Doa indahmu atas diriku bak sebuah perjudian dengan segala kebetulan. Pesan pendekku bak jawaban yang menyelinap dalam mimpi di sepertiga malam. Barangkali keruh hatiku meredam jernih rasamu, riuh kepalaku menutup suara panggilanmu, sedang riang sambutmu masih terasa mengganggu.
Dan jika tak sedang dikejar waktu, senang jika kamu mau berlama-lama menunggu.
Jika sudi menarik kembali kita di sore awal bertemu, aku masihlah wanita yang dipenuhi banyak ragu. Bukan pada pandangan pertama, bukan pula langsung suka sejatuh-jatuhnya; sepenuh hatiku yang penuh cinta ini adalah buah dari waktu-waktu yang kita habiskan bersama.
Maka mengertilah, jika maafmu tak cukup membuatku seketika sembuh atau rasa bersalahmu tidak pula cukup membuatku lalu luluh. Pun hatiku, yang lukanya tak akan cukup satu tangisan untuk sembuh. Pun diriku, semampunya melewati waktu untuk kembali menjadi utuh.
Barangkali saat ini memang hatiku seluas-luasnya hatiku sejak
dulu. Isinya berjejal segala bentuk rasa yang entah kapan dan bagaimana mereka menunjukkan
wujudnya suatu hari nanti. Di kala kurasa mereka berdesakan di dalam sana, seakan
hidupku justru di tengah tornado yang hanya terasa hening dan asing. Berjejal
desak berlarian, mereka berputar seakan terburu untuk minta kurasakan. Yang
semakin kencang mereka berputar semakin hening tubuhku menerima putaran rasa
ini. Seringkali aku hilang dalam kepalaku, bak teleportasi dalam semua sinema
luar negeri, kepalaku sungguh sering di luar kendali.
Satu waktu aku bisa menghabiskan waktu dengan berlari atau
berjalan bak atlet lari, yang waktu bekerja lah yang bisa menjeda. Satu waktu
aku bisa menghabiskan waktu dengan memilih banyak makanan, yang hanya bisa
dihentikan oleh perutku yang menolak terus dijejal makanan. Satu waktu aku bisa
mengabiskan waktu untuk terus bekerja, yang setiap kurasa lelah aku hanya cukup
menutup mata. Satu waktu aku bisa menghabiskan waktu untuk tidur, yang setiap
terbangun aku hanya akan meraih obat flu yang lain. Satu waktu itu adalah masa
hening di tengah tornado rasaku, satu waktu itu adalah masa bertahanku, saat semua
rasa berlomba untuk dirasakan, saat hidup dan diriku ingin diselamatkan.
Demi Tuhan, ini sungguh memuakkan.
Dia samarkan rasa bersalah lewat doa-doa agar akupun segera menemukan bahagia, seperti dirinya yang tengah merayakan cinta barunya. Lalu, apa pesta perayaan cinta barunya kurang meriah jika tanpa aku yang tengah ikut berpesta? Melupakan luka untuk sekedar mengucap selamat dan semoga bahagia?
Lalu sampailah aku dalam menghadapi segala kebohongan-kebohongan itu tak lagi membuatku marah, setengah mati rasanya mencari tau apakah nyata cinta ini benar ada atau sebatas aku yang kamu letakkan dalam diorama.
Bagaimana rasanya, melihatku yang penuh cinta dibalik kotak kaca?
Bagaimana kelihatannya, aku yang hancur masih kau tanya lagi perasaannya?
Dusta dan nyata kini tak terlihat ada beda, terus memaksa membedakannya tak menghilangkan fakta bahwa aku pun sudah terluka. Terbaik hatiku sudah kuberikan, meski ternyata semua berakhir dalam kebohongan yang semoga aku tak pernah berkubang dalam penyesalan. Sembuhlah dengan orang baru, sembuhku biar menjadi urusanku. Pun aku tidak berencana untuk memaksa diri terlihat baik-baik saja, kuungkapkan sakitku jika memang masih terasa. Jika sakitku masih menghidupkanmu dalam rasa bersalah, maka terimalah untuk hidup di dalamnya.