Charitri

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
pic by, google
Semalam, aku mendengar ibu menangis sedang ayahku belum datang ketika aku beranjak tidur. Seperti mimpi yang hilang ketika pagi datang, tak ada tanda gurat kesedihan di wajah ibuku dan ayah seperti biasa dengan singlet kusamnya berdiri di teras rumah dengan selang air yang mengarah di kebun kecil milik kami saat aku bangun tidur. Semua nampak biasa saja, tak ada tanda yang bisa kubaca yang membuat ibuku menangis. Ya, sepertinya memang hanya mimpi.

Ibu menggendongku sesaat melihatku berdiri di anak tangga kedua. Meninggalkan irisan tomat dan teman-temannya, menciumiku sembari berjalan ke arah ayah yang ada di teras rumah. Seketika rumah kami penuh dengan tawa kami bertiga.

Bukan tanpa alasan aku selalu seperti seolah mendengar ibu menangis ataupun ayah. Atau seolah mendengar suara ayah yang tak biasa dilantangkan ketika hanya bersama ibu, yang seingatku, suara itu hanya terdengar ketika pak Usman menelepon ayah tengah malam dari tempat kerja. Atau ketika kutanya ibu mengapa sarapanku bukan lagi cereal cokelat kesukaanku dengan potongan stroberi di dalamnya, ibu hanya menjawab biar aku tak bosan dengan diikuti adegan ayah yang tiba-tiba beranjak dari kursi dan masuk ke kamar. Lagian mana bisa aku bisa bosan dengan cereal cokelat dan stroberi sih.
Belum lagi aku yang sebulan ini selalu absen dari kegiatan di luar sekolah, ketika kutanya mengapa, ayah selalu menjawab kegiatannya tidak menunjang sekolahku atau terlalu menghabiskan uang untuk anak TK besar.

Aku mengingat mereka, dua orang yang datang ke rumah ketika aku hendak tidur siang. Mereka berbincang dan sesekali ibu menggigit bibir bawahnya sembari membaca lembaran kertas yang dibawa dua orang itu. Ibu terlihat lebih sering mengangguk cepat dan berusaha tersenyum tapi senyumnya lebih terlihat seperti menahan mules. Ketika mereka berpamitan pulang, sebuah stiker putih ditempelkan di kaca jendela sebelah kiri. Ibu masuk dan menutup pintu, sedang aku kembali ke kamarku.
Ya, sejak saat itulah aku lebih sering seperti mendengar ibu menangis atau ayah yang bersuara tidak seperti biasanya. Ah, andai aku sudah bisa membaca.

Suatu hari aku pernah bertanya mengapa kaca rumah ditempeli stiker sebesar itu sedang aku menempel satu stiker tinker bell saja tidak pernah boleh, ayah tidak menjawab. Lalu aku bertanya mengapa teman ayah yang meminjam mobil belum juga mengembalikannya karena aku capek ketika harus jalan kaki saat ke sekolah, ibu hanya membuang napas dengan berat dan berpaling. Puncaknya ketika aku merengek ingin naik bianglala di pasar malam depan komplek, ibu selalu berusaha mengalihkan perhatianku. Sedang ayah sibuk mengajakku pulang. Aku menangis sejadi-jadinya, meronta tak ingin digendong lalu ayah berteriak. Semua orang melihat kami, aku terdiam dan ibu segera menggendongku pulang.

Sejak kejadian malam itu, ibu lebih sering diam dan ayah yang selalu mudah marah pada ibu. Sarapanku tak pernah cereal cokelat dengan stroberi lagi, ayah atau ibu tak pernah mengantarku ke sekolah lagi karena ibu temanku selalu mampir ke rumah setiap pagi, ibu tak lagi menemaniku tidur siang, makanpun tak pernah lagi satu meja. Ayah lebih sering pulang malam dan aku semakin sering mendengar ibu menangis. Sejak saat itu aku berpikir, menangis karena bianglala sudah membuat aku menjadi anak yang nakal.

Suatu sore aku merasa semuanya berubah. Wajah ibuku tak lagi penuh dengan gurat kesedihan, sedang ayah sudah ada di rumah sejak aku pulang sekolah bahkan menemaniku menyisir rambut Barbie-ku. Ketika makan malam, kami bertiga dalam satu meja lagi dengan lauk dan sayur lengkap seperti dulu lagi.

Aku menangis saking harunya.
Ibu memelukku, juga ayah. Tanpa sebuah kata, hanya isak tangis kami bertiga.

