnya seperti lipatan kecil di hatiku, lipatan kecil yang diam-diam masih kudoakan untuk kembali hidup. Bersamanya aku menjadi kerdil, besar hatinya menggerus hatiku semakin kecil, sejenak kudambakan apa yang bisa kupertaruhkan agar suatu saat nanti hidupku yang riuh ini akan menenang dalam tangannya yang penuh andil.

Hidupnya adalah lautan dengan ombak yang tenang, sedang aku adalah badai yang siap kapanpun menerjang. Ingat saat kubilang dia mengajariku berenang? Ada satu waktu aku hilang seimbang dan hampir tenggelam, kugapai apapun tapi tak kudapatkan satupun meski akhirnya satu tarikan tangannya menolongku ke tepian. Rambutku menutup seluruh wajahku, kubiarkan agar tak terlihat marahku. Dia bilang aku kurang tenang saat akhirnya berani kutatap matanya, dan entah bagaimana takut dan marahku seketika mereda. Dia begitu menguasai diri dan hidupnya, sedang aku adalah gegabah yang terus membuat ulah.

Suatu pagi dia bertanya bagaimana tidurku, kubilang cukup nyenyak meski tak ada suara kipas atau anak-anak yang berteriak. Dia tertawa, menganggapku aneh. Tapi akupun merasa cukup aneh, dua malam di keheningan rumahnya seakan membungkam seluruh riak ombak di kepalaku. Satu malam aku tersadar, kami duduk dalam satu ruangan tanpa obrolan yang panjang. Dia dan dunianya, aku dan duniaku yang riuhnya seakan luruh. Lipatan di hatiku seakan menggeliat membuka dirinya, menggoda untuk dihidupkan segera.

Kecil hatiku seakan kembali menarik diri menjauh, bagaimana jika badaiku membuat tenang lautnya berombak dan mengeruh? riuhku mengganggu dan hadirku menantang bersiteru? Mungkin memang sebaiknya aku bergegas pulang. Terima kasih ya sudah merawat badaiku merasakan tempat yang tenang.

0 comments