Suasana mendadak hening. Mata keduanya saling melempar
pandang, berusaha tak bertemu pada satu titik.
Dulu saat bunga-bunga menghiasai taman mereka yang
nantinya tempat mereka bertukar janji untuk hidup bersama, sebuah lagu pernah
dinyanyikan lelaki itu pada wanita yang hendak ia nikahi. Sebuah lagu yang
minimal cocok untuk suasana pernikahan. Saling mengajukan jari manis,
bergantian menyematkan cincin di jari manis masing-masing lalu berciuman di
tengah sorak sorai doa keluarga, kerabat dan para sahabat.
Sesederhana itu.
Hingga kini, semua tak lagi bisa sederhana.
Pernikahan itu belum juga terwujud, tapi lagu itu masih
setia mereka dengarkan. Sebagai semangat untuk berjuang yang pada akhirnya juga
terdengar seperti sebuah duka yang diindah-indahkan. Taman semakin kehilangan
satu-persatu bunganya, rumput yang mulai menguning dan mata yang selalu sembab
pada wanitanya.
Entah, akankah ada pernikahan itu nantinya.
Hari ini mereka akan berpisah.
Sengaja datang lebih awal agar bisa berbincang di tengah
lalu-lalang bandara. Semoga kota saja yang sekarang terpisah, hati dan rencana
pernikahan ini jangan. Doa mereka di setiap hentak kaki pertemuan dan
perpisahan terjadi. Lelakinya terus menguatkan wanitanya, menggenggam tangannya
dan terus menciuminya.
Sebuah taksi perlahan berhenti tepat di hadapan mereka,
genggaman mereka terlepas. Pak sopir yang terburu-buru membuka bagasi, lupa
menutup kembali pintu kemudinya hingga suara radio dengan volume tinggi
terdengar di sekitar jejeran kursi ruang tunggu.
Seolah sebuah soundtrack dalam film, semua melambat dan
denting piano mengisi kenangan mereka.
Suasana mendadak hening. Mata keduanya saling melempar
pandang, berusaha tak bertemu pada satu titik. Sang lelaki sibuk memejamkan
mata dan mengusap wajah, sedang wanitanya sibuk menebar pandang dan menahan
kedip matanya agar air mata tak jatuh tertumpah.
Entah mengapa lagu pilihan mereka untuk pernikahan nanti
terdengar sangat menyedihkan kali ini.
“And
this journey that we're on.
How far we've come and I celebrate every moment.
And when you say you love me,
That's all you have to say.
I'll always feel this way.
When you say you love me
The world goes still, so still inside and
When you say you love me
In that moment,I know why I'm alive...”
Hingga panggilan boarding untuk perjalanan lelaki itu terdengar, mereka sibuk
mengusap mata dan susah payah terlihat baik-baik saja.
