Charitri

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Rasanya aku memang terlalu sombong untuk meminta melepaskan diri. Dan kamu tau apa balasan untuk orang-orang sombong sepertiku? Jatuh di langkah ke dua tepat setelah berbalik dari arahmu.

Di tengah kekesalanku akan semua kegagalanku tanpa kamu tak membuatku makin ingin berlari lagi ke arahmu akhir-akhir ini. Salahkan rasa sombongku yang kali ini makin melahirkan anak-anak kebencian akanmu, yang setiap rindu hanya akan digerus
Aku termasuk orang yang kurang suka melakukan sesuatu yang baru pertama kali. You know, pertama kali means sucks, ya meskipun tanpa pertama kali juga ga akan ada yang namanya pencapaian. Meskipun ga nyaman, tapi kan tetep kudu jalan.

Dua minggu lalu, Jumat – 2 September 2016 terbang sendiri ke Tangerang demi menemui dedek-dedek iKON yang bakal menutup Asia Tour-nya di Jakarta hari Sabtu – 3 September 2016. Ini konser luar pertama,
No matter what, just live.
Even if it hurts, just live.

Jadi, akhirnya bisa ngikutin euphoria Valak setelah beberapa hari penayangannya aku cuma bisa berusaha deny sama postingan di socmed ya meskipun pada akhirnya udah tau duluan bentuk dan nama dedemitnya. Hvft.

Masih ga jauh-jauh sama oom Ed Warren dan tante Lorraine, ya biar akrab aja, yang menjalani kehidupan percenayangan. Jika di di awal The Conjuring dulu dengan Perron Family di tahun 1971, di The Conjuring 2 ini oom Ed dan tante Lorraine membantu keluarga Hodgson di tahun 1977.


Jadi semalem nyempetin maen ke salah satu event rangkaian hore ulang tahun kota Surabaya yang pertama kali diadain di rooftop salah satu gedung cagar budaya, SIOLA.  Di iklannya sih bakal ada semacam bazaar makanan, baju, aksesoris, liat sunset  sampai live band performance. Event yang disebutnya Rofftop market ini ada di lantai 8 SIOLA yang dibuka pada 19 Mei 2016 kemaren sampai 22 Mei 2016, hiyak! cuma tiga hari. Untuk jam bukanya dari 10.00 sampai 22.00 WIB.

Awalnya lumayan excited sama rooftop market ini karena udah ngebayangin duluan bakal duduk-duduk hore dengan semriwing angin di rooftop ya meskipun ga tinggi-tinggi amat sambil cobain makanan enak-enak dengan alunan musik dan view sekitaran SIOLA. Kenapa awalnya? Karena semua yang dilandasi rasa ngarep yang tinggi adalah besar kemungkinan akan merasa kecewa. Tsaaaaah.

Sebagai warga Surabaya yang buta kotanya sendiri, dengan tuntunan sopir Uber yang ternyata sama aja belum pernah masuk SIOLA lumayan banyak nebak-nebak dimananya pintu masuknya. Tapi syukur alhamdulillah, security mereka adalah yang terbaik dari event ini karena informatif dan juga ramah. Dari arahan beliau, parkir mobil langsung saja ke lantai 7 dan untuk motor ada sign di setiap lantai kok jadi ga usah khawatir.

Setelah berjalan dari parkiran lantai 7 ke rooftop kita bakal disambut dengan photobooth Sura dan Buaya yang pake baju khas Madura dengan banner (?) bu Risma yang ndrenges untuk kita bisa foto di situ. Sehat terus ya bu Risma :3


Kayaknya udah naluri ya jadi yang pertama harus dilakuin adalah ngeliterin booth per booth yang ada di sana. Mulai dari tas, baju-baju, aksesoris, make up, parfum sampai makanan 

dan berakhir dalam kalimat...

“Udah? Segini aja nih?”

Oke, mungkin aku ngarepnya kebangetan dengan kata “bazaar” di setiap iklan Surabaya Rooftop ini karena untuk ukuran bazaar rasanya jumlah booth yang ada masih sedikit. Mari kita cari makan. Engggg….

“INI BENERAN UDAH SEGINI AJA NIH TCOY?!”

Kuliner? Enggg, mungkin aku juga terlalu berharap karena kata-kata ini dalam iklan mereka.
Lapar membutakan mataku.

Well, hingga akhirnya dengan mudah memilih makanan karena memang ga ada pilihan lain hehe tapi kita dihadapin dengan masalah yang baru, bagi aku sih. Tempat duduk. Sebenernya, tempat duduknya banyak, banyak banget malah tapi lebih digunain untuk ngobrol mereka yang setelah makan engga mau pindah padahal fyi aja ya itu depan mereka banyak banget sampah bekas makan mereka dan atau bekas sebelum mereka yang numpuk. Sampe pada akhirnya dapet tempat duduk dan itupun di bukan di hall utama dekat panggung live band ya kita harus bersihin meja dulu biar bisa makan. Emang sih engga lihat sama sekali atau memang engga ada petugas kebersihan yang keliling,,,,

TAPI KAN REK DI SITU BANYAK TEMPAT SAMPAH DAN KENAPA SIH SUSAH BANGET BUANG SAMPAH???!!!!

