Untuk @lely_setyawan87
Entah bagaimana jaring abstrak ini menemukan kita dalam
semesta yang luasnya tak kira-kira. Begitu saja hingga kini sesekali aku
merindukanmu seperti seorang adik yang yang ditinggal kakaknya menikah dan
hidup di luar sana. Rindu sekali.
Aku ingat pertama kali kita bertemu, seperti seorang
kakak yang menemukan adiknya tersesat lalu diberi makan. Diajak berbincang lalu
saling berpelukan. Nyaman sekali rasanya.
Bahkan aku tak malu melihatmu lamat-lamat saat mengunyah
sampai beberapa kali mencubit pipimu gemas. Padahal itu pertemuan pertama kita.
Untung saja itu kamu ya mba bukan gebetan, bisa-bisa aku dituduh wanita cabul.
Hehe.
Terima kasih untuk menyapaku lebih dulu waktu itu,
terlebih kalau tidak salah mengingat, saat itu aku sedang tertekan dengan
keadaan bapak yang sakitnya tak seperti biasanya. Meski dengan membacanya, aku
seperti dikuatkan oleh setiap doamu. Pun berkat doa-mu, hingga hari ini aku
masih bisa menemani si bapak. Terima kasih.
Karenamu juga si anak ragil dengan ini bisa merasakan
bagaimana mempunyai kakak perempuan. Meski sekalinya dapat, si kakak sudah
menikah dan tinggal dengan suaminya. Terima kasih.
Hari ini tepat setahun pertemuan pertama di sekian waktu
perkenalan kita. Terima kasih atas telinga yang selalu siap mendengarkan, mata
yang terus memperhatikan, peluk yang menenangkan juga pipi yang selalu menjadi
medan cubitan. Sehat dan berbahagialah di setiap kakimu melangkah bersama suami
dan semoga tahun ini, menjadi ibu bisa kau dapati.

1 comments
Keren kak tulisannya, semangat :)
BalasHapus