Charitri

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us


pic via. Google
Ada di bagian pembelian material seperti kayu dan melibatkan orang-orang daerah benar-benar membuat saya kadang gulung-gulung di lantai kantor. Bukan artinya karena mereka ada di daerah terpencil lantas membuat saya ogah berkomunikasi. Bukan, bukan begitu maksudnya. Tapi lebih ke rasa gemes geregetan saat berkomunikasi dengan mereka. Memang tak semua supplier daerah begitu susah diajak komunikasi, tapi kebanyakan sih begitu. *dibalang balok*
Posisi saya lebih gampang dikenalnya berhubungan dengan orang-orang kaya, orang-orang yang punya banyak duit karena dalam sekali pengiriman saja bisa sampai transaksi puluhan juta. Harus hati-hati menjaga emosi, menjaga ucapan. Karena sedikit salah ngomong, runyam.

Suplier saya ini macam-macam orangnya, dari berbagai daerah juga.  Sebut Lumajang yang daerahnya masih banyak dijumpai pohon-pohon yang tinggi dan tentu dua supplier andalan saya ada di daerah ini. Juga ada Blitar, Jember, Malang hingga Banyuwangi. Tentu saja, dalam masa dua tahun ini sudah hafal sekali bagaimana sifat-sifat mereka ini. Dan kebanyakan, ngeselin.

Ada yang santai banget, buat invoice kadang telat jadi pembayaran rapel di minggu depan. Ada yang belum kirim tapi udah rewel minta bayar, kiriman telat, kualitas kayu buruk. Ada. Ada yang sampe curhat masalah susahnya cari kayu dan pembayaran hingga masalah pengajuan pinjaman bank yang selalu ditolak. Ada juga yang tiap kirim selalu tanya apa ada kenaikan harga, macam-macam. Hingga saat penambahan supplier-suplier baru. Semacam adaptasi lagi, berbagai kelakuan ajaib supplier-suplier baru saya temui. *kompres kepala*

Ada satu supplier yang ingin saya ceritakan keajaibannya. Sebut Djn asal Blitar. Jika dengar suaranya via telepon, bayangan saya bapak ini sudah sepuh. Dan nampaknya hal ini dibenarkan oleh Mas yang sudah pernah bertemu dengan beliau. Bapak Djn ini merupakan ayah dari dua supplier lama saya, Tkt dan Ktn. Usaha penggergajian kayu rupanya turun temurun, tapi Djn ini tidak akur dengan Tkt. Bagaimana jelasnya, saya kurang tahu.

Saat kiriman kayu pertamanya, saya menagih invoice atau kuitansi sebagai syarat pengajuan pembayaran. Biasanya saya kirim sms jumlah barangnya lalu akan saya jelaskan kembali via telepon. Kejadiannya hingga sore tidak ada respon. Saya coba menghubungi beliau.

“Dengan pak Djn?”, tanya saya 
“Inggih, sinten nggih?”, jawabnya
“Saya Fitri dari Sfw pak. Invoice apa bisa hari ini? Karena hari ini saya ajukan untuk pembayaran besok”
“Inpois nopo toh mbak’e? Bayar kayuku kapan?”, responnya
-mati-
“Untuk pembayaran kan harus disertai in….”,
“Walah mbak’e.. Saya ndak tau yang begituan. Saya kirim bahan, saya terima uang. Kok ini… Haduuuuuh. Saya tanya anak saya dulu”

Usaha kedua.
“Pak Djn, ini Fitri pak…”, dan langsung dipotong…
“Nggih, nggih piye mbak? Kayu saya masuk berapa?”
“Reng Kecil 6458 Reng Besarnya 512 pak. Pembayarannya…”, dipotong lagi “Loooh… Kok banyak selisihnya? 200an RB saya hilang dong mbak.. Wah, ga bener ini”, *saya mulai mules*
“200an RB afkir karena pecah pak…”,
lagi-lagi dipotong
“Saya telepon orang lapangan saja….”, telepon ditutup sepihak.

*deep breathe*
Mencoba menghubungi lagi untuk kejelasan invoice.

