Bianglala Terakhir

pic by, google
Semalam, aku mendengar ibu menangis sedang ayahku belum datang ketika aku beranjak tidur. Seperti mimpi yang hilang ketika pagi datang, tak ada tanda gurat kesedihan di wajah ibuku dan ayah seperti biasa dengan singlet kusamnya berdiri di teras rumah dengan selang air yang mengarah di kebun kecil milik kami saat aku bangun tidur. Semua nampak biasa saja, tak ada tanda yang bisa kubaca yang membuat ibuku menangis. Ya, sepertinya memang hanya mimpi.

Ibu menggendongku sesaat melihatku berdiri di anak tangga kedua. Meninggalkan irisan tomat dan teman-temannya, menciumiku sembari berjalan ke arah ayah yang ada di teras rumah. Seketika rumah kami penuh dengan tawa kami bertiga.

Bukan tanpa alasan aku selalu seperti seolah mendengar ibu menangis ataupun ayah. Atau seolah mendengar suara ayah yang tak biasa dilantangkan ketika hanya bersama ibu, yang seingatku, suara itu hanya terdengar ketika pak Usman menelepon ayah tengah malam dari tempat kerja. Atau ketika kutanya ibu mengapa sarapanku bukan lagi cereal cokelat kesukaanku dengan potongan stroberi di dalamnya, ibu hanya menjawab biar aku tak bosan dengan diikuti adegan ayah yang tiba-tiba beranjak dari kursi dan masuk ke kamar. Lagian mana bisa aku bisa bosan dengan cereal cokelat dan stroberi sih.
Belum lagi aku yang sebulan ini selalu absen dari kegiatan di luar sekolah, ketika kutanya mengapa, ayah selalu menjawab kegiatannya tidak menunjang sekolahku atau terlalu menghabiskan uang untuk anak TK besar.

Aku mengingat mereka, dua orang yang datang ke rumah ketika aku hendak tidur siang. Mereka berbincang dan sesekali ibu menggigit bibir bawahnya sembari membaca lembaran kertas yang dibawa dua orang itu. Ibu terlihat lebih sering mengangguk cepat dan berusaha tersenyum tapi senyumnya lebih terlihat seperti menahan mules. Ketika mereka berpamitan pulang, sebuah stiker putih ditempelkan di kaca jendela sebelah kiri. Ibu masuk dan menutup pintu, sedang aku kembali ke kamarku.
Ya, sejak saat itulah aku lebih sering seperti mendengar ibu menangis atau ayah yang bersuara tidak seperti biasanya. Ah, andai aku sudah bisa membaca.

Suatu hari aku pernah bertanya mengapa kaca rumah ditempeli stiker sebesar itu sedang aku menempel satu stiker tinker bell saja tidak pernah boleh, ayah tidak menjawab. Lalu aku bertanya mengapa teman ayah yang meminjam mobil belum juga mengembalikannya karena aku capek ketika harus jalan kaki saat ke sekolah, ibu hanya membuang napas dengan berat dan berpaling. Puncaknya ketika aku merengek ingin naik bianglala di pasar malam depan komplek, ibu selalu berusaha mengalihkan perhatianku. Sedang ayah sibuk mengajakku pulang. Aku menangis sejadi-jadinya, meronta tak ingin digendong lalu ayah berteriak. Semua orang melihat kami, aku terdiam dan ibu segera menggendongku pulang.

Sejak kejadian malam itu, ibu lebih sering diam dan ayah yang selalu mudah marah pada ibu. Sarapanku tak pernah cereal cokelat dengan stroberi lagi, ayah atau ibu tak pernah mengantarku ke sekolah lagi karena ibu temanku selalu mampir ke rumah setiap pagi, ibu tak lagi menemaniku tidur siang, makanpun tak pernah lagi satu meja. Ayah lebih sering pulang malam dan aku semakin sering mendengar ibu menangis. Sejak saat itu aku berpikir, menangis karena bianglala sudah membuat aku menjadi anak yang nakal.

