Nu,

September membawaku pada titik keberanian yang entah dari mana asalnya; menemuimu. Padahal aku juga tidak semenganggur itu untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan paling buruk setelahnya; menjauhiku.

Supermarket baru di ujung jalan menyamakan langkah kita, bersahutan keluhan, menertawakan kehidupan hingga diam kekenyangan. Astaga jika saja keberanian akan selalu semenyenangkan ini, bagaimana malam ini bisa kuakhiri?

Kucuri pelukmu di bawah temaram lampu kota yang mulai tertutup rimbun pepohonan, di depan pintu taksi yang sudah terbuka, dan mungkin saja disaksikan satpam ruko jaga malam atau beberapa pengendara yang lalu lalang. Tiga detik. Keberanian itu menghidupkan harapan.

Harapan menghidupiku hingga Desember, lalu Februari datang dengan cinta, peluk dan cium yang tak perlu lagi kupikirkan caranya untuk kucuri darimu. Tapi sayang keberanian jatuh cinta kita tidak bertahan hingga Februari selanjutnya.

0 comments