Charitri

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Pernah kau tunjukkan langit senja dalam satu pandang lensa. Katamu, disitu kau akan selalu ada. Lima senja lalu kutelusur jengkal horizon dari titik paling barat hingga ufuk tempat matahari menampakkan wujudnya saat pagi. Lalu kamu dimana? Sebelah utara atau barat daya? Tepat dibawah matahari merah atau ruang kosong tempat para burung terbang kembali ke rumah? Dimana?

Aku sih bisa biasa saja jika memang kamu menghilang. Tapi dengan membawa langit senja dibelakangmu, jelas ini membuatku jengah. Kau buat apa yang kukagumi menjadi tempat dimana aku harus mencarimu? Yang benar saja. Kamu tau apa akibatnya? Langit senjaku tak lagi syahdu, juga matahari merah yang sesekali itu tak lagi menggoda. Bagaimana aku bisa mengagumi mereka semua sementara apa-apa yang menjadi tentangmu membayangi di depan mata?



Sumenep,
26 Oktober 2014.

16 Agustus 2014.
Indonesucks.

Malam tujuh belasan yang biasanya saya habiskan berkumpul dengan para tetangga atau anggota Kartar kampung saya, malam itu saya beranjak dari agenda biasa saya. Bertempat di Kedai De’Javu yang baru pertama kali saya datangi itu, saya menghabiskan Malam Tirakat atau Malam Renungan yang biasanya selalu ada di setiap desa kala malam tujuhbelasan.

Indonesucks. Sebuah standup show bentukan komika Surabaya yang mengangkat tema Gerundelan Orang Republik. Siapa saja mereka?

Disambut oleh MC yang katanya masih magang, Arif Alfiansyah.
Dan dibuka oleh seorang komika dari Sidoarjo dan baru pertama kali saya melihatnya di atas panggung, Dedy.
Diawali penampilan Idhamsyah dengan status Sarjana-nya yang masih anget.
Lalu ada Idham Bangsa yang katanya, tititnya kecil. Katanya.
Dilanjut dengan komika asal Korea dengan Annyeonghaseyo-nya, Pepeng.
Dibuat ricuh dengan Mahabarata-nya mas Deddy Gigis.
Hingga dilengkapi dan dipecahin pak Yudhit dengan sikap ‘dingin’-nya itu loh.

Sebenernya saya belum paham bener tema malam itu. Hehehe.
Kalau Gerundelan Orang Republik dalam negara yang menyebalkan ini dimaksudkan dalam apa saja kelakuan dan tabiat orang-orang di dalamnya, saya pikir ini sudah mewakili bagaimana keseharian warga negara kita ini. Anak-anak yang sudah hampir kehilangan apa yang seharusnya anak-anak terima, kalangan remaja yang lekat hubungannya dengan seks bebas hingga kelakuan para orang-orang tua di dalamnya, jelas cakupan ini sudah dibawakan sepenuhnya di Indonesukcs. Semua dibawakan, dilanjutkan dan dilengkapi pada akhir show.
Tapi, kalau yang dimaksud Gerundelan Orang Republik ini mencakup apa saja yang menyebalkan tentang bagaimana kehidupan bernegara dalam segi politik Indonesia, show ini jelas masih jauh. Karena materinya masih random dengan keseharian dan bertaburan blue material.
Hehehehhee.

Yang pasti malam itu saya lebih merasakan Indonesucks ini sebagai private standup show sih ya. Dengan kuota audience yang hanya 100 orang saja dan sold out dengan venue yang dibuat santai dengan menyelipkan beberapa meja di tatanan kursi audience  untuk tempat snack jelas ini dibuat santai. Banget. Apalagi jarak mini stage dengan penonton di depannya mungkin kurang lebih hanya berjarak satu meter. Atau kurang?
Juga penampilan para komikanya yang juga santai banget. Idham Bangsa misalnya yang malam itu tampil dengan celana kain batik yang kalo saya sih itu udah kostum leyeh-leyeh banget. Atau ada yang ngelihat Idhamsyah sebelum show dimulai, dia seliweran ke toilet dengan celana kolornya? Jadi, nontonin komika yang lihat contekan saat tampil pun udah biar aja sudah. Haha.