Suatu sore aku merasa semuanya berubah. Wajah ibuku tak lagi penuh dengan gurat kesedihan, sedang ayah sudah ada di rumah sejak aku pulang sekolah bahkan menemaniku menyisir rambut Barbie-ku. Ketika makan malam, kami bertiga dalam satu meja lagi dengan lauk dan sayur lengkap seperti dulu lagi.

Aku menangis saking harunya.
Ibu memelukku, juga ayah. Tanpa sebuah kata, hanya isak tangis kami bertiga.

Ibu mengantarku ke kamar dengan disusul ayah yang setengah berlari menggodaku. Aku berlari dan bersembunyi di balik selimut disusul ayah juga ibu, malam ini kami tidur bertiga lagi. Ibu memelukku dan ayah tak berhenti menciumi kepalaku.

Aku bergerak menatap langit-langit kamar, posisi kami sekarang  sama-sama menatap langit-langit kamarku. Saat itu aku berkata jika aku tak akan lagi minta naik bianglala dan membuat ayah marah atau membuat ibu malu karena aku yang nakal. Ibu menangis dan mengatakan jika aku tak pernah menjadi anak yang nakal, ayah juga mengatakan hal serupa dengan mata yang basah. Ayah bilang aku tak pernah membuat kesalahan, ayah bilang aku anak yang baik bahkan ayah bilang jika aku ini berharga bagi mereka. Dan sebagai penutup malam itu, ibu mengatakan jika besok kami akan pergi ke taman hiburan dan aku bisa naik bianglala sepuasnya. Yay.

Aku terbangun sendirian. Memastikan jika semalam bukanlah mimpi, aku diam-diam menuruni anak tangga. Aku tersenyum melihat ibu dan ayah berpelukan di dapur, lama sekali. Syukurlah, semalam bukanlah sebuah mimpi.

Ibu melihatku berdiri di anak tangga dan menghampiriku sambil tersenyum.  Aku dipeluknya juga, lama sekali, disusul ayah yang membuat pelukan ini semakin erat saja. Aku berontak dan mereka tertawa sambil mengucek mata.

Ayah memandikanku sedang ibu melihat kami dari pintu kamar mandi dengan membawa handuk. Ibu mengangkatku dan menuju kamar. Ayah menyusul kami dan membawa sebuah baju dan sepatu baru, ayah bilang ini hadiah untuk anak baik sepertiku hehe
Aku tak berhenti berputar di depan kaca sambil loncat kegirangan.

Ayah mengantarkan kami ke sebuah taman hiburan di tengah kota dengan mobil yang kata ayah milik kantornya. Ayah mengantarkan kami sampai pintu masuk saja karena ayah masih akan kembali bekerja. Aku mengangguk dan tak sabar segera masuk, tapi ayah kembali memelukku dan menangis. Ayah cengeng sekali akhir-akhir ini. Aku berontak dan ingin segera masuk, menyusul ibu yang ternyata sudah di dekat pintu masuk. Dari jauh aku aku melihat ayah masih di depan sana, melambaikan tangan dengan berteriak akan menjemputku lalu tangan kirinya menutup mulutnya. Aku membalasnya melambaikan tangan dan berlari ke dalam taman hiburan.

Ibu bilang aku bebas memilih wahana apapu. Iya, APAPUN.
Dari kereta katak, kuda putar, bombomcar hingga bianglala semua bisa kunaiki hari ini. Bahkan ibu membelikanku permen kapas, es krim dan gulali warna-warni. Aku meminta untuk naik bianglala lagi sebelum pulang, dan ibu mengiyakan. Asik.

Disaat berjalan menuju bianglala, ibu lebih banyak diam dan bahkan tidak menyadari ketika aku mencoba berhenti. Aku berlari dan menggangdeng tangan kirinya, ibu hanya tersenyum. Padahal kukira ibu akan kaget dan tertawa lalu menggendongku. Mungkin ibu kelelahan.

