Tanpa Jeda

Kita selalu ingin berada dalam satu gerbong kereta, dimana kita bisa duduk berdampingan dengan gelayut tangan dan kepala yang saling disandarkan. Sibuk memilih menu di kereta makan sambil sesekali menertawakan televisi yang sekilas menampilkan Gibran; cekikikan. Bukan seperti Tugu pertama kita, kamu yang menunggu entah dimana sedang degup jantungku yang mulai kehilangan arah. Yang seakan hujan sudah tau ceritanya, rela mereda agar canggung suara-suara kita mengalun dalam irama yang sama.

Mungkin saat ini kita masih tergesa menghitung berapa stasiun lagi untuk saling melepas peluk, menamatkan beberapa hari yang tidak banyak ini dan menukarnya dengan doa-doa untuk lebih bahagia lagi, sementara melupakan seberapa sedihnya nanti saat berpamitan lagi. 

Nanti akan ada hari dimana kita akhirnya di kota yang sama dalam kereta menuju rumah, buah doa-doa kita yang mengangkasa. Semoga kita masih punya cinta yang sama, sebab rumah yang berisikan kita seperti bentuk bahagia yang tak memiliki jeda.

0 comments