“Bagaimana pak, sudah clear ya masalah afkir. Untuk invoicenya bagaimana?”
“Loh.. Kan sudah saya bilang, saya ga tau begituan mbak! Kok ga ngerti juga sih!!”,
“Kan tadi bapak mau bilang tanya dulu ke anaknya.. Kalau tidak ada invoice, pembayarannya ditunda..”, mencoba santaiii “LOH.. KOK GA DIBAYAR KAYU SAYA? GA BENER KAMU INI MBAK!!”,
“Pak Djn, bukan tidak dibayar.. Tapi ditunda hingga saya terima invoice dari bapak”, ngomongnya sambil nahan emosi
“KAN SAYA SUDAH BILANG…”, kali ini saya potong omongannya “Iyaaa… Bapak ga tau yang begituan. Tadi katanya mau tanya anaknya duluuuu….”. ga kalah emosi “Saya ga bisa, saya masih kasih makan ayam di kandang”.
“………………………………………………….”

*nangis*

Mengingat percakapan ini makin membuat saya mules, saya ijin menutupnya dan janji akan menghubungi lagi. Hal selanjutnya adalah mencari Mas.

“Pak, Djn ini gimana pak? Saya minta invoice malah ngomel masa?”
“Waduh, iyaa.. Saya lupa bilang. Bisa dibuatin sendiri ga Fitt? Orangnya ga tau yang gitu2an. Taunya terima uang. Tua banget orangnya, ayahnya pak Tkt”, jawab Mas
“Pantes. Bisa minta tolong ditanyin nomor rekeningnya ga pak?”
“Boleh”. Si Mas mencoba menghubungi Djn

“Halo.. Pak Djn. Mas niki pak”
“Oh, nggih pak. Wau anak buah sampean telpon njuk inpois opo toh pak. Aku iki ra paham”
“Nggih, pak.. Niku kulo aturaken mawon. Sak meniki kulo badhe nyuwun nomor rekening kangge transfer pak”
“Ohhh… Nggih, nggih. Saget dieja’aken pak?

“Suruh sms aja kenapa sih”, saya nyamber
“Ga bisa sms”, bisik Mas
“Pantes, aku ga direspon”.

“Kulo tasih wonten kandang pak. Mengke telepon malih nggih?

Setengah jam kemudian…

“Pak Djn, sampun?”, tanya Mas
“Loh sak niki toh Mas?”, saya mendelik
“Loh.. Lah nggih toh pak. Kulo telepon malih 10 menit nggih”, Mas nyengir ke saya, saya melengos.

10 menit kemudian…

“Mas niki pak..”
“Niki pak.. Nomernipun… 123456789”
“Bank-nipun nopo pak?”
“BCA”
“Oh.. BCA
”
“Cabang sama nama account-nya pak”, saya kasih kode ke Mas
“Cabang pundi pak? Kaliyan namanipun njenengan”
“Cabang Blitar loh pak..”, jawab pak Djn
“Nama account njenengan pak?”, tanya Mas

Sambil ketawa akrab, pak Djn menjawab….

“Walah, pak… Njenengan mlebet bank-nipun ngomong Djn meniko sampun kenaaaaall~~~”, sambil ketawa yang saya dengernya ketawa sombong

Satu lantai serentak ketawa ngakak mengingat setiap obrolan mereka karena Mas yang teleponnya diloudspeaker.

HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.

Iya, emosi saya seketika hilang. Lah dipikir semua bank kek bank deket rumahnya? Seterkenal apa sih pak Djn ini di kampungnya ya Tuhaaaaaan…
Saya menjerit dalam hati. Hati-hati.

Sepulang kantor, kejadian ini masih bikin saya ketawa sendiri. Membayangkan bagaimana ajaibnya supplier saya satu ini. Saking polosnya sampe ngeselin sih menurut saya. Punya banyak uang dengan sifatnya yang polos dan cenderung kuno hingga terkesan bodoh, entah mengapa menurut saya itu bukan pasangan yang bagus. Khawatir saja jika nantinya sifat bapak ini dimanfaatkan orang-orang jahat di sekitarnya untuk mengambil uangnya. Bisa saja.

