Charitri

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Entah berapa malam kuhabiskan mengawang di gelap remang kamar, merapal banyak tanya yang tak ada habisnya. Suaranya sesekali kudengar, seakan menyelamatkan.

Entah berapa panjang jalan yang kususuri demi mengulur kepulangan, meracau seakan aku kesal salah jalan. Suaranya sesekali kudengar, seolah menyadarkan.

Entah berapa pelarian yang kurencanakan, genggam tangannya begitu menguatkan.

Di tengah betapa aku yang menyedihkan ini, kurayakan kamu dengan kembali menghiasi diri.

Pernah sekali kubayangkan bagaimana kematian adalah jalan termanis dari gelapnya pagi.

Jauh dari pagi itu, aku sudah merasa kehilangan hidup.

Tapi dari pagi itu, aku begitu menginginkan untuk terus hidup.

Di kali pertama kupikirkan tentang kematian, satu-satunya yang tergambar di kepalaku saat itu adalah bagaimana keadaanku nanti ketika aku mati. Aku hanya ingin mati ketika pada akhirnya aku sudah hidup di hidupku sendiri, aku hanya ingin mati ketika aku sudah merasakan kebahagian yang kuinginkan; karena aku hanya tak ingin mati dalam kematian yang menyedihkan.

Lelah bisa kulupa dengan lampu-lampu kota pulang kerja, sedih bisa kumamah habis dengan tangis atau jengah yang seringkali kuteriaki dengan sumpah serapah. Barangkali malam ini hatiku sudah tak bisa kutipu lagi, barangkali kepalaku sudah tak lagi meredam pekak riuhnya tanya di dalamnya atau barangkali aku sudah benar-benar kehilangan cara bagaimana agar hidupku tak lagi menyedihkan nanti; malam ini aku sungguh ingin tidur dan tak ingin bangun lagi.

Ada kalanya aku sengaja berlama-lama hingga kepulan asap rokok bapak sebelah menerpa ujung hidungku. Menyenangkan, seolah menemukanmu di tengah sibuk hariku.

Aku menyukai bagaimana aku sedikit banyak menyerap banyak kebiasaanmu, misal tetiba terbahak sendiri mendengar ujung lagu yang kugubah dengan kata-kata lucu. Atau, tempat-tempat baru yang kita kunjungi, bertaruh kecewa barangkali tak sesuai ekspektasi. Menyenangkan ternyata, merayakan tak sesuainya ekspektasi jika tak sendiri. 

Aku jatuh cinta pada diriku saat ini, yang lama tak pernah kulihat dia sebahagia ini.

Aku menikmati gelap kamarku dengan sebuah ringkukan yang dalam, bak garis finis di berbagai lomba lari. Aku juga selalu menyukai suaramu di tengah meriahnya garis finisku,  seperti riuh sorak yang siap menyelamati.

Aku banyak menahan ramainya isi kepalaku hari ini, susah payah agar tak sampai hati. Mungkin itu mengapa garis finisku hari ini terasa begitu jauh, terdengar soraknya tapi entah mengapa terdengar kurang riuh.

Kurayakan juga meski tak meriah, garis finis malam ini kurayakan dengan mata yang basah.

Barangkali jika aku menggangguk siang itu saat kau pastikan keadaanku yang sedang marah, apakah hari ini kita masih bisa saling menguatkan?

Siang itu semua masih begitu menyenangkan, aku menunduk setengah sadar sedang kamu terlihat tegang dengan mata yang penuh ketakutan. Sepanjang jalan aku masih hilang sadar, seakan apa yang baru kita hadapi beberapa menit lalu tak juga mengembalikan kesadaranku. Bahkan dengan memacu kendali yang masih terus bisa kau imbangi, aku masih tak juga tau apa yang sedang kuhadapi; apa yang nanti akan kita hadapi.

Perutku mengerang saat meringkuk di balik pintu siang itu, kuharap kalian tak mendengarnya di luar sana. Pun saat kita akhirnya duduk berdua, kuharap kau juga tak mendengar betapa ramai dan kencangnya isi kepalaku.