Ibu mengantarku ke kamar dengan disusul ayah yang setengah berlari menggodaku. Aku berlari dan bersembunyi di balik selimut disusul ayah juga ibu, malam ini kami tidur bertiga lagi. Ibu memelukku dan ayah tak berhenti menciumi kepalaku.

Aku bergerak menatap langit-langit kamar, posisi kami sekarang  sama-sama menatap langit-langit kamarku. Saat itu aku berkata jika aku tak akan lagi minta naik bianglala dan membuat ayah marah atau membuat ibu malu karena aku yang nakal. Ibu menangis dan mengatakan jika aku tak pernah menjadi anak yang nakal, ayah juga mengatakan hal serupa dengan mata yang basah. Ayah bilang aku tak pernah membuat kesalahan, ayah bilang aku anak yang baik bahkan ayah bilang jika aku ini berharga bagi mereka. Dan sebagai penutup malam itu, ibu mengatakan jika besok kami akan pergi ke taman hiburan dan aku bisa naik bianglala sepuasnya. Yay.

Aku terbangun sendirian. Memastikan jika semalam bukanlah mimpi, aku diam-diam menuruni anak tangga. Aku tersenyum melihat ibu dan ayah berpelukan di dapur, lama sekali. Syukurlah, semalam bukanlah sebuah mimpi.

Ibu melihatku berdiri di anak tangga dan menghampiriku sambil tersenyum.  Aku dipeluknya juga, lama sekali, disusul ayah yang membuat pelukan ini semakin erat saja. Aku berontak dan mereka tertawa sambil mengucek mata.

Ayah memandikanku sedang ibu melihat kami dari pintu kamar mandi dengan membawa handuk. Ibu mengangkatku dan menuju kamar. Ayah menyusul kami dan membawa sebuah baju dan sepatu baru, ayah bilang ini hadiah untuk anak baik sepertiku hehe
Aku tak berhenti berputar di depan kaca sambil loncat kegirangan.

Ayah mengantarkan kami ke sebuah taman hiburan di tengah kota dengan mobil yang kata ayah milik kantornya. Ayah mengantarkan kami sampai pintu masuk saja karena ayah masih akan kembali bekerja. Aku mengangguk dan tak sabar segera masuk, tapi ayah kembali memelukku dan menangis. Ayah cengeng sekali akhir-akhir ini. Aku berontak dan ingin segera masuk, menyusul ibu yang ternyata sudah di dekat pintu masuk. Dari jauh aku aku melihat ayah masih di depan sana, melambaikan tangan dengan berteriak akan menjemputku lalu tangan kirinya menutup mulutnya. Aku membalasnya melambaikan tangan dan berlari ke dalam taman hiburan.

Ibu bilang aku bebas memilih wahana apapu. Iya, APAPUN.
Dari kereta katak, kuda putar, bombomcar hingga bianglala semua bisa kunaiki hari ini. Bahkan ibu membelikanku permen kapas, es krim dan gulali warna-warni. Aku meminta untuk naik bianglala lagi sebelum pulang, dan ibu mengiyakan. Asik.

Disaat berjalan menuju bianglala, ibu lebih banyak diam dan bahkan tidak menyadari ketika aku mencoba berhenti. Aku berlari dan menggangdeng tangan kirinya, ibu hanya tersenyum. Padahal kukira ibu akan kaget dan tertawa lalu menggendongku. Mungkin ibu kelelahan.

Ibu menggendongku ketika menaiki bianglala merah muda itu. Ketika tabung naik beberapa ruas, ibu bertanya padaku apakah aku bahagia hari ini. Aku menjawabnya dengan sebuah teriakan dan pelukan untuknya. Ibu memelukku dan lagi-lagi terasa lama sekali. Dalam pelukannya ibu meminta maaf karena sarapanku tak pernah lagi cereal coklat dengan stroberi, ibu meminta maaf karena harus membuat aku pergi ke sekolah dengan jalan kaki atau bersama ibu  temanku, ibu meminta maaf karena malam itu ayah dan ibu tidak bisa mengabulkan keinginanku naik bianglala, ibu juga meminta maaf karena ayah berteriak padaku. Aku ingin melihat wajah ibu tapi pelukan ibu terlalu erat hingga aku tak bisa bergerak lagi. Aku hanya diam dan mendengarkan.
Ibu juga bilang jika ia setuju dengan ayah jika aku tak pernah nakal dan membuat kesalahan bagi mereka. Dan lagi-lagi ibu bilang aku ini berharga bagi ayah dan ibu. Ibu juga bilang jika ia dan ayah begitu menyayangiku.

