Aku Butuh Pantai


pic. taken from arbainrambey.com

Aku menyukai pantai, juga laut. Namun sering bingung bagaimana menikmati mereka. Aku tak bisa berenang. Jadi, duduk di bibir pantai atau diatas cadas batu menjadi pilihanku. Diam. Menebar pandangan dari sudut paling kiri menarik garik lurus horizon kearah kanan. Lamat-lamat sambil memainkan pasir disela jemari kaki atau pasrah tampias ombak menerpa raga.
Cara lainku menikmati mereka.

Aku lebih senang diam, mendengar deru ombak yang berpacu dengan hembusan angin. Sibuk mengarahkan mata, tak ingin terlewat menarik setiap guratan ombak, rentang luas hamparan biru bergelombang. Sibuk menggerak-gerakkan jari, menggenggam dan melepas kembali pasir sepanjang rentang tangan.
Milyaran kubik air disana pasti mendengarku. Mengerti resahku. Tanpa aku bersuara. Buktinya, selalu saja perasaan lega datang setiap aku dihadapan laut atau sekedar menepi dibibir pantai. Seperti keluh ini diambilnya, menghilangkan sesak didada, menenggelamkannya di palung paling dalam. Meskipun selalu dibuat terisak diawal, laut selalu menghiburku dengan deru ombak yang berpacu dengan hembusan angin setelahnya. Dan seketika angin mengeringkan sisa air mata. Disaat itu aku sudah siap untuk kembali pulang.

Dari pantai/laut aku belajar tenang.
Tenang dari kepanikanku yang selalu bingung bagaimana cara menikmati milyaran kubik air didepan mata jika aku tak bisa berenang. Bagaimana menenggelamkan sesak tanpa aku harus mati tenggelam.
Mengendalikan atau menghadapi sesuatu tak harus dengan sibuk bercerita, bukan?
Tak harus sibuk mengumpulkan kata.
Diam dan pahami setiap jengkal sisi indah diluar sesakmu.
Bagaimana menikmati setiap sesak dengan cara yang berbeda.
Tunggu luas lautan mengambil sesakmu seperti percayamu akan cara bekerja Tuhan.
Dan sepulang dari sana, mamah habis setiap remah sesak yang tersisa.

Aku butuh pantai.

0 comments