Charitri

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
16 Agustus 2014.
Indonesucks.

Malam tujuh belasan yang biasanya saya habiskan berkumpul dengan para tetangga atau anggota Kartar kampung saya, malam itu saya beranjak dari agenda biasa saya. Bertempat di Kedai De’Javu yang baru pertama kali saya datangi itu, saya menghabiskan Malam Tirakat atau Malam Renungan yang biasanya selalu ada di setiap desa kala malam tujuhbelasan.

Indonesucks. Sebuah standup show bentukan komika Surabaya yang mengangkat tema Gerundelan Orang Republik. Siapa saja mereka?

Disambut oleh MC yang katanya masih magang, Arif Alfiansyah.
Dan dibuka oleh seorang komika dari Sidoarjo dan baru pertama kali saya melihatnya di atas panggung, Dedy.
Diawali penampilan Idhamsyah dengan status Sarjana-nya yang masih anget.
Lalu ada Idham Bangsa yang katanya, tititnya kecil. Katanya.
Dilanjut dengan komika asal Korea dengan Annyeonghaseyo-nya, Pepeng.
Dibuat ricuh dengan Mahabarata-nya mas Deddy Gigis.
Hingga dilengkapi dan dipecahin pak Yudhit dengan sikap ‘dingin’-nya itu loh.

Sebenernya saya belum paham bener tema malam itu. Hehehe.
Kalau Gerundelan Orang Republik dalam negara yang menyebalkan ini dimaksudkan dalam apa saja kelakuan dan tabiat orang-orang di dalamnya, saya pikir ini sudah mewakili bagaimana keseharian warga negara kita ini. Anak-anak yang sudah hampir kehilangan apa yang seharusnya anak-anak terima, kalangan remaja yang lekat hubungannya dengan seks bebas hingga kelakuan para orang-orang tua di dalamnya, jelas cakupan ini sudah dibawakan sepenuhnya di Indonesukcs. Semua dibawakan, dilanjutkan dan dilengkapi pada akhir show.
Tapi, kalau yang dimaksud Gerundelan Orang Republik ini mencakup apa saja yang menyebalkan tentang bagaimana kehidupan bernegara dalam segi politik Indonesia, show ini jelas masih jauh. Karena materinya masih random dengan keseharian dan bertaburan blue material.
Hehehehhee.

Yang pasti malam itu saya lebih merasakan Indonesucks ini sebagai private standup show sih ya. Dengan kuota audience yang hanya 100 orang saja dan sold out dengan venue yang dibuat santai dengan menyelipkan beberapa meja di tatanan kursi audience  untuk tempat snack jelas ini dibuat santai. Banget. Apalagi jarak mini stage dengan penonton di depannya mungkin kurang lebih hanya berjarak satu meter. Atau kurang?
Juga penampilan para komikanya yang juga santai banget. Idham Bangsa misalnya yang malam itu tampil dengan celana kain batik yang kalo saya sih itu udah kostum leyeh-leyeh banget. Atau ada yang ngelihat Idhamsyah sebelum show dimulai, dia seliweran ke toilet dengan celana kolornya? Jadi, nontonin komika yang lihat contekan saat tampil pun udah biar aja sudah. Haha.

Dan lagi, menurut saya, Indonesucks malam itu seperti estafet. Membawa tongkat dari garis awal diakhiri dengan kemenangan, Ahzeg. Bukannya saya mau bilang yang tampil awal biasa saja, tapi lebih ke pembawaan tema Indonesucks ini sih. Semuanya saling melengkapi dan ditutup dengan beberapa data yang ditampilkan melalui slide untuk mendukung materinya.
Jika disuruh memilih siapa yang paling mencolok penampilannya, saya pilih Pepeng. Selain karena dandanannya emang paling ngehitz banget malam itu, secara dia dari Korea *disambit topi* materi dan pembawaannya berasa banget bedanya dari beberapa penampilannya yang saya lihat. Udah santai asik gitu.