Ibu menggendongku ketika menaiki bianglala merah muda itu. Ketika tabung naik beberapa ruas, ibu bertanya padaku apakah aku bahagia hari ini. Aku menjawabnya dengan sebuah teriakan dan pelukan untuknya. Ibu memelukku dan lagi-lagi terasa lama sekali. Dalam pelukannya ibu meminta maaf karena sarapanku tak pernah lagi cereal coklat dengan stroberi, ibu meminta maaf karena harus membuat aku pergi ke sekolah dengan jalan kaki atau bersama ibu  temanku, ibu meminta maaf karena malam itu ayah dan ibu tidak bisa mengabulkan keinginanku naik bianglala, ibu juga meminta maaf karena ayah berteriak padaku. Aku ingin melihat wajah ibu tapi pelukan ibu terlalu erat hingga aku tak bisa bergerak lagi. Aku hanya diam dan mendengarkan.
Ibu juga bilang jika ia setuju dengan ayah jika aku tak pernah nakal dan membuat kesalahan bagi mereka. Dan lagi-lagi ibu bilang aku ini berharga bagi ayah dan ibu. Ibu juga bilang jika ia dan ayah begitu menyayangiku.

Ketika turun dari bianglala, ibu kembali membelikanku es krim dan beberapa cokelat juga air minum dan memasukkan ke ransel tinker bell-ku. Ibu menggandengku ke sebuah taman dengan air mancur kecil di tengahnya. Setelah peristiwa di bianglala terakhir tadi sikap ibu semakin membuatku bingung. Berkali-kali celingukan dan langsung memelukku seketika. Begitu terus selama berjalan di taman. Hingga pada akhirnya, di dekat air mancur ibu melepaskan gandenganku. Seketika aku bermain air dan berlari memutari air mancur. Ibu hanya terus melihatku tanpa tersenyum apalagi tertawa melihat ulahku. Ketika aku berlari ke arahnya ibu mendekat dan berjongkok hingga pandangan kita sejajar. Ibu memegangi kedua tanganku yang basah dan mengelapnya. Tanpa beradu pandang, ibu memintaku menungguku di sini selagi ia mengambil sesuatu yang tertinggal katanya. Aku merengek ingin ikut, tapi ibu melarangku. Ia hanya minta aku menunggunya di sini karena ibu hanya akan pergi sebentar. Aku mengangguk.

Lampu taman mulai menyala dan air mancur semakin warna-warni. Aku mendekat dan kembali ke tempat di mana ibu memintaku menunggu. Satu jam menunggu aku masih bisa berlarian, misi ini kan selalu diberikan ibu ketika ibu kehabisan lpg saat masak dan harus membelinya saat itu namun aku harus menunggu di rumah. Atau saat ibu belum juga menjemputku pulang sekolah, tunggu saja dan jangan mengiikut orang asing. Misi ini mudah sekali.

Langit sudah tak lagi berwarna oranye, aku menebar pandang ke segala sudut taman dan ibu masih belum juga kembali. AKu kembali lagi ke tempat di mana ibu memintaku menunggu, mencari cokelat di tas dan menunggunya lagi. Misi ini pasti akan segera berakhir.

Malam sudah benar-benar datang. Air mancur semakin ramai oleh mereka dan orang tuanya. Aku mengambil jaket di dalam tasku dan berusaha memakainya sendiri dan tetap menebar pandang ke arah di mana ibu pergi tadi. Tiupan angin mulai menjatuhkan daun-daun di atasku dan tatapan-tatapan orang di sekitar air mancur membuatku gelisah. Ibu belum juga kembali.

Seorang kakak cantik menghampiriku dan bertanya namaku. Aku menjawab dan memasang aksi mencari ibu lagi. Ada juga seorang ibu-ibu seperti ibuku namun sedikit tinggi dengan rambut keriting menghampiriku. Beliau menanyakan di mana orang tuaku dan kujawab ibuku akan kembali. Entah sudah berapa orang yang terus menghampiriku dan bertanya hal-hal yang sama dan aku semakin tak nyaman. Bahkan seorang bapak dengan telepon warna hitam dengan antena bulat tebal semakin berisik dengan suara temannya yang keluar dari telepon itu, memaksa aku mengikutinya ke ruang informasi katanya. Aku menggeleng. Ibu bilang hanya pergi sebentar.