Hanya yang hingga hari ini saya segani adalah, beliau masih mau bekerja di usia senjanya. Ga bisa ga kerja katanya. Termasuk kandang-kandang ayam yang beliau sebuat tadi, menurut cerita itu memang termasuk usaha kecilnya di sana. Ya meskipun setiap minggunya pasti akan adaaaaa aja ulahnya yang bikin saya pengen gulung-gulung di di bawah kubikel.
Iya, masih banyak hal-hal ajaib yang saya hadapi dengan bapak ini.


Sebut aku yang terlalu sombong. Jika sudah bersamamu aku merasa tak butuh segalanya, tak butuh siapa saja. Karena denganmu aku bisa menjadi apa saja yang aku inginkan, kamu bisa menjadi apapun dan siapapun yang aku butuhkan. Bersamamu aku berhenti berpikir tentang kehilangan.

Rasanya sulit hidup dengan mengetahui bagaimana diri kamu tumbuh dengan sifat yang menurutmu buruk dan tak bisa mengubahnya. Dan aku sudah lama terjebak dalam hidup seperti itu. Bagaimana kamu hanya bisa jatuh hati pada satu hal dalam terus menjaganya agar tak hilang. Cenderung malas untuk melakukan sebuah pencarian baru. Sejak saat itu, aku merasakan bagaimana kesulitan menjangkau kehidupan sosialku. Dalam kesadaranku penuh, aku tumbuh dalam pribadi pendiam yang rapuh.

Kamu pun tahu, bagaimana  aku lebih mencintai apa yang aku punya dibanding mencari lagi sesuatu untuk aku cintai. Teman. Aku bisa merasakan kehilangan, kesepian hanya karena mereka sedikit berubah layaknya pertama aku menyebutnya sebagai teman. Mereka tumbuh dalam lingkup normal dalam lingkar pemahamanku, hidup dan terus berkembang menambah teman. Lalu aku yang tak normal ini dalam pemahamanku, sudah merasakan kehilangan sosok yang aku panggil teman. Aku tumbuh dalam pribadi angkuh yang kesepian.

Juga yang ini, kamu pasti jelas mengetahuinya. Aku tak memiliki begitu banyak kenangan manis dalam masa kecilku layaknya teman atau mereka yang ada disekitarku. Atau kamu, aku jelas lebih iri dengan masa kecilmu. Masa kecil kalian yang penuh dengan kembang gula, bianglala, taman hiburan, baju-baju baru atau rekreasi bersama keluarga. Aku jauh dibelakang kalian masa itu, duduk dalam rasa takut dan amarah bagaimana anak sekecil aku kala itu harus memahami perihal orang dewasa yang tak pernah aku tau harus berbuat apa. Aku tumbuh dalam pribadi yang penuh akan luka dan rasa takut.

Tak lagi semuanya berhenti disini. Disaat masa SMA yang harusnya penuh euphoria beranjaknya dewasa, di depanmu aku kembali tersungkur. Dalam pelukmu aku tergugu sebagai seorang perempuan cacat , yang lagi-lagi menambah alasan untuk tak bertemu orang-orang baru. Yang dalam setiap raungan kesedihanku, kamu terus memeluk ku erat. Terus menarikku kembali berdiri dan menghadapi hidup. Bersamamu, aku tumbuh dalam pribadi yang terus mencoba berbaik sangka kepada hidup yang serba dipenuhi kekurangan ini.

Atau yang ini, yang juga sering kamu kesalkan sejak dulu.Tentang bagaimana aku melihat seorang lelaki, bagaimana aku memiliki seorang lelaki. Dalam pemahamanku yang tak normal ini, aku juga susah untuk mencari bukan? Tapi sekalipun susah aku pasti akan kembali melakukan pencarian bukan? Kamu tau itu dan bagaimana kamu jadi lebih mengkhawatirkanku lebih akan hal ini hari ini? Bagaimana kamu bisa membuatku menjadi marah dalam hal yang tak seharusnya kita ributkan? Perihal pergi, bukankah seharusnya sudah menjadi satu paket dengan kemantapan untuk tak tinggal? Lalu bagaimana kamu bisa membuatku lebih marah lagi dengan terus membual keinginanmu untuk tetap tinggal sementara kamu memilih pergi?
Kamu pun sudah tahu, aku tumbuh dalam pribadi yang kuat untuk bertahan. Yang pada akhirnya akan bersikap kuat menghadapi semuanya sekalipun sendirian.