Dan lagi, menurut saya, Indonesucks malam itu seperti estafet. Membawa tongkat dari garis awal diakhiri dengan kemenangan, Ahzeg. Bukannya saya mau bilang yang tampil awal biasa saja, tapi lebih ke pembawaan tema Indonesucks ini sih. Semuanya saling melengkapi dan ditutup dengan beberapa data yang ditampilkan melalui slide untuk mendukung materinya.
Jika disuruh memilih siapa yang paling mencolok penampilannya, saya pilih Pepeng. Selain karena dandanannya emang paling ngehitz banget malam itu, secara dia dari Korea *disambit topi* materi dan pembawaannya berasa banget bedanya dari beberapa penampilannya yang saya lihat. Udah santai asik gitu.

Beberapa komika menanyakan bagaimana tiket Indonesucks ini terjual habis sementara komika yang disuguhkan ini udah biasa banget. Yang pernah masuk tv untuk kompetisi hanya satu orang, pak Yudhit. Yang ikut kompetisi tahunan juga satu, mas Gigis. Yang lain seliweran di Surabaya dan sekitaran Jawa Timur. Balik lagi ke pemikiran saya tadi sih. Masing-masing dari mereka pasti punya peminatnya. Jika dibuat mini show yang dibatasi kuota audience-nya, mereka pasti berlomba-lomba untuk datang. Gitu.

Well, terima kasih sudah membawa kami dalam malam tirakat yang berbeda dari biasanya dan terpaksa pulang jalan kaki dari gang depan hingga rumah melewati gerombolan warga yang sedang berkumpul di malam tirakat tiap gang.

Merdeka!
Viva La Komtung.

Pagi masih saja dingin, sementara embun masih penuh harap pada tulang daun yang tak punya kuasa atas dirinya untuk tinggal. Angin berhembus ringan tanpa menggerakkan dedaunan, hanya meninggalkan dingin yang menggigil. Suling teko pemanas air sudah nyaring bersamaan dengan gerak kepalamu mencari posisi nyaman di bantal putih itu. Aku tersenyum, merapatkan selimutmu dan menuju dapur.
Asap dari mulut teko yang terus mengepul hingga memberi warna putih tebal dan menghilang di jarak sepuluh senti itu menyita perhatianku. Menggebu dan hilang sekejap mata. Ah, sudahlah.

Deretan cangkir masih memenuhi rak kecil di dalam laci dapur, bergoyang dan menimbulkan denting ketika kutarik. Perlahan kudorong laci masuk ke lorongnya. Membuka toples kopi adalah favoritku tiap pagi dan menghirup aromanya dalam-dalam adalah double favorit selanjutnya. Ada keheningan ketika tuas kompor kugerakkan mematikan nyala api. Dan harum kopi mulai menjalari seluruh sudut dapur.

Sambil mengaduk kopi, aku melihat diriku dari ujung kaki ke ujung jemari tanganku. Lalu aku tertawa sendiri sambil menggulung lengannya lebih tinggi lagi. Bagaimana ia masih menggunakan kemeja usang ini sih? Aku menggelengkan kepala dan mengambil dua gelas kosong, satu untuk air putih dan satu untuk jus jeruk yang biasa dia minum setiap pagi.

Aku menaiki tangga dengan hati-hati, selain karena membawa satu cangkir kopi panas, satu gelas air putih dan jus jeruk, aku juga tak ingin membangunkan dia yang masih terlelap. Benar saja, dia masih meringkuk di bawah selimut tebalnya. Langit masih mendung terhitung gelap untuk jam tujuh pagi. Aku membuka jendela tanpa takut sinar matahari membangunkannya, dingin yang masuk pasti membuatnya merapatkan selimutnya lagi.

