Charitri

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

September ini, bapak 68 tahun. Raganya sudah banyak lemahnya, daya ingatnya sudah banyak lupanya, bicaranya pun sudah lebih sering hilang kosa katanya.

Dua minggu setelah Lebaran, saat hati masih begitu angkuh memeluk ketegaran, malam sekali kuhampiri bapak di kamar dengan insulin yang siap disuntikkan. Yang biasanya hanya sedikit terbangun, malam itu membalikkan badannya tepat ke hadapan.

Namanya, adalah kata pertama yang bapak ucapkan. Nama yang sedang ingin kulupakan, bapak sebut perlahan. Bapak tanya apakah aku pulang larut dengannya, kuangguk kepalaku sekenanya. Bapak harusnya lupa saja, ingatan bapak tentangnya sudah tak akan ada lagi kenangannya. Harusnya bapak lupakan saja.

Barangkali isi kepalaku saat ini adalah bapak yang sehari-sehari. Yang kapan saja percikan ingatannya begitu melemahkan, yang mencegahnya pun tak akan bisa diupayakan.

Pagi ini pintu kamarku digoyangnya kencang, aku beranjak cepat kukira minta dicarikan acara tv yang sedang tayang. Ternyata, ingatan tentangnya kembali datang. Pagi ini bapak lupa namanya, bapak tanya mengapa dia lama tak datang ke rumah.

Bapak, aku sedang mengusahakan rela jadi bapak bisa mulai untuk lupakan segera ya.

Ada beberapa hal yang entah bagaimana kerasnya ingin kudapatkan hanya berakhir menjadi lipatan kecil di sudut hati. Sudah menyerah, tak juga ingin membuangnya, hanya ingin dia tetap terlihat dan meninggalakn setitik harapan suatu hari entah itu kapan dia akan hidup atau dihidupkan kembali; olehku sendiri atau orang lain. Ketenangan.

Barangkali karena memang sudah menyerah, aku sudah tidak tertarik mengejarnya. Sesekali teringat meski langsung tersadar untuk berhenti mendekat. Pun ketika itu ada pada diri yang berwujud, kecil hatiku sekuat hati menjauh.

Namanya Tenang, sesuai hidupnya; setidaknya itu yang kugambarkan. Dia tak keberatan mendongakkan lehernya sepanjang film yang ingin kutonton hari itu, tak apa katanya film-nya seru. Aneh kan, andai aku yang beli tiketnya aku pasti pilih jam selanjutnya. Tapi begitulah kami berdua, hari pertama sudah terlihat berbeda.

Tenang mengajariku berenang. Di dalam air, hidup kami berdua jelas terlihat tidak seimbang.

Tenang dan hidupnya seperti lipatan kecil di hatiku, lipatan kecil yang diam-diam masih kudoakan untuk kembali hidup. Bersamanya aku menjadi kerdil, besar hatinya menggerus hatiku semakin kecil, sejenak kudambakan apa yang bisa kupertaruhkan agar suatu saat nanti hidupku yang riuh ini akan menenang dalam tangannya yang penuh andil.

Hidupnya adalah lautan dengan ombak yang tenang, sedang aku adalah badai yang siap kapanpun menerjang. Ingat saat kubilang dia mengajariku berenang? Ada satu waktu aku hilang seimbang dan hampir tenggelam, kugapai apapun tapi tak kudapatkan satupun meski akhirnya satu tarikan tangannya menolongku ke tepian. Rambutku menutup seluruh wajahku, kubiarkan agar tak terlihat marahku. Dia bilang aku kurang tenang saat akhirnya berani kutatap matanya, dan entah bagaimana takut dan marahku seketika mereda. Dia begitu menguasai diri dan hidupnya, sedang aku adalah gegabah yang terus membuat ulah.

Suatu pagi dia bertanya bagaimana tidurku, kubilang cukup nyenyak meski tak ada suara kipas atau anak-anak yang berteriak. Dia tertawa, menganggapku aneh. Tapi akupun merasa cukup aneh, dua malam di keheningan rumahnya seakan membungkam seluruh riak ombak di kepalaku. Satu malam aku tersadar, kami duduk dalam satu ruangan tanpa obrolan yang panjang. Dia dan dunianya, aku dan duniaku yang riuhnya seakan luruh. Lipatan di hatiku seakan menggeliat membuka dirinya, menggoda untuk dihidupkan segera.

Kecil hatiku seakan kembali menarik diri menjauh, bagaimana jika badaiku membuat tenang lautnya berombak dan mengeruh? riuhku mengganggu dan hadirku menantang bersiteru? Mungkin memang sebaiknya aku bergegas pulang. Terima kasih ya sudah merawat badaiku merasakan tempat yang tenang.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ►  2025 (3)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ▼  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ▼  Juni 2024 (2)
      • Ingatan
      • Tenang
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ►  April 2022 (3)
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © Charitri. Designed by OddThemes