Paksaan orang-orang membuatku menangis. Mereka sungguh membuatku tidak nyaman. Mereka terus memaksaku padahal aku sudah bilang berulang kali jika ibuku pergi sebentar dan memintaku untuk menunggunya di sini. Mengapa mereka begitu berisik sekali.

Bapak dengan telepon antenna masih di sebelahku, sedang tatapan orang-orang semakin membuatku tertunduk. Angin malam terus membuatku bersin dan menguap. Aku tidak boleh mengantuk, bagaimana jika aku tertidur, bapak telepon antenna ini membawaku dan ketika ibu kembali aku tidak ada di sini, ibu pasti marah sekali. Aku tak mau jadi anak nakal lagi seperti di pasar malam dekat komplek dulu.

Speaker taman mengumumkan jika taman akan segera ditutup, bapak antenna semakin memaksaku dan aku terus menangis tak mau pergi. Aku hanya ingat aku terus menangis sambil tak berhenti berkata jika ibu memintaku menunggunya.

Hingga suatu pagi, aku terbangun dalam sebuah ranjang bersprei putih dekat jendela dengan wajah-wajah asing yang tak pernah aku kenal. Aku melihat ke arah jendela melihat banyak anak sebesar aku berlarian, kakak-kakak yang menjemur baju dan masih banyak lagi. Aku memandang ke sekitarku, ada tujuh ranjang berjejer dengan tatanan sprei yang sama. Aku kembali melihat ke arah jendela dan melihat sebuah pohon di dekat sebuah ayunan.

Ibu bilang, ia akan kembali. Ibu bilang, ia hanya pergi sebentar. Ibu bilang aku hanya harus menunggunya. Bahkan ayah bilang, ia akan menjemputku. Aku sudah menunggu hingga matahari sudah terbenam bahkan terang yang berganti dengan lampu taman saking gelapnya. Tidakkah ibu dan ayah tau jika aku benci gelap malam, apalagi sendirian. Mengapa ibu tak pernah kembali lagi? Aku terus menunggu ibu meski ajakan orang-orang di sana lebih terdengar mengkhawatirkanku, bahkan aku lebih mempercayai semua perkataan ibu. Tidakkah ibu tahu aku menahan ketakutanku akan gelap dan tiupan angin malam yang semakin membuat ngilu di radang paruku? Tidakkah ibu dan ayah tau, cokelat dan permen tak membuatku benar-benar merasa kenyang di tengah tiupan angin malam begini. Ibu bilang aku bukan anak yang nakal, ayah bilang aku tidak sekalipun pernah membuat kesalahan. Ayah dan ibu bilang aku anak yang baik. Bahkan kalian juga bilang tidak akan membiarkanku merasa ketakutan. Tapi mengapa kalian tak pernah datang? Seperti kata ibu aku hanya harus menunggu saat ibu pergi, tapi ibu belum kembali, belum juga kembali, masih belum juga kembali hingga tak pernah kembali lagi.

Pada akhirnya aku ditinggalkan sendirian. Apakah dengan meninggalkanku dalam keramaian, ibu berpikir aku tak akan merasa kesepian? Apakah dengan dengan cokelat dan gulali ini, ibu merasa aku tak akan merasa pahit hari itu? Apakah dengan berjanji menjemputku, ayah sudah merasa seperti ayah-ayah temanku yang lain? Apakah dengan menghujaniku banyak pelukan dan ciuman membuat kalian berpikir aku akan selalu mengingat bagaimana rasanya dipeluk dan dicium? Apakah dengan meninggalkanku bisa mengurangi permasalahan yang sungguh tak pernah aku tau?


Sekarang yang aku tau hanyalah jika aku tak seberharga apa yang ayah dan ibu bilang.

1 comments