Denganmu jelas membuatku bisa melakukan apa saja yang aku mau, tanpa terlihat seperti mengendalikanku, kamu mampu membuatku beranjak dari zona nyaman. Aku mulai menghidupkan kehidupan sosialku. Bertemu orang baru, meniti pelajaran dari masa kecilku juga tak lagi terus-terusan menutup hati. Denganmu, aku merasa utuh. Tak merasa terbebani kelamnya masa kecilku, tak merasa memiliki sedikit teman, tak merasa hidup ini kesepian, tak lagi merasa perbedaan fisik ini menjadi beban. Sebaik-baiknya aku hari ini, adalah campur tanganmu dalam hidupku.

Aku hanya tak ingin kepergianmu kali ini menjadi sebuah hal yang kamu takutkan. Aku sudah cukup siap, sudah cukup kuat untuk kembali berjalan lagi. Toh kamu juga tau, aku sudah pernah melewati banyak hal sulit dalam hidup ini. Jangan, jangan berpikir perpisahan kita ini tak cukup sulit bagiku hingga aku begitu mudah memintamu untuk benar-benar pergi. Bahkan ini jauh lebih sulit, membayangkan bagaimana aku berjalan saja aku belum berani. Tapi sebuah keharusan aku memilih jalan ini, setidaknya kamu harus senang nantinya jika melihatku bisa melewati ini. Kamu harus senang nantinya, campur tanganmu selama ini berbuah hasil. Lagi-lagi aku berhasil karenamu.

Dan kamu, aku minta cukup tenang nantinya. Karena setelah ini, aku akan melewati berbagai hal yang tak mungkin tak sulit didepan sana tanpa kamu. Percayalah Dirgantara Wibiakto Rahardja, perempuan ini bukan yang sepuluh tahun lalu merengek karena teman sekelas yang dia sukai tak menyukainya, bukan lagi yang dulu cemas karena takut tugas praktek roll depan dan roll belakang di kelas olahraga, bukan lagi yang doyan melarikan diri dari kelas mandarin. Perempuan ini sudah besar, sudah bisa mempertanggung jawabkan status dewasanya. Kamu harus percaya, Dirgantara Wibiakto Rahardja masih orang yang akan selalu dia ingat, selalu dia cari, dan selalu dia percaya setiap janjinya. Seorang sahabat, teman, musuh, ayah, ibu, kakak laki-laki, kakak perempuan, orang asing, kekasih, guru, majikan di kala kalah taruhan, boss di kala aku butuh bantuan, dan apa saja yang pernah kita ributkan. Kamu terbaik yang pernah ada.
Aku sungguh-sungguh mengatakannya, kamu tak perlu lagi begitu mengkhawatirkna hidupku. Sudah cukup aku mengambil banyak dari apa yang yang kamu berikan. Beri aku kesempatan untuk sekarang melangkah lagi. Menutup cerita terakhir kita sebagai hal besar yang gagal aku perjuangkan, yang gagal kita pertahankan. Aku sudah benar-benar cukup kuat hari ini. Kamu bisa pergi, benar-benar pergi. Mengembalikan hidupmu yang sebagian aku minta, melanjutkan keinginan-keinginanmu yang seringkali kau acuhkan demi tak ingin melihatku sendirian, merajut kembali cerita yang selalu kau impikan akan menjadi indah. Aku tak lagi Rapunzelmu, karena aku sendiri yang tak lagi ingin menjadi cerita dongeng. Berkatmu, aku ingin menjalani hidup yang ada di depanku hari ini.

Percayalah Wib..
Tak perlu lagi ada yang kamu khawatirkan tentang aku hari ini. Aku bersungguh-sungguh mengatakannya. Tak ada sesuatu yang buruk jika melihatmu, karena bagaimana aku hari ini tentu karena hal baik yang memenuhiku.
Percayalah…
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ►  2025 (3)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Juni 2024 (2)
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ►  April 2022 (3)
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ▼  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ▼  Januari 2014 (2)
      • Banyak Uang Saja Tak Cukup
      • Surat Terakhir
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © Charitri. Designed by OddThemes