Serius deh, mereka sediain tempat sampah hampir di setiap sudut gedung dan mudah banget dijangkau, tapi kenapa? Yasudahlah.

Tapi syukurlah dapet tempat makan yang jauhan dari panggung, ngobrolnya ga pake jejeritan hehehehe
Dan bahkan setelah makan kita pun ga ada hasrat pengen stay lama-lama hahaha. Tapi, kita sempetin nyender di dinding pinggiran kok buat ngobrol dulu sambil muter-muter lagi nyari pinggiran yang kosong karena hampir semua dinding full dari depan sampai belakang. Allahuakbar.

see that? tempat sampah yang sungguh sangat mudah dijangkau. but why?
itu yang lurus tengah itu panggung ya hehe

Ga ada niat nyela atau gimana karena ini murni pendapat aku setelah dateng dan ngeliat langsung tapi memang agak kurang puas karena lebih ngerasa event ini sedikit agak maksa (?). Karena mungkin aku datangnya pas gelap bisa dicoba hari ini dateng buat liat sunset sambil nyender di dinding pinggiran tanpa harus duselan kayak aku semalem.

Semoga Surabaya Rofftop Market tahun depan masih ada lagi dengan persiapan yang lebih bagus, rooftopnya gedung yang lebih tinggi, booth-nya makin banyak, acaranya lebih lama dan memanggil band-band indie Surabaya yang yahud. Amiin.

Bonus semalam:

Ps:
Kalo mau turun pake lift karena harus naik Gojek/Uber di depan gedung, turunnya langsung ke lantai 2 ya ntar ada security baik hati buat nunjukin jalan keluar. Semalem di lift yang agak kotor itu ga ada petunjuknya sama sekali dan kita asal mencet ke lantai 1 dan ternyata lantai kosong dan gelap huhuhuhu horor
Semalam aku bertemu dengan seorang teman yang baru saja kehilangan kekasihnya, kekasih yang sekian lama berjuang untuk mendapat restu orang tuanya. Ia pergi  tepat setelah ia mendapatkan restu kedua orang tuanya dalam perjalanan menuju perempuannya. Umur manusia tidak pernah ada yang tau, begitu juga rencana-Nya. Bertahun mereka mempertahankan hubungan hingga mendapatkan restu aku tau betul bagaimana mereka karena aku juga termasuk saksi dalam perjuangan mereka berdua. Aku juga pernah kehilangan Erlang dulu, jadi tak banyak yang bisa aku katakan semalam, hanya bisa memeluknya dan mengatakan dia pasti bisa melalui ini semua.

Aku bukan termasuk golongan movie freak banget, cuma kalo memang lagi ada yang disuka dan dirasa bagus ya dibelain sambang bioskop sih. Tapi entah kenapa hari ini pengen review film yang semalem ditonton, The Huntsman: Winter’s War, ya itung-itung belajar nulis review. Jadi, kalo nemuin full spoiler disini dan merasa sudah menghabiskan waktu tiada guna, ya mohon maaf lahir dan batin.

Tanpa bekal trailer dan baca synopsis, The Huntsman: Winter’s War aku nikmati dengan bekal popcorn di tangan.
Jalan ke Baluran ini udah di awal Februari 2016 lalu sih, cuma kan ya yang punya ini blog malesnya naudzubillah nulis gara-gara keranjingan streaming-in youtube yang akhir-akhir ini lancar banget jadi niatan nulis ini itu seringnya sama cepet sama jaringan pas streaming, cepet buat ngilang. Tapi bener deh, adanya tandonan film atau kencengnya internet pas streaming bisa bikin males nulis. Hiks.

Rencana ke Baluran ini sempet ada misscomunication sama Risha yang info awalnya dia ada panggilan dinas dadakan ke Jakarta yang berujung aku leha-leha menganggap rencana ini batal dan kelabakan saat tau dia ga jadi dinas Jakarta lima jam sebelum jam berangkat ke Jember. Kenapa kelabakan?
Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMAT SIH YAA AHAHAHAHAHA

Tapi baca artikel ini jadi ingat kejadian hari Minggu lalu saat harus pulang dari Jogja.
Siang itu sambil menatap aspal jalan bergerigi kecil yang melukai lutut kananku, aku hanya bisa merasakan dingin sekujur tubuh. Aku menatap wajahnya sebentar dan memutuskan kembali menunduk pada aspal jalanan. Lututku tak terasa perihnya, hanya saja jantung ini berdebar tak ada ritmenya. Mungkin aku sudah biasa dengan debar jantung ini saat bersamamu, tapi siang itu jelas berbeda.
Kita bertemu lagi, setelah lagi-lagi memutuskan untuk tidak bertemu lagi. Seperti itulah aku, yang sekeras apapun ingin pergi, tapi akan luluh pada satu permintaan yang seringnya aku abaikan. Aku sudah duduk menunggunya, tapi di jarak sekian ratus meter dari tempat kita seharusnya bertemu. Seperti itulah dia, asam mukanya jarang terlihat. Bahkan dari jauh begini pun rona wajah yang riang tetap terlihat.

