Charitri

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
pic via. Google


Baiklah, aku pulang saja.
Mungkin sekalian pergi.

Message Sent.
--

Bagaimana hujan pun tau harus datang di hari para manusia yang kelam akan mendung di hatinya?

Payung warna-warni segala sisi itu terbuka. Kaki dibawahnya melangkah pelan lalu mundur lagi. Hujan tak terlalu lebat, namun rupanya langkah itu jelas terlihat ragu. Dipingiran atap asbes yang menjorok sedikit melebihi dinding rumah itu ia berteduh dengan payung warna warninya. Dari sudutku melihatnya tak tampak bagaimana rupa wajah dibalik payung warna-warni itu. Tapi sepandang orang melihat sosoknya pasti berpikir hal yang sama dengan diriku. Yang pasti dia seorang wanita, jelas dari rok dan tas selempang lucu di pundaknya. Orang yang melihatnya pasti akan sepaham pula denganku, wanita itu pasti dengan rupa yang manis dan gerak yang riang. Entahlah, aku yakin sekali.

Wajahnya masih tak jelas kugambarkan, mungkin karena ia menunduk dan pinggiran payungnya membuat penglihatanku semakin tak menemukan titik fokus wajahnya. Ditambah gerak kakinya yang menendang dalam tanah basah di bawahnya berulang-ulang seperti melampiaskan sebuah amarah. Sepatu dengan  pita diujungnya sudah tak jelas warna aslinya, sudah bercampur dengan liat basah dari setiap hentakan kakinya. Seburuk apa harinya sore ini?

Hujan masih seperti ini, tak begitu lebat juga tak bisa dibilang gerimis. Sedang begitu loh. Hujan enak kalau menurutku. Tak ada mendung gelap di sepanjang  mata menelusur langit, tak ada petir menyambar-nyambar atau gemuruh-gemuruhnya, atau angin yang mengoyak pepohonan yang daunnya akan mengotori sepanjang jalan paving komplek. Seperti memang diberi waktu Tuhan untuk sekedar beristirahat sambil menikmati ricik hujan dan segala makhluk yang berlalu lalang. Termasuk wanita diseberang sana, yang berteduh di bawah pinggiran atap asbes dengan payungnya.
Ada juga bocah-bocah yang berlarian dengan kepala penuh busa shampo dan berhenti di bawah pipa pembuangan air dari atap rumah seseorang untuk membilas keramasnya. Tak jarang ada yang berteriak sial karena busa shampoo membuat pedih matanya sedangkan yang lain masih berebut air yang keluar dari pipa air. Atau beberapa pengendara motor yang nekat menerjang hujan dengan atau tanpa jas hujannya. Sesekali pengendara motor yang begitu berhati-berhati pada akhirnya akan berteriak sumpah serapahnya ke pengendara motor  atau mobil yang yang seenaknya melaju dengan kecepatan tinggi saat melewati genangan air. Atau orang disebelahku ini, air mukanya tenang seperti ada keyakinan yang dia pegang bahwa hujan ini akan segera berakhir.Seadang aku duduk di tangga teras masjid komplek perumahan dengan tampias air yang hampir membuat basah celana di batas lututku.

Pandanganku masih tak bisa lepas dari wanita di seberang sana. Sudah hampir setengah jam ia sekan merutuki sebuah kejadian. Tidakkah ia tahu bocah-bocah busa shampo itu menertawakannya? Tidakkah ia lihat sepatu dan sekujur lutut hingga kakinya sudah seperti kerbau yang seharian berputar dalam ladang? Ingin kutarik saja rasanya ke tempat wudhu dibelakangku. Memaksanya mencuci kaki dan memegangi payung yang warnanya seperti lempengan gulali itu. Sungguh.

Satu persatu orang yang berteduh denganku berangsur berkurang karena memilih menerjang hujan dengan raut kesal. Hujannya begini-begini saja, tanda reda pun tidak. Sementara diujung sana berkali-kali kudengar suara bernada tinggi melalui telepon orang-orang disekitarku. Entah memang marah karena yang dihubungi tak juga menampakkan batang hidungnya atau memang menyeimbangkan suara karena bising kendaraan yang lalu lalang dan suara hujan. Entahlah.
Aku berkali-kali melihat layar teleponku yang sedari pesan itu terkirim, bergetar tak tau rima. Biar saja.

Kualihkan pandanganku mencari wanita berpayung yang seyogyanya ada diseberang seperti lima menit yang lalu masih kupandangi dari jauh. Dimana dia?
Sepertinya sudah pergi.
Ah!