Ketika turun dari bianglala, ibu kembali membelikanku es krim dan beberapa cokelat juga air minum dan memasukkan ke ransel tinker bell-ku. Ibu menggandengku ke sebuah taman dengan air mancur kecil di tengahnya. Setelah peristiwa di bianglala terakhir tadi sikap ibu semakin membuatku bingung. Berkali-kali celingukan dan langsung memelukku seketika. Begitu terus selama berjalan di taman. Hingga pada akhirnya, di dekat air mancur ibu melepaskan gandenganku. Seketika aku bermain air dan berlari memutari air mancur. Ibu hanya terus melihatku tanpa tersenyum apalagi tertawa melihat ulahku. Ketika aku berlari ke arahnya ibu mendekat dan berjongkok hingga pandangan kita sejajar. Ibu memegangi kedua tanganku yang basah dan mengelapnya. Tanpa beradu pandang, ibu memintaku menungguku di sini selagi ia mengambil sesuatu yang tertinggal katanya. Aku merengek ingin ikut, tapi ibu melarangku. Ia hanya minta aku menunggunya di sini karena ibu hanya akan pergi sebentar. Aku mengangguk.

Lampu taman mulai menyala dan air mancur semakin warna-warni. Aku mendekat dan kembali ke tempat di mana ibu memintaku menunggu. Satu jam menunggu aku masih bisa berlarian, misi ini kan selalu diberikan ibu ketika ibu kehabisan lpg saat masak dan harus membelinya saat itu namun aku harus menunggu di rumah. Atau saat ibu belum juga menjemputku pulang sekolah, tunggu saja dan jangan mengiikut orang asing. Misi ini mudah sekali.

Langit sudah tak lagi berwarna oranye, aku menebar pandang ke segala sudut taman dan ibu masih belum juga kembali. AKu kembali lagi ke tempat di mana ibu memintaku menunggu, mencari cokelat di tas dan menunggunya lagi. Misi ini pasti akan segera berakhir.

Malam sudah benar-benar datang. Air mancur semakin ramai oleh mereka dan orang tuanya. Aku mengambil jaket di dalam tasku dan berusaha memakainya sendiri dan tetap menebar pandang ke arah di mana ibu pergi tadi. Tiupan angin mulai menjatuhkan daun-daun di atasku dan tatapan-tatapan orang di sekitar air mancur membuatku gelisah. Ibu belum juga kembali.

Seorang kakak cantik menghampiriku dan bertanya namaku. Aku menjawab dan memasang aksi mencari ibu lagi. Ada juga seorang ibu-ibu seperti ibuku namun sedikit tinggi dengan rambut keriting menghampiriku. Beliau menanyakan di mana orang tuaku dan kujawab ibuku akan kembali. Entah sudah berapa orang yang terus menghampiriku dan bertanya hal-hal yang sama dan aku semakin tak nyaman. Bahkan seorang bapak dengan telepon warna hitam dengan antena bulat tebal semakin berisik dengan suara temannya yang keluar dari telepon itu, memaksa aku mengikutinya ke ruang informasi katanya. Aku menggeleng. Ibu bilang hanya pergi sebentar.

Paksaan orang-orang membuatku menangis. Mereka sungguh membuatku tidak nyaman. Mereka terus memaksaku padahal aku sudah bilang berulang kali jika ibuku pergi sebentar dan memintaku untuk menunggunya di sini. Mengapa mereka begitu berisik sekali.

Bapak dengan telepon antenna masih di sebelahku, sedang tatapan orang-orang semakin membuatku tertunduk. Angin malam terus membuatku bersin dan menguap. Aku tidak boleh mengantuk, bagaimana jika aku tertidur, bapak telepon antenna ini membawaku dan ketika ibu kembali aku tidak ada di sini, ibu pasti marah sekali. Aku tak mau jadi anak nakal lagi seperti di pasar malam dekat komplek dulu.

Speaker taman mengumumkan jika taman akan segera ditutup, bapak antenna semakin memaksaku dan aku terus menangis tak mau pergi. Aku hanya ingat aku terus menangis sambil tak berhenti berkata jika ibu memintaku menunggunya.

Hingga suatu pagi, aku terbangun dalam sebuah ranjang bersprei putih dekat jendela dengan wajah-wajah asing yang tak pernah aku kenal. Aku melihat ke arah jendela melihat banyak anak sebesar aku berlarian, kakak-kakak yang menjemur baju dan masih banyak lagi. Aku memandang ke sekitarku, ada tujuh ranjang berjejer dengan tatanan sprei yang sama. Aku kembali melihat ke arah jendela dan melihat sebuah pohon di dekat sebuah ayunan.