Aku terdiam duduk di jendela dan menyesap kopiku. Melihat kolam ikan kecilku yang mencetak bulatan sempurna di atas air, pertanda gerimis masih turun. Kuletakkan cangkir kopiku dan melipat kaki hingga kedua lututku menopang dagu, karena tak nyaman, kuletakkan lengan kananku dan membuat pipi kananku bertopang padanya. Sedang tangan kiriku sibuk menggapai titik air yang jatuh dari pinggiran atap dan memainkan air di tangan. Ada sedikit perih di lengan kiri ku ketika air perlahan mengalir dari tanganku. Lain kali aku harus memaksanya memotong kuku sebelum nanti badanku penuh cakarannya.

“Apa aku mencakarmu lagi?”, tanyanya dengan suara bantal.

Ah, dia terbangun rupanya.

Dia beranjak dari tempat tidur dan menghampiriku. Mendaratkan sebuah kecupan di kening yang lambat dan mengecup bibirku sambil mengucapkan selamat pagi. Aku menaikkan kedua tanganku seolah memberi isyarat minta digendong, dia tersenyum dan menghabiskan segelas air putih. Lalu menggeleng dan mengatakan beratku sudah tak ringan lagi. Aku melengos seolah ngembek. Bagaimana badan atletis begitu payah dalam menggendong perempuannya? Huh.

Gerimis yang berubah menjadi hujan membuatku beranjak dari jendela dan menutupnya agar tampiasnya tak membasahi lantai kamarku. Dari belakang ia sudah menyerang leherku dan menciuminya dengan hebat. Aku mengelak seolah ngambek karena tak digendong tadi. Dia diam sejenak dan memasang ekspresi berpikir sambil menatap mataku. Ekspresi yang selalu menjadi favoritku. Digendongnya aku dengan sigap keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju sofa ruang tengah. Suhu dingin yang mungkin 16 derajat celcius  karena hujan di luar sana tak terasa lagi dengan 37 derajat celcius  kami berdua.

Di sofa biru tua yang tak terlalu lebar ini membuat dia memiringkan badannya demi aku agar bisa tidur di lengan kirinya. Sambil menikmati dingin yang perlahan menjalar lagi, kita berbicara tentang gedung pernikahan kami bulan depan. Undangan yang sudah siap disebar, baju pengantin dan keluarga sudah fitting, catering hingga akomodasi keluarga dari luar kota. Karena kesalahan staff gedung, kami harus mencari gedung lagi untuk pernikahan kami. Yang benar saja.

Kami tinggal dalam kota yang berbeda karena pekerjaan. Sebulan sekali dia pasti mengunjungiku, kalau beruntung bisa dua kali. Itulah sebabnya kami harus pintar-pintar mengatur waktu berdua. Aturan darinya untuk mematikan gadget saat bersama kurasa memang tepat. Jatah tangannya di gadget dan berkas kerjanya saat bekerja harus sebanding dengan tangannya di tubuhku atau lebih. Aku juga tak mau kalah. Hehe.

Dia bilang handphone-nya habis batere dan tertinggal di mobil saat kutanyakan dimana handphone-nya karena dari semalam aku tak melihatnya mengluarkan handphonenya sama sekali. Kami masih berbaring dan berbicara banyak hal. Mendung membuat tak terasa Sabtu ini sudang merangkak tengah hari. Sambil menyeretnya ke kamar mandi agar dia mandi malah aku aku kerepotan melepaskan diri agar tak terlibat bersama di dalam sana. Sambil setengah berlari kudengar ia memintaku mengambilkan handphone dan laptop yang masih di dalam mobil.