Aku tak marah, sungguh. Aku hanya menghindari matamu dimana banyak ketakutan yang akupun sendiri tak bisa menenangkannya. Aku hanya mencoba menenangkan diriku sendiri, mencoba menelaah apa yang sedang terjadi dan bagaimana aku tak berusaha menebak apa yang akan selanjutnya terjadi. Aku hanya ketakutan, betapa kehilanganmu sepertinya menjadi jawaban yang paling mendekati kita.

...

Dan barangkali jika aku sudah cukup tenang esok harinya dan berusaha baik-baik saja hingga kau tak merasa terabaikan, apakah hari ini kau akan lebih bisa memaafkan?

Surat pertama untukmu, sayang, tentang beberapa hal yang harus kamu ingat. Boleh nyalakan rokokmu ketika membaca ini, sebatang saja ya karena aku tak ingin paru-parumu terbakar lebih cepat dari paru-paruku. Masih ingat kan kalau ingin bersamaku sampai tua?

Pertama, aku mencintaimu. Yang semoga tanpa mengenal masih yang kapan saja bisa habis atau tanpa tetap yang menyiratkan luka meski bersama. Ya, aku mencintaimu dan kudoakan ini akan menjadi selalu.

Kedua, bahwa kamu istimewa. Lebih istimewa dari jam tidurku, yang kupotong demi menunggu obrolan kita sebelum tidur. Lebih istimewa dari kesibukanku, yang kucari banyak celah untuk menundanya demi genggaman tangan setelah makan malam sepulang kerja. Lebih istimewa dari semua percakapan seru di sekitarku, yang kuabaikan saat kamu susah ditemukan. Pun lebih istimewa dari air mataku, yang rela kubuang saat takut kehilanganmu.

Ketiga, aku menyukai semua hasil fotomu. Aku menyukai bagaimana kamu bisa hilang dalam layar gawaimu saat menyimpan kenangan, menyimpan kita meski belum pernah dalam satu bingkai.

Lalu keempat, bahwa aku menyukai kita, yang memiliki aku dan kamu di dalamnya. Bagaimana kita bicara banyak hal dengan kopi kesukaan kita, bagaimana kita bergantian bernyanyi lagu-lagu random, bagaimana kamu dan jokes-mu yang sesekali membuatku terbahak atau bagaimana rayuanmu yang seringkali membuatku hilang kata.

Sayang, surat ini sudah hampir sampai di penghujungnya jadi tak perlu menyalakan lagi rokokmu. Memang sederhana karena hanya ada beberapa hal saja, semoga masih ada beberapa hal lainya yang selalu membuatmu jatuh cinta; syukur-syukur bisa membuatmu berkaca-kaca, kalau pun juga tidak bukanlah masalah. Barangkali nanti, jika kamu merasa ragu atau merasa hidupmu kurang utuh bacalah lagi beberapa hal ini, lalu berjalan lagi.

Jaga kesehatan ya, karena aku mencintaimu.



with passionate hugs,

F.

Pagi itu,

Aku merasa kehilangan sesuatu.

 

Mataku terus bergerak pada banyak arah

seolah kesulitan mendapatkan fokusnya.

Kuseduh kopi pagiku, kali ini aku ingin terasa manis.

Tak kurasakan manis yang kuingin

hingga gelas itu hanya berakhir dengan dingin.

 

Kakiku terus beranjak

sedang kepalaku kupaksa untuk terus terisi

Aneh sekali, meski begini

lelah tak juga menghampiri.

 

Bahkan aku tak ingat

jika ada dering gawai yang selalu aku jawab dengan cepat

saat jam dua belas tepat.

 

Pagi itu,

Kulihat diriku di dalam kaca,

tak menemukannya

Dan pantulan di dalamnya

tak mengingatkanku pada apa-apa.

Di sore yang bersih dari mendung,

kita duduk berhadapan dan sesekali menatap

aku memandang jauh matahari yang hampir menghilang

saat kamu sibuk menata letak gelas-gelas kita.

Mata kita kembali bertemu,

saling tersipu dengan kehangatan yang penuh.

Kita, bertemu lagi

di sore yang sama saat pertama jatuh hati,

Kita, tersenyum lagi meski kali ini

datang lagi untuk mengakhiri.

Kita, sudah begitu dipenuhi dengan kesiapan hati.

Di sore yang belum pernah terjadi.

Sebuah tawa kecil yang riuh datang,

mengetuk pintu dengan gelak yang susah kutolak.


