Charitri

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Pejam yang tak pernah temaram, riuh dengan arak-arakan kenangan dan ingatan. Aku berputar-putar dalam kepalaku, menghindar sebelum tenggelam di antara tumpukan peluk dan cium di banyak reka adegan. Sorot lampu tetangga berpendar di dinding kamarku, menarikku dari dekap gelap yang sibuk mengajakku menerka kemana hilangnya kamu.

Jadilah aku pukul dua dini hari ini, yang kembali mencari namamu dan berulang membaca semua pesanmu. Jadilah aku pukul dua dini hari ini, dengan jari yang sibuk mercerca dalam ruang bertuliskan namamu. Jadilah aku pukul dua dini hari ini, yang perlahan terisak membersihkan semua kalimatku. Jadilah aku pukul dua dini hari ini, yang patah lagi.


Suara di speaker sedikit bergetar, kita berdua saling beradu tatap seraya nama bandara lain disebutkan. Kamu tersenyum dan beranjak dari tempat dudukmu, ingin dekat jendela katamu. Kulihat kamu menjauh sedang lampu-lampu terlihat semakin jelas di landasan pacu. Malam itu kita akhirnya mendarat.

Kita bergeming di kursi masing-masing, menatap kegelapan di luar jendela yang entah dimana. Jika diingat di hari pertama kita memutuskan untuk terbang jauh, betapa banyak bawaan kita yang hilang hari ini. Turbulensi yang berulang seakan menghabiskan kenyamanan semua genggaman tanganmu, oksigen yang tak begitu melimpah juga mengeringkan senyum kita juga pagi dan malam yang menghampakan semua peluk.

Nyatanya kita hanyalah pemabuk udara yang memaksa terbang jauh, yang sepanjang perjalanan lebih sering menahan mual dibanding membicarakan hal-hal seru selama di tujuan. Sebelum rasa sakit menghabiskan semua bawaan kita, sebelum tangis memecahkan pesawat dan menghancurkan kita, di tengah mabuk luar biasa malam itu kita begitu penuh kendali.

Kita sudah terbang jauh meski tak sejauh yang kita tuju, mendarat dengan selamat meski banyak luka yang menganga hebat.

Aku masih ingat pagi itu dimana pisau terlempar dari dapur dengan tangis yang mengisi seluruh isi rumah tepat semalam kakak pertamaku pergi dikuburkan. Ibuku, dengan segala kecintaannya melepaskan tangisnya lagi setelah jalan pilihannya untuk pergi digagalkan pagi itu. Aku bahkan tak berusaha menahan air mata, seakan bagaimana hatiku pagi itu membekukan segala rasa sakit. Aku hanya terdiam, merasakan amarah yang hingga tubuhku tak mampu merasakan apapun. Aku membencinya sebanyak rasa cinta yang ikut dikuburkan semalam.

Aku ingin menjadi yang selalu ia butuhkan meski meninggalkanku adalah jalan yang ingin ia tempuh, aku ingin menjadi yang selalu disampingnya meski cintanya selalu mengarah di lain arah. Aku yang ia coba tinggalkan akan menjadi karma selama hidupnya.

--

Hari ini akulah tumpuannya, jika tak salah mengira.

Aku menanggung banyak hal secara materi, aku mendengar semua keluhnya, tangisnya ketika harinya dirasa berat bahkan hanya di depanku lah amarahnya bisa diluapkan meski bukan aku penyulutnya.

Kami memiliki jarak yang kami sendiri tau bagaimana mengendalikannya, jangan tanya bagaimana karena akupun tak tau bagaimana menjelaskannya. Kami tak beradampingan layaknya keluarga lainnya, tapi melihat bagaimana kami menyelesaikan masalah kurasa kami cukup pandai bekerja sama.

Beberapa kali ketika bangun tidur siang di akhir pekan aku melihatnya duduk di tangga teras rumah, sendiri menatap jalanan atau mungkin pohon yang dahannya mulai panjang menjuntai. Sering juga aku kaget sendiri ketika akan mandi sepulang kerja, ia duduk sendiri di kursi dapur. Entah itu sedang minum kopi atau menghabiskan sisa makanan hari itu.

Jarak seperti itu lah yang kubangun selama ini. Aku dan amarah keegoisanku di masa lalu memilih menarik diri dan menempati tempat teramanku sendiri, atau bahkan mungkin menjalankan semua kehidupan impianku dalam kepalaku sendiri, sedang ia dengan semua beban di pundaknya dan mungkin sudah berulang kali kehabisan tenaga dan ingin menyerah. Kami tak banyak bicara, sesekali ketika menggunjing tetangga atau bahkan saudara saja. Terakhir aku ikut bicara ketika mendengarnya mengeluh hanya berujung dengan rasa marah akan kesabarannya.

Ingin rasanya secara gamblang mendengar jika akulah yang dia inginkan keberadaannya, tapi melihat aku yang tak pernah juga bisa menyampaikan rasa sayangku padanya, aku memilih merasa cukup dengan hubungan kami saat ini. Aku selalu merasa bersalah dalam setiap kesendiriannya menjalani kehidupan kami, di setiap tangis yang ditahan berulang kali atau di semua titik sabarnya ditanam, aku memilih berada sendiri di kejauhan yang kuciptakan sendiri. Kuharap jalan tengah dalam jarak ini segera kutemukan sebelum kesepian membunuhnya dan meninggalkanku menjadi nyata.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ►  2025 (3)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Juni 2024 (2)
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ▼  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ▼  April 2022 (3)
      • Dua Dini Hari
      • Mendarat
      • Jalan Tengah
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © Charitri. Designed by OddThemes