Kemeja usangnya masih kukenakan dan membuka pintu agar dingin memenuhi setiap sudut rumahku. Hujan tak lagi deras tapi rintik gerimis masih jelas terlihat. Jalanan depan rumah tak begitu ramai karena rumah ku ini terhitung paling ujung. Hanya terdengar suara Pillo, anjing kecil milik rumah depan. Bau hujan yang selalu menyenangkan membuatku ingin berlama-lama menatap gerimis di tanah basah  yang ciprat tanahnya menimbulkan bercak di lantai teras.

Aku setengah berlari menuju mobilnya dan terduduk di jok belakang sambil mengelap rambut dan kemeja yang sedikit basah karena gerimis. Setelah menemukan tas laptop dan beberapa map kerjanya, aku mencari handphone yang tersudut di pinggiran jok kemudi. Menghargai privacy masing-masing adalah aturan hubungan kami termasuk isi handphone kami. Mendengar getar handphone sontak membuatku meraihnya. Sebuah panggilan masuk dari Ms. Dilla dan berakhir sendirinya di tanganku. Sebuah notifikasi otomatis muncul 15 Missed Call. Handphone ini jauh dari habis batere.
Tapi konfirmasi ‘Shut Down’ yang dibiarkan, jelas jika handphone ini akan dimatikan tapi belum turn off karen belum ada konfirmasi persetujuan dari penggunanya.

Mungkin dia lupa.

Antara tak sengaja terbaca dan muncul pemikiran barangkali isinya penting, mengingatkan nama ini berulang kali mencoba menghubunginya, aku akan membacanya dan menyampaikannya nanti.


“Kak Bayu, Dilla belum mens bulan ini”.

Bulan Juni tahun ini, 2014, saya awali dengan tertawa bersama kurang lebih 600 audience Good Father – Final Chapter Surabaya. Sebuah Stand Up Show yang seluruh penjualan tiketnya sold out ini digelar Stand UpIndo Surabaya dengan menampilkan bapak-bapak yang tergabung dalam komunitas tersebut. Acara yang digelar di Auditorium RRI ini merupakan penutup dari rangkaian tour Good Father Stand Up Show di Jawa Timur yang sebelumnya sudah ada di:
Jombang 26 Januari 2014
Mojokerto 8 Februari 2014
Madiun 8 Maret 2014
Sidoarjo 15 Maret 2014 dan
Kediri 22 Maret 2014.
Antrian yang mengular dari venue di lantai 3 mengular hingga lantai dasar membuat saya lumayan kaget hari itu. Yang biasanya bisa melenggang santai ini harus berdiri berjejer memenuhi anak tangga RRI yang ga seberapa besar itu. Benar-benar penuh.

Ini dikarenakan ada crew yang bertugas untuk memberhentikan antrian ke pintu masuk karena saat di dalam venue juga ada crew yang membantu kita mencari tempat duduk. Mungkin ini dikarenakan adanya beberapa audience yang datang rombongan dan masih ada beberapa teman yg belum datang, jadi dipastikan betul jika tidak ada kursi yang kosong. Karena inilah sepertinya acara molor hampir satu jam dari jam yang sudah ditentukan. Dari yang harusnya pukul 15.00 jadi ke 15.57 WIB *gegoleran di panggung*

Dibuka dengan kehadiran seluruh opener yang pernah tampil di kota-kota sebelumnya dengan berbagi cerita dari setiap kota dengan tingkah polahnya yang hue-ek lah itu pokoknya mereka *jiwitin pipinya*
Ada Dedy,  Wira, Firman, Pepeng, Karjo dan Kukuh.

Dilanjut dengan sesuatu yang baru hari itu, #GoodFather juga menampilkan sebuah Flashmob dariiiiiiiiiii mana-gitu-ya-saya-lupa-hahaha *jejogetan*

yang ini tulung salamin. eaaakk.