"Berteduh atau bertamu?", tanyaku.

Sebab ruangku masih penuh serakan yang entah kapan selesai dibersihkan.


"Kalau pintu masih bisa dibuka, kan?", jawabnya menggoda.


Kupersilahkan dan sekarang tawanya menyeruak memenuhi ruangan, menyenangkan. 

Hingga sampai juga kita di malam seperti ini, memandang api unggun yang sama meski tak saling bersebelah. Malam menahan kita hingga kerumunan berubah menjadi sepi, meninggalkan kita dengan baranya yang kian mereda.

Bukankah api unggun itu semakin terlihat seperti kita?

Ada kalanya dulu saling bergantian mengambil kayu demi menjaga apinya, mengusir dingin dengan saling menghampiri dengan tangan penuh ubi. Karena kita berdua tau, memandangnya saja tak membuat bara menang dari dingin malam.

Hingga sampai juga kita di malam seperti ini, memandang api unggun yang sama meski tak lagi bersebelah. Sesekali bertemu tatap seolah menunggu siapa yang lebih dulu membuat dingin tak lagi ingin menetap, entah dengan kembali menyalakan api atau bersiap pergi.

"Tentang Nala dan hati yang sedang berbunga"

Saat itu Mei, di mana aku tak begitu menginginkan hadiah lain selain badai yang kudoakan cepat pergi. Dia bertanya aku ingin hadiah apa, dan entah bagaimana pertanyaan itu mengembalikan banyak warna.

"Malam nanti ada janji yang ditunggunya, dipilihnya baju terpantas dan bergaya, tak sabarnya ingin segera malam tiba"

Malam itu di penghujung bulan, kami sepakat berjalan beriringan. Dia punya tujuan, sedang aku masih seringkali merasa ketakutan; takut jika nantinya badai ini menarikku lebih kuat dari genggaman tangannya, takut jika semua kemalanganku hanya akan mengecilkan rasa. Barangkali karena peluknya yang penuh asa, aku memberanikan diri menghadapi badai ini dengan banyak bunga darinya. Barangkali karena tawanya setiap menceritakan tujuan kita, aku mulai tak sabar ingin segera tiba.

"Tujuh tepat, pesan singkat diterimanya.
Kabar dari yang ditunggu jadi tak bisa, tak bisa bertemu"

Dua hari itu adalah dua hari yang paling menakutkan bagiku, merajuknya ternyata juga minta waktu. Kukira satu dua hari lagi akan cukup, ternyata hanya semalam untuk mengakhiri perjalanan ini dalam dua paragraf. 

"Lama Nala merasa sulit disuka, bagi Nala malam ini istimewa.
Sedih dia kembali masuk kamarnya. Tentang Nala dan kemurungan hatinya"

"Nala figur sederhana, tak ramai kelilingnya, '92 lahirnya.
Hari besar baginya bila melihat benih cinta.
Bagi Nala, itu langka"

"Lalu Nala mengirim singkat sebuah pesan.
Kepadanya, Nala bertanya:
"Kapan ada waktu lain lagi?""

Dua paragraf itu tak membuatku cukup, bagiku dua paragraf itu nyatanya hanyalah asal penutup. I always tell the truth? apakah itu sekarang hanya sebagai motto hidup? Kebingungan-kebingunganku malam itu hanya menyisakan dirinya dan amarah, memaksa harus menerima untuk tak lagi bersama meski perasaan kami sama. Demi tujuan yang lama kami tata, di tengah gemuruh amarah di dadanya, aku sedikit memaksa:
"Bukankah kita masih belum coba banyak cara?"

--
#30hbc2305
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ►  2025 (3)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Juni 2024 (2)
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ▼  2023 (11)
    • ▼  Agustus 2023 (2)
      • Merayakanmu
      • Tidur
    • ►  Juli 2023 (1)
      • Bungah
    • ►  Mei 2023 (1)
      • Garis Finis
    • ►  April 2023 (1)
      • Topan
    • ►  Maret 2023 (3)
      • Beberapa Hal
      • Punca
      • Rekaan
    • ►  Februari 2023 (2)
      • Tamu
      • Tabunan
    • ►  Januari 2023 (1)
      • Tentang Nala
  • ►  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ►  April 2022 (3)
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © Charitri. Designed by OddThemes