Charitri

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Tengah malam lalu, aku terbangun dengan sebuah pesah masuk yang sign notifikasinya seakan memaksa untuk dibaca saat itu juga. Aku membacanya lantas membalasnya singkat. Lalu entah kenapa aku melanjutkan tidurku dengan mata yang sedikit basah. Seperti rasa bersalah atau mungkin amarah, aku sendiri susah membedakannya.

Di tengah hari, aku seakan tersadar dari pikiran kosong sejak bangun pagi tadi. Mengapa aku harus merasa bersalah? Meskipun aku sejenak larut dalam permainannya toh akhirnya menyadari dan memilih berhenti. Jika dia memilih untuk terus melakukannya dan aku merasa jengah, mengapa dia tersinggung? Harusnya aku yang berhak marah meskipun dia sudah mengatakan dia tak bermaksud untuk marah. Harusnya aku hapus saja pertemanan dalam messaging ini, bukan malah merutuki hidup seakan aku perempuan gatal yang mengemis kehadirannya. Tsk.

Aku menyadari kesalahanku, bahkan paham betul. Untuk itu aku meminta ia pergi atau setidaknya berhenti saja. Berhenti menghubungiku secara diam-diam, berhenti mengucapkan rindu padaku dan berhenti dari rasa nyaman yang selama ini dia ungkapkan. Aku ini dalam keadaan gamang, perhatian samar bisa saja kuartikan jelas kesalahannya. Entah apa namanya jika peringatan dariku ini selalu dia patahkan. Aku tak akan menjadi sombong dengan menyebutkan dia jatuh cinta padaku atau ya memang aku seistimewa itu di matanya. Atau aku yang memang bodoh dengan selalu memikirkan jika ini adalah masih dalam permainannya dan aku terbawa jauh dalam perasaan dan dia tertawa menikmati pertunjukan sial ini.  Sungguh, ini sudah dalam tahap mengganggu.

Aku tak lagi bisa tidur dengan nyenyak. Rasa bersalah dan kusutnya apa yang ada di dalam kepalaku semakin membuatku sakit kepala. Rasa bersalah dengan wanitanya, rasa bersalah jika memang perasaannya memang nyata dan aku hanya bisa mematahkannya atau aku sudah terlalu lelah berusaha untuk tak jatuh pada dirinya.

Jika nanti kau sedang membaca ini, seperti yang sudah berkali aku katakan, berhentilah. Aku sudah tak ingin bermain-main lagi. Tak sepadan perjuanganku mengubur semua yang ada di belakang sana dengan berjalan ke arahmu, ke arah yang salah. Tak sepadan juga puluhan, ratusan atu bahkan ribuan harimu dengannya dipertarukan dengan dua hari yang kau bilang lebih dari cukup untuk ditumbuhi rasa nyaman.

Mari kita mengenal seperti kita di dua bulan yang lalu dimana umpatan dan tawa hanyalah hal yang kita besarkan, bukan perasaan. Untuk semua rasa rindu dan khawatirmu dulu, yang entah nyata atau hanya goda semata, terima kasih.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ►  2025 (3)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Juni 2024 (2)
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ►  April 2022 (3)
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ▼  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ▼  Juli 2015 (1)
      • Stop. Just Stop.
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © Charitri. Designed by OddThemes