Resmi dibuka oleh sang MC sore itu  yang  sudah bapak-bapak dan tampil berbeda yang biasanya, Angga Prameswara.
Seperti yang sudah diinfokan di minggu-minggu terakhir sebelumnya, #GoodFather Surabaya ini akan kedatangan tamu dari finalis Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV Sesion 4.  Yang masih bertahan dan semoga menang, Abdur Arsyad dan yang sudah close-mic, Dodit Mulyanto.

Komika tamu yang pertama, Abdur Arsyad.
Selain dengan Ursula, Martin, tuak, stop tipu-tipu dan Aduh Mama Sayangeee, sore itu Abdur masih begitu banyak menarik perhatian audience #GoodFather dengan materi seputar Pilpres ber-rima-nya.

Komika tamu yang kedua, Dodit Mulyanto.
Komika yang terakhir kali saya lihat penampilannya langsung di Little I Can-nya Arif Alfiansyah dan Kamis malam di tivi saat dia close-mic, sore itu muncul dari belakang kursi para audience dan semua histeris. Saya lebih memilih penampilannya di Little I Can sih daripada penampilannya sore itu yang full curhat pasca close-mic dan banyaknya jumlah followers di akun twitternya. Gitu.
Dengan sorotan lampu bak panggilan MC memanggil artisnya *halah*, inilah mereka para #GoodFather kita di #GoodFatherFinale sore itu.

Pulung Siswantara
Seorang komika yang nyambi jadi dosen *eh kebalik* ini datang bersama keluarganya yang ada di bangku penonton. Dengan materi seputar kehidupannya menjadi seorang suami dan ayah sore itu menutup penampilannya dengan micin-moment yang serentak membuat gemuruh tawa audience sore itu pecah.

@Wagumen
Ayah empat anak yang semua anaknya dinamai layaknya para pemain sepak bola Inggris ini memulai dengan melempar sebuah shoutcap untuk audience. Dengan berbagai ceritanya selama menjadi PNS dan sebagai ‘penembak cicak’ di kamar mandi ini *halaaah* kembali membuat pecah suasana #GoodFather.

Deddy Purwanto
Saya paling seneng ngikutin #senyumdong yang biasanya diramein mas Gigis ini di twitter, tapi saya merasa paling jarang liat dia standup di panggung hehehehe. Waktu #iDoNow bukan ya? Ah, saya sudah lupa *nenggak enervonseh*
Dibuka tanpa basa-basi ba-bi-bu, opening mas Gigis ini terhitung paling fenomenal. Makjegagik. Langsung materi aja gitu dan langsung bisa membuat tawa audience. Belum lagi closing-nya. Ga kebayang aja gitu dengan macak Mission Impossible-nya.

Edy Mulyanto
Bapak yang berprofesi sebagai tour-guide ini juga menunjukkan kemampuan bahasa Inggris dan Perancisnya di beberapa materi yang dibawa. Dari sifat beberapa turis yang dipandunya dari beberapa negara hingga adegan ranjang pun dibawain. *wudhu*

Yudhit Ciphardian
Komika terakhir di #GoodFather yang juga finalis Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV session 4 yang keluar di Minggu ketiga dan video audisinya tidak ditayangkan di tivi ini paling santai penampilannya. Keluar dengan segelasaqua kopi hitam, pak Yudhit juga ditemani sang istri dan dua putrinya Hayu dan Lintang. Luwcuk >.<
Dari mengutarakan pendapatnya tentang penutupan Dolly, seputar calon Presiden sampai rumah pemulung kardus, pak Yudhit menutup #GoodFather dengan wokeh. Wokehbanget.