Ibu bilang, ia akan kembali. Ibu bilang, ia hanya pergi sebentar. Ibu bilang aku hanya harus menunggunya. Bahkan ayah bilang, ia akan menjemputku. Aku sudah menunggu hingga matahari sudah terbenam bahkan terang yang berganti dengan lampu taman saking gelapnya. Tidakkah ibu dan ayah tau jika aku benci gelap malam, apalagi sendirian. Mengapa ibu tak pernah kembali lagi? Aku terus menunggu ibu meski ajakan orang-orang di sana lebih terdengar mengkhawatirkanku, bahkan aku lebih mempercayai semua perkataan ibu. Tidakkah ibu tahu aku menahan ketakutanku akan gelap dan tiupan angin malam yang semakin membuat ngilu di radang paruku? Tidakkah ibu dan ayah tau, cokelat dan permen tak membuatku benar-benar merasa kenyang di tengah tiupan angin malam begini. Ibu bilang aku bukan anak yang nakal, ayah bilang aku tidak sekalipun pernah membuat kesalahan. Ayah dan ibu bilang aku anak yang baik. Bahkan kalian juga bilang tidak akan membiarkanku merasa ketakutan. Tapi mengapa kalian tak pernah datang? Seperti kata ibu aku hanya harus menunggu saat ibu pergi, tapi ibu belum kembali, belum juga kembali, masih belum juga kembali hingga tak pernah kembali lagi.

Pada akhirnya aku ditinggalkan sendirian. Apakah dengan meninggalkanku dalam keramaian, ibu berpikir aku tak akan merasa kesepian? Apakah dengan dengan cokelat dan gulali ini, ibu merasa aku tak akan merasa pahit hari itu? Apakah dengan berjanji menjemputku, ayah sudah merasa seperti ayah-ayah temanku yang lain? Apakah dengan menghujaniku banyak pelukan dan ciuman membuat kalian berpikir aku akan selalu mengingat bagaimana rasanya dipeluk dan dicium? Apakah dengan meninggalkanku bisa mengurangi permasalahan yang sungguh tak pernah aku tau?


Sekarang yang aku tau hanyalah jika aku tak seberharga apa yang ayah dan ibu bilang.
pic. by google

Aku meninggalkan ice blended kesukaanku utuh di meja coffee shop bersamanya. Kutinggalkan tanpa sedikitpun tergoda melihatnya barang sekilas kejap mata. Seakan berjalan melintas meja demi meja menuju pintu keluar yang rasanya hanya satu hela napas, aku berhasil meninggalkannya tertunduk sedari awal pembicaraan kami malam itu. Tak kudengar namaku di belakang sana, tak ada derap langkah yang cepat menujuku. Dia membiarkanku, meninggalkannya.

Tak ada yang lebih menjengkelkan dari hujan di saat seperti ini. Seperti sudah bersiap menari saat duka siap mengisi hari seseorang. Yang ada di kepalaku malam itu hanya bagaimana aku keluar dari hujan dan jalanan ini, secepatnya. Sebelum ia berubah pikiran dan sebelum aku goyah untuk kembali menyimpan duka. Ya, malam ini aku siap berduka.

Sebuah taksi menepi dengan bapak tua yang menurunkan jendelanya menawarkan jasanya, aku mengangguk. Kuminta tiga menit untuk tak melajukan taksinya, sementara aku menoleh ke arah coffee shop tempat ice blended kesukaanku dan berharap lelaki itu keluar dan mencariku. Ia keluar, aku menangis. Dari balik kaca berembun ini, aku melihatnya berlari seakan mencari seseorang. Aku bisa menyimpulkan dia mencariku bukan?
Dia berlari dan akhirnya bersandar di bawah pohon tempatku berdiri tadi, isakku semakin jadi. Bapak taksi menoleh dan mempersilahkanku membatalkan penggunaan taksinya karena melihatku yang enggan pergi. Aku menggeleng dan mengatakan jika aku hanya ingin melihat wajahnya terakhir kali. Lalu taksi melaju dengan pertanyaan si bapak yang terus kuacuhkan.

“Mau kemana ini, non?”, tanyanya berulang kali sedang mataku hanya tertuju pada bulir air hujan yang mengalir di jendela sampingku.

“Kemana aja pak, menyetir saja dulu”, jawabku.

