Charitri

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Hari pertama di Lombok langsung menuju Desa Adat Sade.
Dimulai dengan menunggu lunch box yang dibeli di sekitaran bandara kita mengawali perkenalan dengan masing-masing peserta trip. Jadi tau kalo mas Tito ternyata asli Surabaya, rumah mas Tito di Jakarta ternyata deketan sama mba Tika, Mba Mey yang ternyata asli Jakarta juga mas Danny yang suka batu akik. Dem.

Sampai di Desa Sade langsung disambut oleh guide asli Desa Sade. Sebelum diajak berkeliling, kita dijelaskan tentang sejarah Desa Sade. Desa Sade ini bisa dibilang desa yang masih mempertahankan adat Suku Sasak. Dengan luas sekitar 6 hektar dihuni +- 150-an kepala keluarga yang masih bilangan keluarga. Iya, masih satu keluarga, satu garis keturunan, masih menikahi sama misan atau sepupu. Bukannya ada larangan untuk menikahi orang diluar desa, tapi mahar untuk menikahi orang dari perkampungan luar ini maharnya besar. Yaitu, bisa 2-3 kerbau.

Untuk bangunan rumahnya juga masih jauh dari peradaban meskipun Desa Sade ini lokasinya dipinggir jalan dengan aspal yang jauh lebih bagus dari sepanjang jalan Babatan ke HR. Muhammad di Surabaya HAHAHA. Alus banget tcoyy…
Atap rumahnya masih menggunakan jerami, eh, apa ya namanya?*lah kok nanya balik*
Dinding dari anyaman bambu, pondasi dan peyangga juga dari bambu atau kayu. Untuk lantai masih beralas tanah dan cara unik saat mengepel lantai adalah menggunakan kotoran kerbau (tapi yang fresh ya). Katanya sih salah satu fungsinya mengusir nyamuk, kalau ga salah inget hehehe
Jenis bangunan pun dibedakan sesuai kebutuhannya, jadi rumah kepala desa dan rumah untuk warga ya beda juga.

Kita juga dikasih kesempatan masuk di salah satu rumah warga. Terdiri dua ruangan, sebut aja depan dan belakang. Akses ke ruang belakang menggunakan tangga di tengah ruangan yang jumlah anak tangganya sesuai rukun Islam, ada 5. Ruangan depan terdapat dipan tempat tidur untuk keluarga, sedangkan untuk anak perempuan ada di ruangan belakang yang bersebelahan dengan dapur dan tempat melahirkan. Pemberian ruang khusus untuk anak perempuan ini juga bukannya tanpa alasan, proses pernikahan yang diawali dengan adat culik ini bisa dibilang sebagai alasannya. Jadi untuk menikahi seorang perempuan kita harus menculiknya terlebih dahulu, jadi kalau sudah diculik begitu, mau ga mau orangtua harus menikahkan mereka. Hehehehhehehehehehe.

Mata pencaharian mereka sebagian besar menjadi petani dan juga penenun. Sebuah lumbung juga terdapat di tengah desa untuk menyimpan hasil panen. Hampir setiap rumah menjual kerajinan tangan asli Suku Sasak, kebanyakan sih hasil tenun. Jadi ga jarang melihat ibu-ibu dan para gadis menenun dan kemudian dijual. Dan…. Seorang gadis belum boleh menikah kalau belum bisa menenun.
Hayoloooooooh~~~
 
panas pun dicuekin, demi nikah ya mba :')

kita dikasih kesempatan juga untuk cobain menenun

Keistimewaan lain dari tenun menenum ini adalah, benang yang digunakan dipintal langsung oleh warga juga yang kebanyakan dilakukan oleh para nenek. Yang kita temui waktu itu adalah seorang nenek yang sudah tua banget. Saat itu mas Tito kalo ga salah yang mencoba berkomunikasi sama si nenek, tapi kata mas guide-nya engga usah diajak bicara, langsung foto aja karena si nenek ga bisa bahasa Indonesia. Feeling bad sih sebenernya saat lihat orang pada gegantian foto sementara si nenek tetep meminta benang tanpa ekspresi gitu L



Well, destinasi selanjutnya kita ke Tanjung Aan.
Untuk ke Tanjung Aan ini jalannya tak semulus jalanan Desa Sade, jadi kita masih nemu jalan sempit, berbatu dan berdebu. Di Tanjung Aan ini kita lebih memilih trekking di bukit Aan daripada main air di pantainya. Dan lumayan kaget juga ternyata di atas sana sudah banyak orang, mungkin karena dari sini Tanjung Aan terlihat lebih bagus. Baguuuuuuuuussssss bangettttttttt malah.
 
belum separuh trekking tapi sudah disuguhi yang beginian
dari sisi yang laiin
kira-kita di tengah trekking dan naik ke bagian paling tinggi
ini sok-sokan mau cari rute sendiri buat balik ke parkiran meskipun gagal tapi mayan dapet ngintip bule
Sampe akhirnya waktu makan siang kita beralih ke Pantai Kuta.
Mas Yudi mengarahkan ke sebuah gate yang tulisannya Pantai Mandalika dan menuju sebuah pendopo di salah satu tanjakan sambil menceritakan cerita Putri Mandalika. Seorang putri cantik dambaan raja-raja dari kerajaan sekitar yang akhirnya memilih terjun ke laut karena dia merasa terbebani dengan harus memilih siapa yang akan menjadi pendampingnya. Namun, ia akan tetap datang di setiap bulan kesepuluh kalender suku Sasak dalam jelmaan seekor cacing lau. Iya, cacing. Jadi di bulan tertentu, iya eikk lupa cyint, warga turun ke laut saat air surut dan mencari cacing laut yang diyakini bisa memberikan kesembuhan. Ya, kira-kira begitu lah. Sok googling, ceu..
saat air surut dan biasanya di sini saat festival cari cacing putri mandalika

ambil foto ini dari dalem mobil pas turunan balik dari pendopo waktu makan siang karena memang ga keliling area juga sih