Dilihat dari deretan headlinernya yang bapak-bapak sudah pasti bakal ada materi tentang kehidupan sehari-harinya sebagai seorang suami dan ayah yang dibawakan. Entah itu kehidupan rumah tangga, lingkungan sehari-hari, lingkungan pekerjaan dan…… kehidupan seksnya. Kalau yang terakhir tadi dilupain sudah pasti bakal kaget sore itu. Ya, #GoodFatherFinale ini sungguh sarat akan blue materi *wudhu lagi*
Belum lagi yang sepertinya semua headliner sore itu bahasannya pasti akan ada seputar Dolly. Curiga kalo emang sering mampir #eh *dipites*

Hanya sedikit terganggu dengan lampu panggung yang timing-nya ga pas di awal-awal acara. Kan kesian MC-nya gelap-gelapan sendirian di panggung. Juga sound system yang menurut saya tidak seperti biasanya, yang kalau saat volume tinggi lumayan membuat bising dan pusing.

Tapi senang rasanya komika-komika local sudah banyak karya. Kapasitas gedung yang katanya hanya 500 orang bisa dijejali 600 orang meskipun crew harus usung-usung kursi tambahan atau beberapa ada yang duduk di bawah :’)
Selamat atas berhasilnya #GoodFatherFinale Surabaya.
Terima kasih sudah menyambut Juni dengan tawa yang riuh bersama.

Viva La Komtung
Support Local Comic.
pic via. Google


Baiklah, aku pulang saja.
Mungkin sekalian pergi.

Message Sent.
--

Bagaimana hujan pun tau harus datang di hari para manusia yang kelam akan mendung di hatinya?

Payung warna-warni segala sisi itu terbuka. Kaki dibawahnya melangkah pelan lalu mundur lagi. Hujan tak terlalu lebat, namun rupanya langkah itu jelas terlihat ragu. Dipingiran atap asbes yang menjorok sedikit melebihi dinding rumah itu ia berteduh dengan payung warna warninya. Dari sudutku melihatnya tak tampak bagaimana rupa wajah dibalik payung warna-warni itu. Tapi sepandang orang melihat sosoknya pasti berpikir hal yang sama dengan diriku. Yang pasti dia seorang wanita, jelas dari rok dan tas selempang lucu di pundaknya. Orang yang melihatnya pasti akan sepaham pula denganku, wanita itu pasti dengan rupa yang manis dan gerak yang riang. Entahlah, aku yakin sekali.

Wajahnya masih tak jelas kugambarkan, mungkin karena ia menunduk dan pinggiran payungnya membuat penglihatanku semakin tak menemukan titik fokus wajahnya. Ditambah gerak kakinya yang menendang dalam tanah basah di bawahnya berulang-ulang seperti melampiaskan sebuah amarah. Sepatu dengan  pita diujungnya sudah tak jelas warna aslinya, sudah bercampur dengan liat basah dari setiap hentakan kakinya. Seburuk apa harinya sore ini?

Hujan masih seperti ini, tak begitu lebat juga tak bisa dibilang gerimis. Sedang begitu loh. Hujan enak kalau menurutku. Tak ada mendung gelap di sepanjang  mata menelusur langit, tak ada petir menyambar-nyambar atau gemuruh-gemuruhnya, atau angin yang mengoyak pepohonan yang daunnya akan mengotori sepanjang jalan paving komplek. Seperti memang diberi waktu Tuhan untuk sekedar beristirahat sambil menikmati ricik hujan dan segala makhluk yang berlalu lalang. Termasuk wanita diseberang sana, yang berteduh di bawah pinggiran atap asbes dengan payungnya.
Ada juga bocah-bocah yang berlarian dengan kepala penuh busa shampo dan berhenti di bawah pipa pembuangan air dari atap rumah seseorang untuk membilas keramasnya. Tak jarang ada yang berteriak sial karena busa shampoo membuat pedih matanya sedangkan yang lain masih berebut air yang keluar dari pipa air. Atau beberapa pengendara motor yang nekat menerjang hujan dengan atau tanpa jas hujannya. Sesekali pengendara motor yang begitu berhati-berhati pada akhirnya akan berteriak sumpah serapahnya ke pengendara motor  atau mobil yang yang seenaknya melaju dengan kecepatan tinggi saat melewati genangan air. Atau orang disebelahku ini, air mukanya tenang seperti ada keyakinan yang dia pegang bahwa hujan ini akan segera berakhir.Seadang aku duduk di tangga teras masjid komplek perumahan dengan tampias air yang hampir membuat basah celana di batas lututku.