Dia sibuk di depan layar handphone-nya dan tak butuh waktu lama namanya sudah tertera di layar handphone milikku. Aku tersenyum, mengabaikan panggilannya dan tetap mengamati dari jauh. Sebuah pesan muncul darinya tepat di setelah panggilannya berakhir.

Well, lama ya nulis lanjutan lanjalan tahun lalu. Maklum, males. Hahaha.

Di hari kedua kemaren kan sempet aku bilang kalo ada jadwal yang kita ubah sendiri karena melihat mba Tika yang mabok laut, sementara jadwal dari Fun Adventure hari ini kita masih bakal mengunjungi beberapa Gili. Jadi, saat istirahat sebelum sepedaan di Gili Trawangan kemaren, kita sempetin cari destinasi lain pengganti trip Gili. Setelah searching dan prediksi akses jalan sama mas Yudi akhirnya kita setuju untuk ganti ke
Pertama-tama mohon maaf karena judul tulisan ini terlalu dangdut. Tapi memang inilah adanya kehidupan saya berlangsung. Halah.

Cinta yang bertepuk sebelah tangan atau bisa juga disebut cinta sepihak, kitanya cinta-dianya engga. Well, cukup jelas lah ya maksudnya. Tapi fenomena cinta bertepuk sebelah tangan ini, semakin tua dewasa semakin banyak cakupannya. Kalau yang jaman sekolah dulu seringnya nganggap cinta sama lawan jenis dan tak bersambut itu terasa seperti sakitnya sakit banget, ternyata itu semua tak ada artinya jika dibandingkan kehidupan saya akhir-akhir ini.

Di dunia kerja, maksud saya.

Ga jarang saya mesti pulang telat karena mesti nyicil kerjaan untuk besok, deadline kerjaan yang amit-amit atau memang kerjaan saya ga abis-abis. Belum lagi mesti ngemis rayu-rayu divisi sebelah untuk dilancarin kerjaan saya agar hubungan sama suplier juga terus nyambung, permintaan pembuatan laporan baru di luar laporan biasanya dari atasan yang mintanya cepet, komplain suplier sampai saluran kamar mandi yang mampet. Eh, yang terakhir engga ding.
Tapi, printilan yang mendadak jadi kerjaan juga sering. AC bocor, sesekali isi tinta printer sampai printer mogok, scanner mati sampai kabel fax yang putul pun kadang mesti ditanganin sendiri kalau IT entah pada kemana. Begitulah, makin tahun makin berasa jadi tenaga serabutan.

Pasti ada masanya, saya atau kalian semua dalam satu hari berasa capek banget sama kesibukan yang menggila ini ditambah semua ke-amsyongan muncul jadi satu. Seperti saya hari ini. Dan di saat seperti inilah saya sempetin merenungkan sesuatu.

Saya pulang telat, naik turun tangga karena partner kerja beda lantai, nanggapin komplain, ngerjain laporan dan sebagainya dan lain-lain dan kawan-kawan lan sapanunggale begini kenapa? Iya, kerja. Dibayar. Jadi udah kewajiban. Tapi kan....
Tapi kan ada lah pasti yang namanya jobdesk semu, kerjaan yang muncul di tengah masa kerja yang itu artinya itu ga termasuk dalam salary yang sudah disepakati dulu yang tiap berapa bulan pasti bakal ada. Seterpaksa-paksanya kerja tapi kalau sudah dijalanin meskipun berasa berat begini kan pasti faktor cintanya. Witting trisno jalaran soko kulino. Cinta karena sudah terbiasa. Pasti ada lah. Ya meskipun sedikit.

Di saat merenung dan mengingat saldo tabungan begini lah saya merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan, cinta sepihak. Sayanya sedikit cinta, kantor ini engga.
Hiks
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ►  2025 (3)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Juni 2024 (2)
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ►  April 2022 (3)
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ▼  2016 (13)
    • ▼  September 2016 (2)
      • Ketebak
      • iKONCERT JAKARTA 2016
    • ►  Agustus 2016 (1)
      • No matter what, just live. Even if it hurts, ju...
    • ►  Juni 2016 (1)
      • The Conjuring 2 : Hantu Tanpa Rasa Sungkan
    • ►  Mei 2016 (2)
      • Surabaya Rooftop Market 2016
      • Dan Ternyata Susah
    • ►  April 2016 (3)
      • The Huntsman: Winter's War - Rumitnya Perempuan
      • Taman Nasional Baluran di Penghujung Musim Hujan
      • BUS EKA JAHAT
    • ►  Maret 2016 (2)
      • Hi, Stranger.
      • Perempuan Seperti Apa?
    • ►  Februari 2016 (1)
      • Lombok - Meskipun Kaki Yang Penting Rinjani
    • ►  Januari 2016 (1)
      • Bertepuk Sebelah Tangan
  • ►  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © Charitri. Designed by OddThemes