Bertepuk Sebelah Tangan
Pertama-tama mohon maaf karena judul tulisan ini terlalu dangdut. Tapi memang inilah adanya kehidupan saya berlangsung. Halah.
Cinta yang bertepuk sebelah tangan atau bisa juga disebut cinta sepihak, kitanya cinta-dianya engga. Well, cukup jelas lah ya maksudnya. Tapi fenomena cinta bertepuk sebelah tangan ini, semakin tua dewasa semakin banyak cakupannya. Kalau yang jaman sekolah dulu seringnya nganggap cinta sama lawan jenis dan tak bersambut itu terasa seperti sakitnya sakit banget, ternyata itu semua tak ada artinya jika dibandingkan kehidupan saya akhir-akhir ini.
Di dunia kerja, maksud saya.
Ga jarang saya mesti pulang telat karena mesti nyicil kerjaan untuk besok, deadline kerjaan yang amit-amit atau memang kerjaan saya ga abis-abis. Belum lagi mesti ngemis rayu-rayu divisi sebelah untuk dilancarin kerjaan saya agar hubungan sama suplier juga terus nyambung, permintaan pembuatan laporan baru di luar laporan biasanya dari atasan yang mintanya cepet, komplain suplier sampai saluran kamar mandi yang mampet. Eh, yang terakhir engga ding.
Tapi, printilan yang mendadak jadi kerjaan juga sering. AC bocor, sesekali isi tinta printer sampai printer mogok, scanner mati sampai kabel fax yang putul pun kadang mesti ditanganin sendiri kalau IT entah pada kemana. Begitulah, makin tahun makin berasa jadi tenaga serabutan.
Pasti ada masanya, saya atau kalian semua dalam satu hari berasa capek banget sama kesibukan yang menggila ini ditambah semua ke-amsyongan muncul jadi satu. Seperti saya hari ini. Dan di saat seperti inilah saya sempetin merenungkan sesuatu.
Saya pulang telat, naik turun tangga karena partner kerja beda lantai, nanggapin komplain, ngerjain laporan dan sebagainya dan lain-lain dan kawan-kawan lan sapanunggale begini kenapa? Iya, kerja. Dibayar. Jadi udah kewajiban. Tapi kan....
Tapi kan ada lah pasti yang namanya jobdesk semu, kerjaan yang muncul di tengah masa kerja yang itu artinya itu ga termasuk dalam salary yang sudah disepakati dulu yang tiap berapa bulan pasti bakal ada. Seterpaksa-paksanya kerja tapi kalau sudah dijalanin meskipun berasa berat begini kan pasti faktor cintanya. Witting trisno jalaran soko kulino. Cinta karena sudah terbiasa. Pasti ada lah. Ya meskipun sedikit.
Di saat merenung dan mengingat saldo tabungan begini lah saya merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan, cinta sepihak. Sayanya sedikit cinta, kantor ini engga.
Hiks

0 comments