Pandanganku masih tak bisa lepas dari wanita di seberang sana. Sudah hampir setengah jam ia sekan merutuki sebuah kejadian. Tidakkah ia tahu bocah-bocah busa shampo itu menertawakannya? Tidakkah ia lihat sepatu dan sekujur lutut hingga kakinya sudah seperti kerbau yang seharian berputar dalam ladang? Ingin kutarik saja rasanya ke tempat wudhu dibelakangku. Memaksanya mencuci kaki dan memegangi payung yang warnanya seperti lempengan gulali itu. Sungguh.

Satu persatu orang yang berteduh denganku berangsur berkurang karena memilih menerjang hujan dengan raut kesal. Hujannya begini-begini saja, tanda reda pun tidak. Sementara diujung sana berkali-kali kudengar suara bernada tinggi melalui telepon orang-orang disekitarku. Entah memang marah karena yang dihubungi tak juga menampakkan batang hidungnya atau memang menyeimbangkan suara karena bising kendaraan yang lalu lalang dan suara hujan. Entahlah.
Aku berkali-kali melihat layar teleponku yang sedari pesan itu terkirim, bergetar tak tau rima. Biar saja.

Kualihkan pandanganku mencari wanita berpayung yang seyogyanya ada diseberang seperti lima menit yang lalu masih kupandangi dari jauh. Dimana dia?
Sepertinya sudah pergi.
Ah!

Aku melihat sekitar masjid tempatku berteduh. Hanya tinggal aku.
Awalnya ingin kuputuskan untuk menerjang hujan pula toh di bagasi motorku ada jas hujan, siapa bilang aku tak membawanya. Aku hanya tak ingin sendiri sore ini, apalagi mendung dan akhirnya hujan. iPod sengaja kumatikan dan earphone sudah kugulung rapi. Aku sedang menghindar panggilan masuk, segala jenis lagu yang ada dalam playlistku juga pikiran-pikiran kosong yang memacuku untuk memikirkan kejadian beberapa jam lalu. Beberapa jam sebelum aku pada akhirnya mengirimkan pesan itu. Pesan pertanda berakhirnya semua yang sudah kuperjuangkan mati-matian ya meski sekarang aku belum benar-benar mati. Sore ini aku hanya harus bertahan melalui hujan tanpa harus menangis. Itu saja. Tapi yang kuperhatikan sedari tadi sudah hilang, sedang bocah busa sampo juga sudah pulang diteriaki ibunya, orang-orang yang tadinya berteduh denganku berangsur hilang. Lantas siapa lagi yang harus kupikirkan agar aku tetap sibuk berpikir tanpa harus memikirkan kejadian siang tadi?

Jika sudah begini pada akhirnya aku yang kalah. Gara-gara wanita berpayung itu pergi entah kemana, tak ada lagi yang sibuk kupikirkan dan seperti inilah aku sekarang. Memeluk lutut dengan celana yang sudah basah, high heels yang pada akhirnya kulepas dan bernyanyi lirih sebuah lagu sedih.



Minggu, 11 Mei 2014.
Selain hari itu tepat saya bertambah usia, hari itu saya menghadiri 2nd Annivesary Kemalicious Surabaya yang digelar di Auditorium RRI Surabaya. Apa itu Kemalicious? Kemalicious itu sebuah fanbase seorang komika Jakarta, Kemal Palevi. Fanbase yang tiap hari makin banyak dan makin berisik ini merupakan fanbase/komunitas kedua yang di hari jadi-nya membuat sebuah stand up show di Surabaya, setelah Stand Up Indo ITS. Menurut saya. Sama-sama menampilkan komika-komika local juga satu headliner komika ibukota. Kalau di 1st Anniversary Stand Up Indo ITS ada Sammy, di 2nd Anniversary Kemalicious Surabaya ada Kemal Palevi. Jelas sih ya. Ppffttt.