Setelah lunch kita diajak ke pantai Kuta di tengah siang yang panasnya kentang-kentang panas banget.
Sedikit kaget saat menuju ke arah pantai, pasir di sini tergolong gede untuk ukuran pasir pantai. Jadi bisa dikira-kira kayak merica lah ya, jadi kasar banget. Cuma memang ga terlalu lama di sini karena kita lebih milih ke hotel karena pengen nongki-nongki nanti malam. Malam mingguan di Lombok kitaaa~~~
 
pasir "merica"
Malam mingguan di Lombok dibuka dengan makan malam khas Lombok. Ayam Taliwang!
Well, emang lagi ga mood makan pedes dan memang punya lidah ga bisa makan yang pedes, saya milih ikan malam itu. Dan sama aja. Pedes. Ngok.
Akhirnya dilanjut menyusuri jalanan Senggingi untuk cobain kafe-kafe yang berderet sepanjang jalan. Kita cari yang langsung menghadap pantai, dapetnya, The Paragon Café!
Jadi kita disambut live music, tapi lebih milih di luar karena suara ombak ternayata lebih eeeennnnaaaaakkkkk dari penyanyinya malam itu. Semacam penyanyi isomasmay gitu, yang kalau nyanyi lagu barat liriknya suka-suka. Pedih.

Anggaplah ini memang bukan best satnite saat trip mengingat suara penyanyi yang kalo kita dengernya pengen lambai-lambai tangan ke kamera macam peserta uji nyali, yang lirik-liriknya mbuh sakarepe, suasana yang sedikit awkward karena belum bener-bener kenal. Tapi ketemu orang-orang baru, suara ketawa, yang lebih suara ombak meski pantainya ga keliatan dari tempat duduk ini bikin ati adem. Bawaannya ngeruk pasir pantai di depan buat bikin lubang tempat ngubur yang bikin ati empet selama si Surabaya. Eaaa… Tetep diselipin curhat.

Oke, destinasi hari selanjutnya di postingan selanjutnya juga yaa...
Dadaaaaah~~~

Foto ini diambil di hari Sabtu, 5 Oktober 2013 di Auditorium RRI Surabaya saat Stand Up Show-nya ketiga di Surabaya. MesakkeBangsaku.
Momen dimana AKKHHIIRRNYYAAA kesampean juga salim jabat tangan, diucapin langsung terima kasih sudah datang, plus kontak mata yang ramah banget dan juga foto bareng!

Stand up special bang Pandji yang kedua, Merdeka Dalam Bercanda – 14 Juli 2012 di Surabaya, jadi stand up show pertama yang saya datangi. Sayangnya, selesai acara sudah buru-buru pulang dan ga sempet untuk antri foto bareng karena malam itu adalah pertama saya mendatangi sebuah acara hingga malam sendirian. Iyak, keburu si emak nyariin cinderellanyaa~~~
Dan stiker ini, adalah saksi bisu keberanian saya malam itu. Aheiyy.

Momen kedua kedatangan bang Pandji ke Surabaya saat itu April 2013 untuk workshop Airborn. Memang ga ikutan kelasnya karena kudu kerja sih hehehe jadi ga ada kesempatan untuk ketemu langsung hehehehe.

Momen ketiga yang jadi kali kedua saya menikmati stand up show bang Pandji saat acara Stand Up Indo Surabaya, Republik Komedi – 31 Agustus 2013. Di acara ini juga ga punya kesempatan untuk ketemu karena jam malam dari keluarga masih berlaku hehehehe, dan juga memang sepertinya tidak ada foto session bareng komikanya. Oke, mungkin memang masih kudu sabar…

Dan ya akhirnyaaaaaaaaaaaa….. Jabat tangan pertama bang Pandji berhasil ga bisa berhenti meringis setelah ucapin selamat untuk Mesakke Bangsaku-nya malam itu.
Orang yang dulu membuat saya mantengin tv lokal tiap sore waktu itu, yang artinya acara tv pertama dari tv lokal yang saya lihat karena bang Pandji yang bawain. Acara yang memperlihatkan sebuah kesalahan film dengan jargonnya bang Pandji yang… “KOK GITUUU?!”
Hahahaha tahun berapa ya ini bang?

Melewati tiga momen kedatangannya ke Surabaya yang memakan waktu setahunan akkkhhhiiirrrnyyyaaa bisa ketemu langsung, diajak salim dan ngobrol dikit sambil foto bareng. Priceless :’)
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ►  2025 (3)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Juni 2024 (2)
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ►  April 2022 (3)
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ▼  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ▼  Juni 2015 (2)
      • #NyasarPit Lombok - Let's Have a Walk
      • AKHHIIRRRNYAAA...
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © Charitri. Designed by OddThemes