Beberapa komika menanyakan bagaimana tiket Indonesucks ini terjual habis sementara komika yang disuguhkan ini udah biasa banget. Yang pernah masuk tv untuk kompetisi hanya satu orang, pak Yudhit. Yang ikut kompetisi tahunan juga satu, mas Gigis. Yang lain seliweran di Surabaya dan sekitaran Jawa Timur. Balik lagi ke pemikiran saya tadi sih. Masing-masing dari mereka pasti punya peminatnya. Jika dibuat mini show yang dibatasi kuota audience-nya, mereka pasti berlomba-lomba untuk datang. Gitu.

Well, terima kasih sudah membawa kami dalam malam tirakat yang berbeda dari biasanya dan terpaksa pulang jalan kaki dari gang depan hingga rumah melewati gerombolan warga yang sedang berkumpul di malam tirakat tiap gang.

Merdeka!
Viva La Komtung.

Pagi masih saja dingin, sementara embun masih penuh harap pada tulang daun yang tak punya kuasa atas dirinya untuk tinggal. Angin berhembus ringan tanpa menggerakkan dedaunan, hanya meninggalkan dingin yang menggigil. Suling teko pemanas air sudah nyaring bersamaan dengan gerak kepalamu mencari posisi nyaman di bantal putih itu. Aku tersenyum, merapatkan selimutmu dan menuju dapur.
Asap dari mulut teko yang terus mengepul hingga memberi warna putih tebal dan menghilang di jarak sepuluh senti itu menyita perhatianku. Menggebu dan hilang sekejap mata. Ah, sudahlah.

Deretan cangkir masih memenuhi rak kecil di dalam laci dapur, bergoyang dan menimbulkan denting ketika kutarik. Perlahan kudorong laci masuk ke lorongnya. Membuka toples kopi adalah favoritku tiap pagi dan menghirup aromanya dalam-dalam adalah double favorit selanjutnya. Ada keheningan ketika tuas kompor kugerakkan mematikan nyala api. Dan harum kopi mulai menjalari seluruh sudut dapur.

Sambil mengaduk kopi, aku melihat diriku dari ujung kaki ke ujung jemari tanganku. Lalu aku tertawa sendiri sambil menggulung lengannya lebih tinggi lagi. Bagaimana ia masih menggunakan kemeja usang ini sih? Aku menggelengkan kepala dan mengambil dua gelas kosong, satu untuk air putih dan satu untuk jus jeruk yang biasa dia minum setiap pagi.

Aku menaiki tangga dengan hati-hati, selain karena membawa satu cangkir kopi panas, satu gelas air putih dan jus jeruk, aku juga tak ingin membangunkan dia yang masih terlelap. Benar saja, dia masih meringkuk di bawah selimut tebalnya. Langit masih mendung terhitung gelap untuk jam tujuh pagi. Aku membuka jendela tanpa takut sinar matahari membangunkannya, dingin yang masuk pasti membuatnya merapatkan selimutnya lagi.

Aku terdiam duduk di jendela dan menyesap kopiku. Melihat kolam ikan kecilku yang mencetak bulatan sempurna di atas air, pertanda gerimis masih turun. Kuletakkan cangkir kopiku dan melipat kaki hingga kedua lututku menopang dagu, karena tak nyaman, kuletakkan lengan kananku dan membuat pipi kananku bertopang padanya. Sedang tangan kiriku sibuk menggapai titik air yang jatuh dari pinggiran atap dan memainkan air di tangan. Ada sedikit perih di lengan kiri ku ketika air perlahan mengalir dari tanganku. Lain kali aku harus memaksanya memotong kuku sebelum nanti badanku penuh cakarannya.

“Apa aku mencakarmu lagi?”, tanyanya dengan suara bantal.

Ah, dia terbangun rupanya.

Dia beranjak dari tempat tidur dan menghampiriku. Mendaratkan sebuah kecupan di kening yang lambat dan mengecup bibirku sambil mengucapkan selamat pagi. Aku menaikkan kedua tanganku seolah memberi isyarat minta digendong, dia tersenyum dan menghabiskan segelas air putih. Lalu menggeleng dan mengatakan beratku sudah tak ringan lagi. Aku melengos seolah ngembek. Bagaimana badan atletis begitu payah dalam menggendong perempuannya? Huh.

