Charitri

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Apakah semua yang kita hadapi harus menjadi berarti atau sekadar memori, saat ini sering mengganggu hati. Kadang rindu saat dulu ketika melihat senyum artinya suka dan cemberut artinya marah. Mudah.

Terakhir kali aku menjadikan berarti padanya yang hanya sebatas menjadi tumpukan memori. Ya, aku susah payah menjalani dan memaknai hidup nyatanya, baginya, ini hanyalah waktu luangnya untuk mencari tawa.


Aku lihat lagi kedua tanganku, di tiap sela jemari dan kuku. Tidakkah ada rasa utuh ketika membuat mereka tergenggam penuh?
Aku berkaca dan menatap kedua lenganku. Bukankah merepotkan ketika kamu kembali untuk memaksaku berjalan lagi saat aku kalah debat hanya dengan satu dekap?


Jika bagimu berlebihan memberikan arti dibanding sekadar membuat memori, lalu apakah kecup masih tak juga cukup?

 

Kadang kita memang butuh mata orang lain untuk menyadarkan bagaimana keadaan kita sesungguhnya, karena sebaik-baiknya pantulan cermin di mata kita ada mata di luar sana yang secara nyata menangkap utuh bagaimana terbaliknya pantulan cermin dari mata kita sendiri.

 

Kemarin seolah menjadi hari yang panjang di penghujung hariku, kukira aku bisa menutup hariku dengan tenang seperti biasanya tapi pertemuanku dengan seseorang seolah membuka gerbang panjang memaksa hari itu menjadi semakin tak ada ujungnya. Dia datang dengan senyum yang sama, memelukku sebentar dan meletakkan telapak tangan kirinya di kepalaku; seperti biasa.

 

Kita berbincang cukup lama, tentang kota baru yang ditinggalinya, load pekerjaan yang semakin ngga masuk akal, soal mama yang makin hari semakin random kelakuannya, tentang teman-teman kita hingga obrolan sensitif soalnya kita pun muncul juga. Aku mendengar suaranya sedikit bergetar tapi seolah hilang dengan tegukan minuman kesukaannya itu; berulang kali di setiap kalimatnya yang keluar.

 

Kukira dia sudah mabuk saja ketika akhirnya aku melihat dia terisak dengan kepala tertunduk di kedua lututnya, tapi melihat kembali minuman yang dia pegang sedari tadi rasanya tidak mungkin; ya, itu hanya cola. Aku sadar aku sedang dimarahinya sedari pembahasan tentang kita saat ini mulai dibicarakan. Aku tak berusaha mendebatnya karena kupikir-pikir apa yang dia ucapkan memang itulah yang sedang terjadi saat ini. Dia masih tertunduk, terus mengoceh dan sesekali terisak sedang aku hanya bisa menatapnya dan tak  berusaha menenangkannya karena aku sudah sibuk menenangkan diriku sendiri.

 

--

 

“Aku masih terus tanya gimana kamu hidup sampai sekarang ini, ke siapapun, aku harus tau. Dari semua jawaban yang aku denger dari kamu baik-baik aja sampai yang lagi buruk, bayangin aja aku ga bisa ngelakuin apa-apa. Dan dari apa yang kutahan selama ini, tau rasanya gimana aku ngeliat kamu hari ini?  Aku ngerasa hidupku tadi berenti, semuanya. Gimana ngga tau malunya aku buat ngadepin kamu lagi di kondisimu yang sekarang ini. Kamu bilang pengen lepas dari aku, kamu bilang pengen bahagia lagi meski ngga sama aku, lalu kenapa aku liat kamu hari ini dengan kondisi yang masih kayak gini? Kamu tau gimana susahnya aku selama ini ngelepasin kamu?”

 

--

 

Kukira aku cukup baik-baik saja hingga saat ini. Tapi mendengar semua ucapannya aku merasa hanya memaksakan diriku menjadi seperti saat ini. Aku hanya mengalihkan semua yang kurasakan menjadi hal lain yang harus kubiasakan. Aku bahkan masih suka menyikitiku diriku sendiri untuk berusaha melupakan ada luka lain yang lebih besar dari itu. Aku tak lagi ingat kapan aku tidur dengan nyenyak sejak hari itu, aku terus merasa cemas jika merasa sendiri. Ada kalanya aku menangis semalaman seperti orang gila, bahkan terkadang aku mengunci diriku di kamar berhari-hari.

 

Kesedihan membuat kita merasa egois. Selama ini aku hanya merasa jika aku yang paling merasa sakit dan terluka diantara kita, tapi malam itu aku mendengarkan betapa dia juga merasa bahwa dirinyalah yang paling merasa sakit. Aku tersadar, ternyata kita berdua sama-sama terlukanya.

Ini pagi keempatku tanpa bisa tertidur sama sekali, dan semalam adalah puncaknya ketika menangis sama sekali tak bisa kuhentikan. Pagi ini aku merasa aneh, rasanya kesedihan tak habis dengan banyaknya aku menangis semalam dan bagaimanapun aku mengelak aku masih merasakan sakit. Aku seperti tak ingin melakukan apapun, bahkan pergi ke meja kantorku sendiri dimana sering kuanggap tempatku melarikan diri, aku sungguh tak ingin melakukan apapun, aku hanya ingin menghilang seperti tak pernah ada. Dadaku terasa penuh, begitu menyesakkan dan aku terus merasakan sedih.

Mungkin karena akhir-akhir ini terlalu melelahkan bagiku, terlalu banyak yang kuhadapi, terlalu banyak hasil yang mengecewakan dan kebingungan-kebingungan diri sendiri yang tak bisa kubagikan dengan siapapun. Bahkan hari ini aku merasakan begitu kesepian hingga merindukan pertanyaan “apa kamu baik-baik saja?” dari orang lain. Ah sial, pertanyaan mudah seperti itu pun aku tak bisa mendapatkannya; bayangkan saja betapa satu kalimat itu begitu bisa menghiburku saat ini.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ►  2025 (3)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Juni 2024 (2)
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ►  April 2022 (3)
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ▼  2021 (3)
    • ▼  Mei 2021 (1)
      • Berarti Dalam Caramu
    • ►  April 2021 (2)
      • Bodoh;
      • Lagi;
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © Charitri. Designed by OddThemes