Konsep dari 2nd Anniversary Kemalicious Surabaya ini cukup beda menurut saya, dengan mengusung tema seperti judul bukunya Tak Kemal Maka Tak Sayang, acara ini dibuka dengan talkshow yang dipimpin oleh Dono. Dari pertanyaan seputar awal mula memutuskan menjadi komika dan menulis buku hingga pertanyaan seputar kehidupan pribadi Kemal hingga pertanyaan-pertanyaan absurd lainnya, jelas memanjakan semua Kemalicious yang hadir siang itu. Kemaliacious yaa, yang deretan ‘penasaran’ seperti saya beberapa poin pertanyaan dan talkshownya lumayan membosankan. Sorry to saaaayy~~~~
Jadi, harapan kedepannya adalah jelas stand up shownya, saya ndak mau rugi dong kalau sesi standup shownya juga membuat saya makin bocen. Ih.

Suasana talkshow:





















 















                                                                                                          
                                                                                                          
                                                                                                           

Di sela talkshow juga ada beberapa kuis untuk dapetin buku Tak Kemal Maka Tak Sayang dan tees dari Cluster Dreams. Ya, acara ini disponsori oleh beberapa pihak seperti Stand Up Unesa, Event Surabaya, InfoGresik, Agromedia dan Cluster Dreams.

Kuis:

Setelah talkshow yang begiiitttuu lama (menurut saya) dan bagi-bagi hadiah, talkshow ini ditutup dengan tiup lilin dengan ketua Kemalicious Surabaya dan beberapa perwakilan dari Kemalicious yang hadir.
 


Sebelum Kemal stand up yang jelas dibuka oleh tiga komika local dulu ya.

Idhamsyah | @Syahdham
Terakhir kali saya menghadiri penampilannya di Bangku Taman, saya pikir siang itu Idham bakal bawain materi dengan kemampuan bahasa inggrisnya. Tapi ternyata engga.
Hehehehehheheheheheheheheheheeeee.


Firza Valaza | @FirzaValaza
Tampil riang dan berapi-api sepertinya memang sudah khasnya Firza menurut saya. 


Muhammad Lukman | @Mohluk
Ini pertama kalinya saya melihat penampilannya. Meskipum ada sebagai opener di Little I Can-nya Arif Alfiansyah, saya ga bisa melihat penampilannya waktu itu karena datang terlambat. Ehehehee..
Tapi siang itu saya dapat dobel dengan penampilan kembarannya dan konsepnya yang unik. Iya, Lukman kembar.




Dan inilah yang ditunggu sekitar 300 audience yang hadir!!
Kemal Palevi | @kemalpalevi
Dimulai dari Absurd Tour, seliweran di PERSETAWA, RepublikKomedi, EXART 2013 sampai di 2nd Anniversary Kemalicious Surabaya saya ada di bangku penonton nontonin Kemal. Hahahahaa…

Selamat ulang tahun Kemalicious Surabaya.
Kompak terus dan tetap mendukung sang idolanya di jalan kebaikan.
Jangan tambah banyak ya.
*dijumroh*

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ►  2025 (3)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Juni 2024 (2)
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ►  April 2022 (3)
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ▼  2014 (10)
    • ▼  November 2014 (1)
      • Pernah kau tunjukkan langit senja dalam satu pan...
    • ►  Agustus 2014 (2)
      • Indonesucks
      • Akankah Masih Ada Bulan Depan?
    • ►  Juni 2014 (1)
      • Good Father Surabaya - Stand Up Comedy Show
    • ►  Mei 2014 (2)
      • Thought
      • 2nd Anniversary Kemalicious Surabaya
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © Charitri. Designed by OddThemes