Bapak taksi membingungkan mengapa cuaca tiba-tiba saja hujan sementara senja masih sebulat telor asin sore tadi. Lalu ia mematahkan kebingungannya sendiri dengan rasa percayanya pada Tuhan yang memiliki segala cuaca. Sesederhana itu. Sama seperti saat ini, bagaimana lancarnya hari yang dia jalani akan ditutup oleh satu penumpang cengeng yang tak tahu kemana tujuannya. Sesederahana itu. Aku mendengarkan semua ceritanya setelah perihal cuaca tadi, dari istrinya yang demam Shehrazat, anaknya yang mulai berani pacaran sampai mula perjalanan hidupnya. Aku terus mendengarkan dengan mata menatap jalanan dan sesekali beradu pandang pada kaca spion di atas dashbor-nya.

Ada kala si bapak terdiam saat mendengar isakku yang sesekali itu dan menanyakan kemana taksi ini akan berhenti dan atau si bapak juga sebenarnya ingin segera pulang dan istirahat. Tapi entahlah kepala ini masih ingin berada dalam kekosongan yang banyaknya air mata tak akan bisa mengisinya juga.

“Saya harus kemana, pak?”, tanyaku datar.

“Pulang. Bersihkan badan, berpakaian yang tebal dan istirahat”,  jawabnya sambil tersenyum di spion depan.

“Bapak sudah ingin pulang ya?”, tanyaku dengan suara bergetar.

“Bagaimana saya pulang jika penumpang saya masih ada dalam taksi dan belum sampai tujuan. Saya selalu ingin pulang kok, tapi saya tahu kapan saya harus pulang”, jawabnya sambil membelokkan kemudi.

“Saya justru belum ingin pulang pak. Bagaimana kalau saya melakukan hal bodoh saat sendiri nanti? Atau bagaimana kalau saya malah terus menangis?”, jawabku.

Derak wipers terus berjalan pertanda hujan masih ada dan si bapak sibuk di belakang kemudi tanpa menjawabku lagi. Lampu-lampu rem mobil di depan sana semakin memudar seperti efek bokeh, warna-warni dengan background gelap malam. Aku membuang pandangku pada jendela sampingku lagi, mengamati jalanan dan bulir air yang terus turun.

Bagaimana rasa rindu terus datang di hari saat kita berpisah? Dan bagaimana kamu bisa membiarkanku pergi meninggalkanmu dan membuatku memilih berduka pada hubungan yang begitu indah ini? Bukankan kita sudah mempersiapkan gedung pernikahan, jumlah undangan dan segala macam kebutuhan pernikahan? Bagaimana aku bisa lebih memilih berduka di atas semua itu? Dan bagaimana kamu bisa membiarkankanku?

Taksi terus melaju hingga kini lepas dari deretan kemacetan tengah kota, wiper hanya sesekali bergerak, malam semakin gelap dan hati semakin kalut. Aku hanya ingin duduk dan membiarkan kemudi taksi ini membawaku entah kemana karena jika aku turun pun, ini masih jauh dari rumah.

“Pulang itu tidak hanya rumah. Bisa jadi perkara hati juga. Sempat saya tawarkan tadi untuk turun tapi non lebih memilih berdiam dan akhirnya melaju di dalam taksi saya. Boleh saya asumsikan, non yang memang ingin pergi. Jika sudah pergi dari satu tempat, sempatkan pulang. Menata rumah yang berantakan yang lama ditinggal, menata hati yang berantakan saat memutuskan pergi yang hanya membawa luka, istirahat dan sembuhkan lukanya bukan malah merawatnya. Senyaman apapun tempat yang pernah dianggap rumah, itu tak pernah benar-benar membuat itu menjadi rumah sendiri. Orang berduka itu tak apa menangis, lah wong rasanya memang sakit. Ndak apa”, kata si bapak tiba-tiba.

Seketika kusebutkan alamat rumah, si bapak tersenyum dan membelokkan kemudinya.

Ada sedikit hal yang kembali pada kepala kosongku sejak tadi, pulang. Selama ini kubangun sendiri rasa nyaman di tempat asing yang kunamai rumah tanpa permisi. Aku akan pulang, menata rasa nyaman yang lama aku acuhkan, menyembuhkan luka sambil berduka. Mungkin aku akan sering menangis hari-hari ke depan, sambil memungut bingkai-bingkai kebahagian yang pernah kami buat. Atau menata letak kursi di teras belakang yang biasa kami tempati menghabiskan akhir pekan sambil membaca buku, dipindah atau mungkin akan kuganti yang baru. Aku akan sibuk hari-hari ke depan. Membatalkan semua persiapan pernikahan hingga sibuk mengumpulkan keberanian di depan para keluarga. Sibuk menjawab dan kemudian menangis kehabisan kata-kata. Kupikirkan lagi tentang kesibukanku nanti, saat ini aku hanya berharap pada perjalanan menembus hujan ini bisa melupakannya

Jika cuaca saja bisa berubah sedemikian mudahnya, bukankah hal mudah bagi Tuhan untuk membalikkan perasaan yang dimiliki umatnya? Ah, aku mendadak religius.