Gerimis yang berubah menjadi hujan membuatku beranjak dari jendela dan menutupnya agar tampiasnya tak membasahi lantai kamarku. Dari belakang ia sudah menyerang leherku dan menciuminya dengan hebat. Aku mengelak seolah ngambek karena tak digendong tadi. Dia diam sejenak dan memasang ekspresi berpikir sambil menatap mataku. Ekspresi yang selalu menjadi favoritku. Digendongnya aku dengan sigap keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju sofa ruang tengah. Suhu dingin yang mungkin 16 derajat celcius  karena hujan di luar sana tak terasa lagi dengan 37 derajat celcius  kami berdua.

Di sofa biru tua yang tak terlalu lebar ini membuat dia memiringkan badannya demi aku agar bisa tidur di lengan kirinya. Sambil menikmati dingin yang perlahan menjalar lagi, kita berbicara tentang gedung pernikahan kami bulan depan. Undangan yang sudah siap disebar, baju pengantin dan keluarga sudah fitting, catering hingga akomodasi keluarga dari luar kota. Karena kesalahan staff gedung, kami harus mencari gedung lagi untuk pernikahan kami. Yang benar saja.

Kami tinggal dalam kota yang berbeda karena pekerjaan. Sebulan sekali dia pasti mengunjungiku, kalau beruntung bisa dua kali. Itulah sebabnya kami harus pintar-pintar mengatur waktu berdua. Aturan darinya untuk mematikan gadget saat bersama kurasa memang tepat. Jatah tangannya di gadget dan berkas kerjanya saat bekerja harus sebanding dengan tangannya di tubuhku atau lebih. Aku juga tak mau kalah. Hehe.

Dia bilang handphone-nya habis batere dan tertinggal di mobil saat kutanyakan dimana handphone-nya karena dari semalam aku tak melihatnya mengluarkan handphonenya sama sekali. Kami masih berbaring dan berbicara banyak hal. Mendung membuat tak terasa Sabtu ini sudang merangkak tengah hari. Sambil menyeretnya ke kamar mandi agar dia mandi malah aku aku kerepotan melepaskan diri agar tak terlibat bersama di dalam sana. Sambil setengah berlari kudengar ia memintaku mengambilkan handphone dan laptop yang masih di dalam mobil.

Kemeja usangnya masih kukenakan dan membuka pintu agar dingin memenuhi setiap sudut rumahku. Hujan tak lagi deras tapi rintik gerimis masih jelas terlihat. Jalanan depan rumah tak begitu ramai karena rumah ku ini terhitung paling ujung. Hanya terdengar suara Pillo, anjing kecil milik rumah depan. Bau hujan yang selalu menyenangkan membuatku ingin berlama-lama menatap gerimis di tanah basah  yang ciprat tanahnya menimbulkan bercak di lantai teras.

Aku setengah berlari menuju mobilnya dan terduduk di jok belakang sambil mengelap rambut dan kemeja yang sedikit basah karena gerimis. Setelah menemukan tas laptop dan beberapa map kerjanya, aku mencari handphone yang tersudut di pinggiran jok kemudi. Menghargai privacy masing-masing adalah aturan hubungan kami termasuk isi handphone kami. Mendengar getar handphone sontak membuatku meraihnya. Sebuah panggilan masuk dari Ms. Dilla dan berakhir sendirinya di tanganku. Sebuah notifikasi otomatis muncul 15 Missed Call. Handphone ini jauh dari habis batere.
Tapi konfirmasi ‘Shut Down’ yang dibiarkan, jelas jika handphone ini akan dimatikan tapi belum turn off karen belum ada konfirmasi persetujuan dari penggunanya.

Mungkin dia lupa.

Antara tak sengaja terbaca dan muncul pemikiran barangkali isinya penting, mengingatkan nama ini berulang kali mencoba menghubunginya, aku akan membacanya dan menyampaikannya nanti.


“Kak Bayu, Dilla belum mens bulan ini”.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ►  2025 (3)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Juni 2024 (2)
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ►  April 2022 (3)
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ▼  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ▼  Agustus 2014 (2)
      • Indonesucks
      • Akankah Masih Ada Bulan Depan?
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © Charitri. Designed by OddThemes