Entah berapa malam kuhabiskan mengawang di gelap remang
kamar, merapal banyak tanya yang tak ada habisnya. Suaranya sesekali
kudengar, seakan menyelamatkan.
Entah berapa panjang jalan yang kususuri demi mengulur
kepulangan, meracau seakan aku kesal salah jalan. Suaranya sesekali kudengar,
seolah menyadarkan.
Entah berapa pelarian yang kurencanakan, genggam tangannya begitu
menguatkan.
Di tengah betapa aku yang menyedihkan ini, kurayakan kamu
dengan kembali menghiasi diri.
Pernah sekali kubayangkan bagaimana kematian adalah jalan
termanis dari gelapnya pagi.
Jauh dari pagi itu, aku sudah merasa kehilangan hidup.
Tapi dari pagi itu, aku begitu menginginkan untuk terus
hidup.
Di kali pertama kupikirkan tentang kematian, satu-satunya
yang tergambar di kepalaku saat itu adalah bagaimana keadaanku nanti ketika aku
mati. Aku hanya ingin mati ketika pada akhirnya aku sudah hidup di hidupku
sendiri, aku hanya ingin mati ketika aku sudah merasakan kebahagian yang kuinginkan; karena aku hanya tak ingin mati dalam kematian yang menyedihkan.
Lelah bisa kulupa dengan lampu-lampu kota pulang kerja,
sedih bisa kumamah habis dengan tangis atau jengah yang seringkali kuteriaki
dengan sumpah serapah. Barangkali malam ini hatiku sudah tak bisa kutipu lagi,
barangkali kepalaku sudah tak lagi meredam pekak riuhnya tanya di dalamnya atau
barangkali aku sudah benar-benar kehilangan cara bagaimana agar hidupku tak
lagi menyedihkan nanti; malam ini aku sungguh ingin tidur dan tak ingin bangun
lagi.