Lampu taman rumah ku sudah terlihat dari jauh, aku mengusap mata dan membetulkan posisi dudukku. Perlahan taksi melambat dan si bapak mengingatkan agar tidak ada barang yang tertinggal. Aku berterima kasih karena si bapak menunda rasa inginnya untuk pulang dan bertemu dengan keluarganya. Mungkin menurutnya aku ini penumpang menyebalkan, menangis sepanjang perjalanan dan tak tau kemana ia ingin pergi atau mungkin aku ini penumpang pertamanya yang sedikit gila? Namun si bapak hanya tersenyum dan menggeleng.

Taksi berhenti tepat di depan pagar rumahku dan secepat kilat si bapak menoleh ke arahku kebingungan karena aku kembali menangis. Bukankah  dua jam yang lalu wanita gila ini sudah tau keinginannya dan memutuskan pulang? Lalu kenapa ia menangis lagi? Mungkin itu rentetan pertanyaan dalam hati beliau.

“Argo taksinya bikin saya sedih pak”, ucapku sambil menangis yang berusaha tertawa.


Dan si bapak hanya tertawa dan menggeleng saja.
Sudah dua puluh lima tahun saya menetep di desa ini, Lidah Wetan. Tapi baru sekitar setahunan ini sejak Kirab Budaya Raden Sawunggaling tahun 2014 lalu, saya jadi tertarik dan sering mencari referensi sejarahnya.

Sejak saya kecil sudah begitu akrab sama makam Mbah Buyut Suruh di belakang Masjid Al-Kubro itu, sekedar tahu ada makam di sana dan yang merasa itu angker, namanya juga pemikiran bocah. Seingat saya pun hanya sekali masuk ke area makam, itupun diam-diam pas maen di belakang masjid hehe. Jadi ada beberapa lima makam gitu dan banyak kelambu kain putih yang menjuntai, makam siapa aja di sana itu baru saya mengerti akhir-akhir ini. Iya, sebagai warga Lidah Wetan aku merasa tidak gaul.

Legenda yang selama ini saya dengar dari orang tua atau cerita yang mengalir dari orang-orang selama ini ternyata bukan satu-satunya cerita karena ternyata masih ada versi lain dari warga Wiyung dan buku sejarah tentang Raden Sawunggaling ini. Dan dari berbagai versi ini terdapat perbedaan cerita. Saya cerita yang selama ini sudah cerna sejak kecil ya.

Cerita yang saya baca yang katanya dari versi Lidah Wetan adalah dulu, Lidah Wetan ini bernama Desa (Lidah) Donowati. Bagaimana perubahan namanya menjadi Lidah Wetan, saya skip ya.

Di kompleks makam Sawunggaling tersebut ada lima makam.
1.       Makam Raden Sawunggaling
2.       Makam kakeknya, Wangsadrana atau  Raden Karyosentono
3.       Makam neneknya, Mbah Buyut Suruh
4.       Makam ibunya, Raden Ayu Dewi Sangkrah
5.       Makam Raden Ayu Pandansari. Siapa Raden Ayu Pandansari ini? Nanti saya ceritakan.

Jika mengikuti sejarahnya Kota Surabaya bisa terbentuk, ada peran Adipati Jayengrono yang pusat pemerintahannya ada di kira-kira Kramat Gantung dan Bubutan. Dahulu kala, saat Raden Jayengrono ini istilahnya melakukan perjalanan dinas ke Lidah Donowati, beliau tertarik dengan anak Kepala Desa Lidah Donowati (Raden Karyosentono), Raden Rara Blengoh. Sebetulnya, Raden Rara Blengoh ini adalah anak angkat dari Raden Karyosentono dan Mbah Buyut Suruh. Raden Rara Blengoh ini sendiri sebenarnya adalah putri keraton Jogjakarta yang berkunjung ke Surabaya dan tersesat di Desa Lidah Donowati dan diangkat menjadi anak oleh keluarga Kepala Desa.

Lalu hingga akhirnya mereka menikah ‘diam-diam’ atau dirahasiakan dari keluarga keraton Raden Jayengrono. Pesta pernikahan mereka sederhana dan serahasia mungkin mengingat Raden Jayengrono ini sudah mempunya keluarga. Setelah dinikahi dan menjadi istri Raden Jayengrono, Raden Rara Blengoh mendapat gelar Raden Ayu Dewi Sangkrah. Dari pernikahan mereka, lahir seorang anak yang dinamai Jaka Berek dan mendapat gelar Raden Mas Sawunggaling.

