Sebuah tawa kecil yang riuh datang,
mengetuk pintu dengan gelak yang susah kutolak.
"Berteduh atau bertamu?", tanyaku.
Sebab ruangku masih penuh serakan yang entah kapan selesai dibersihkan.
"Kalau pintu masih bisa dibuka, kan?", jawabnya menggoda.
Kupersilahkan dan sekarang tawanya menyeruak memenuhi ruangan, menyenangkan.
Hingga sampai
juga kita di malam seperti ini, memandang api unggun yang sama meski tak saling
bersebelah. Malam menahan kita hingga kerumunan berubah menjadi sepi,
meninggalkan kita dengan baranya yang kian mereda.
Bukankah api
unggun itu semakin terlihat seperti kita?
Ada kalanya
dulu saling bergantian mengambil kayu demi menjaga apinya, mengusir dingin
dengan saling menghampiri dengan tangan penuh ubi. Karena kita berdua tau, memandangnya
saja tak membuat bara menang dari dingin malam.
Hingga sampai
juga kita di malam seperti ini, memandang api unggun yang sama meski tak lagi
bersebelah. Sesekali bertemu tatap seolah menunggu siapa yang lebih dulu
membuat dingin tak lagi ingin menetap, entah dengan kembali menyalakan api atau
bersiap pergi.