Raden Jayengrono meminta Raden Ayu Dewi Sangkrah untuk membesarkan Raden Mas Sawunggaling tanpa sepengetahuan keluarga Keraton, dan kelak nanti jika sudah besar ia boleh menemuinya di keraton dengan menunjukkan sebuah selendang darinya, Cinde.

Sejak kecil, Raden Mas Sawunggaling sudah tidak pernah dikunjungi oleh Raden Jayengrono dan melewati masa kecil yang terbilang berat karena sering diolok teman-temannya karena tidak punya bapak hingga dikucilkan tidak diajak bermain. Hingga akhirnya ibunya, Raden Ayu Dewi Sangkrah, memutuskan menikah lagi dan mempunyai dua orang anak yang dinamai Sawungrono dan Sawungsari.

Hingga akhirnya Raden Mas Sawunggaling beranjak dewasa, ia ditemani sang kakek menuju keraton, yang kira-kira sekarang ada di daerah Cak Durasim, untuk mencari ayahnya. Dengan kekuatannya ia babad alas atau membuka jalan yang dipenuhi hutan rawa untuk sampai di keraton. Konon, cerita dari orang-orang tua dulu, usaha ini tidak lepas dari hal magis dari Raden Ayu Pandansari yang katanya perempuan jadi-jadian. Hehehehe.

Setelah sampai di keraton, Raden Karyosentono dan Raden Mas Sawunggaling diterima oleh Raden Jayengrono. Setelah memberikan cinde  dari ibunya, Raden Jayengrono mengenali Raden Mas Sawunggaling dan memeluknya. Dan sejak saat itu, Raden Mas Sawunggaling diberi tugas sebagai pendamping adipati, Tumenggung.

Namun, versi cerita yang saya asup dari kecil adalah berikut ini,

Cerita singkatnya, dulu saat masih dibawah perintah Belanda, Tumenggung Jayengrono ini tidak mau bersekutu dengan Belanda lalu memilih bersemedi di hutan Wiyung untuk mendapat kesaktian mengalahkan Belanda. Dalam semedinya, ia berubah wujud menjadi pohon bambu. Di tengah persemediannya, ada Raden Ayu Dewi Sangkrah yang selalu mencuci baju dan mandi di rawa dekat persemedian Jayengrono dan meletakkan bajunya di bambu yang diyakini wujud Jayengrono. Hingga akhirnya semedinya gagal karena kecantikan Raden Ayu Dewi Sangkrah. Di balik gagalnya semedi, Jayengrono mendapat wangsit jika kekuatan yang didapat dari semedi kelak akan ada pada bayi yang dikandung perempuan yang meletakkan bajunya di bambu, dan lalu akhirnya mereka menikah dan memiliki anak yang dinamai Jaka Berek.

Di masa remaja Jaka Berek ia sering diejek tidak punya bapak dan akhirnya memaksa ibunya untuk memberitahu siapa bapaknya. Setelah Raden ayu Dewi Sangkrah menceritakan kisah hidupnya, Jaka Berek berangkat mencari bapaknya, Jayengrono, ditemani Bagong ayam kesayangannya.

Setelah sampai di Surabaya, Jaka Berek mengaku anak Jayengrono tetapi tidak ada yang mempercayainya,  termasuk dua anak Jayengrono Sawungrono dan Sawungsari. Melihat Jaka Berek membawa ayam, Sawungrono dan Sawungsari mengajaknya sabung ayam. Jika ia menang, ia dipersilahkan masuk dan jika ia kalah, ia harus kembali ke Lidah Donowati.
Konon, si Bagong menang, namun akal licik Sawungrono dan Sawungsari untuk menghalangi Jaka Berek masuk mencari bapaknya malah membawa lari si Bagong dan bersembuyi dibalik Jayengrono. Cemen. Haha.

Setelah memperkenalkan diri dan menunjukkan cinde dari ibunya, Jaka Berek tidak juga dipercayai Jayengrono hingga memberinya tugas memandikan 44 kuda ternaknya tanpa boleh ada bulu yang rontok atau lecet sedikitpun di badannya.

Diceritakan, Jayengrono ini tidak mau bersekutu dengan Belanda sehingga Belanda bersekutu dengan Adipati Jawa Tengah untuk melengserkan Jayengrono dari Tumenggung Surabaya untuk membuat lomba memanah cinde puspita yang hadiahnya adalah menjadi Tumenggung Surabaya. Cakraningrat yang juga teman Jayengrono, ditunjuk Belanda menjadi penyelenggara lomba memanah setuju karena yakin jika Sawungrono dan Sawungsari akan berhasil memenangkan lomba dan tahta Tumenggung masih akan dipegang oleh Jayengrono. Namun berhari-hari tidak satupun ksatria yang memenangkan lomba tersebut termasuk Sawungrono san Sawungsari, hingga akhirnya Jaka Berek mengajukan diri mengikuti lomba. Meskipun pada awalnya ditolak oleh Cakraningrat karena ia tidak percaya Jaka Berek adalah darah biru apalagi anak Jayengrono.

Perdebatan ini didengar Jayengrono dan akhirnya ia mengakui pada Cakraningrat jika Jaka Berek adalah anaknya dan meminta agar Jaka Berek diperbolehkan mengikuti lomba memanah. Sebelum akhirnya Jaka Berek mengikuti perlombaan, Jaka Berek meminta waktu untuk melakukan suluk  atau semacam doa kepada leluhur (?) agar bisa memanah cinde puspita.

Hingga akhirnya Jaka Berek berhasil memanah cinde puspita, Belanda dan Sawungrono berusaha menggagalkan Jaka Berek menjadi Tumenggung Surabaya dengan menambah syarat untuk babad alas Nambas Kelingan yang terkenal angker. Namun, Jaka Berek menyetujuinya dan segera berangkat ke hutan Nambas Kelingan.

Luasnya hutan dan banyaknya makhluk ghaib di sana membuat pekerjaan Jaka Berek tidak juga selesai, hingga akhirnya ia bertemu Ayu Pandansari jin penunggu yang menawarkan bantuan dengan imbalan ingin dinikahi Jaka Berek. Seketika Jaka Berek menolak karena perbedaan alam mereka. Tapi ditengah rasa putus asa-nya, Jaka Berek akhirnya menyetujui permintaan Ayu Pandansari dan seketika hutan Nambas Kelingan  hanya bersisa tanah lapang.

Lalu bagaimana kisah Jaka Berek dan Raden Ayu Pandansari setelah itu, saya tidak pernah mendengar lagi tapi diyakini warga Lidah Wetan jika Raden Sawunggaling tidah menikah selama hidupnya. Dan tentu hal ini terdapat perbedaan versi ceritanya. Dan jika ada yang menyakan bagaimana makhluk ghaib seperti Raden Ayu Pandansari mempunyai makam, saya juga belum mengetahuinya hehehehehehehe

*iya saya masih kurang banyak baca sejarah*

Cerita di atas adalah cerita yang saya dengar sejak kecil, dari orang-orang tua ke anak dan cucunya, sebuah legenda. Dan bahkan masih ada versi lagi yang belum saya tuliskan di atas, versi warga Wiyung dan buku sejarah.

Hingga sekarang, kompleks makam keluarga Raden Sawunggaling di Lidah Wetan masih dijaga dengan baik, lebih baik lagi malah dibanding saat saya kecil dulu. Bahkan rutin ada semacam gelar doa di sekitar area makam untuk mengenang keluarga Raden Sawunggaling hingga acara Kirab Budaya Raden Sawunggaling seperti Minggu lalu, 30 Agustus 2015.


Kirab Budaya ini diikuti oleh semua lapisan masyarakat dengan berbusana a la tempo dulu atau arak-arakan kreatif dari warga sendiri. Ada yang membuat gunungan hasil bumi, manten jawa, noni belanda, pasukan perang sampai anak-anak kecil bebusana adat. 












Dan bahkan...
ROMBONGAN BONEK MASAAAAAA :))))


Setelah jalan hingga ke Kelurahan Lidah Wetan ada banyak acara yang disuguhkan. Dibuka oleh pembawa acara dari perwakilan Cak Ning Surabaya, iya arak-arakan tadi ada juga rombongan finalis Cak Ning Surabaya, acara dimulai dari aksi treatikal Jaka Berek mengikuti lomba memanah, tarian Dewi Sangkrah, Treatrikal Jaka Berek dikucilkan teman-temannya saat bermain dengan berbagai macam jenis permainan daerah, tarian Remo, pertunjukan Reog hingga pembagian doorprise. Yay!

pic by instagram angg***garcia

Sebagai penutup Kirab budaya ini, hari Kamis nanti, 3 September 2015 juga ada pertunjukan Wayang Kulit yang diakan di sekitar area makam Sawunggaling.

See you there, guys!
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ►  2025 (3)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Juni 2024 (2)
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ►  April 2022 (3)
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ▼  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ▼  September 2015 (3)
      • Bianglala Terakhir
      • Taksi Itu
      • Kirab Budaya: Raden Sawunggaling
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © Charitri. Designed by OddThemes