Aku melihat sekitar masjid tempatku berteduh. Hanya tinggal aku.
Awalnya ingin kuputuskan untuk menerjang hujan pula toh di bagasi motorku ada jas hujan, siapa bilang aku tak membawanya. Aku hanya tak ingin sendiri sore ini, apalagi mendung dan akhirnya hujan. iPod sengaja kumatikan dan earphone sudah kugulung rapi. Aku sedang menghindar panggilan masuk, segala jenis lagu yang ada dalam playlistku juga pikiran-pikiran kosong yang memacuku untuk memikirkan kejadian beberapa jam lalu. Beberapa jam sebelum aku pada akhirnya mengirimkan pesan itu. Pesan pertanda berakhirnya semua yang sudah kuperjuangkan mati-matian ya meski sekarang aku belum benar-benar mati. Sore ini aku hanya harus bertahan melalui hujan tanpa harus menangis. Itu saja. Tapi yang kuperhatikan sedari tadi sudah hilang, sedang bocah busa sampo juga sudah pulang diteriaki ibunya, orang-orang yang tadinya berteduh denganku berangsur hilang. Lantas siapa lagi yang harus kupikirkan agar aku tetap sibuk berpikir tanpa harus memikirkan kejadian siang tadi?

Jika sudah begini pada akhirnya aku yang kalah. Gara-gara wanita berpayung itu pergi entah kemana, tak ada lagi yang sibuk kupikirkan dan seperti inilah aku sekarang. Memeluk lutut dengan celana yang sudah basah, high heels yang pada akhirnya kulepas dan bernyanyi lirih sebuah lagu sedih.



Minggu, 11 Mei 2014.
Selain hari itu tepat saya bertambah usia, hari itu saya menghadiri 2nd Annivesary Kemalicious Surabaya yang digelar di Auditorium RRI Surabaya. Apa itu Kemalicious? Kemalicious itu sebuah fanbase seorang komika Jakarta, Kemal Palevi. Fanbase yang tiap hari makin banyak dan makin berisik ini merupakan fanbase/komunitas kedua yang di hari jadi-nya membuat sebuah stand up show di Surabaya, setelah Stand Up Indo ITS. Menurut saya. Sama-sama menampilkan komika-komika local juga satu headliner komika ibukota. Kalau di 1st Anniversary Stand Up Indo ITS ada Sammy, di 2nd Anniversary Kemalicious Surabaya ada Kemal Palevi. Jelas sih ya. Ppffttt.

Konsep dari 2nd Anniversary Kemalicious Surabaya ini cukup beda menurut saya, dengan mengusung tema seperti judul bukunya Tak Kemal Maka Tak Sayang, acara ini dibuka dengan talkshow yang dipimpin oleh Dono. Dari pertanyaan seputar awal mula memutuskan menjadi komika dan menulis buku hingga pertanyaan seputar kehidupan pribadi Kemal hingga pertanyaan-pertanyaan absurd lainnya, jelas memanjakan semua Kemalicious yang hadir siang itu. Kemaliacious yaa, yang deretan ‘penasaran’ seperti saya beberapa poin pertanyaan dan talkshownya lumayan membosankan. Sorry to saaaayy~~~~
Jadi, harapan kedepannya adalah jelas stand up shownya, saya ndak mau rugi dong kalau sesi standup shownya juga membuat saya makin bocen. Ih.

Suasana talkshow:





















 















                                                                                                          
                                                                                                          
                                                                                                           

Di sela talkshow juga ada beberapa kuis untuk dapetin buku Tak Kemal Maka Tak Sayang dan tees dari Cluster Dreams. Ya, acara ini disponsori oleh beberapa pihak seperti Stand Up Unesa, Event Surabaya, InfoGresik, Agromedia dan Cluster Dreams.

Kuis:

Setelah talkshow yang begiiitttuu lama (menurut saya) dan bagi-bagi hadiah, talkshow ini ditutup dengan tiup lilin dengan ketua Kemalicious Surabaya dan beberapa perwakilan dari Kemalicious yang hadir.
 


Sebelum Kemal stand up yang jelas dibuka oleh tiga komika local dulu ya.

Idhamsyah | @Syahdham
Terakhir kali saya menghadiri penampilannya di Bangku Taman, saya pikir siang itu Idham bakal bawain materi dengan kemampuan bahasa inggrisnya. Tapi ternyata engga.
Hehehehehheheheheheheheheheheeeee.


Firza Valaza | @FirzaValaza
Tampil riang dan berapi-api sepertinya memang sudah khasnya Firza menurut saya. 


Muhammad Lukman | @Mohluk
Ini pertama kalinya saya melihat penampilannya. Meskipum ada sebagai opener di Little I Can-nya Arif Alfiansyah, saya ga bisa melihat penampilannya waktu itu karena datang terlambat. Ehehehee..
Tapi siang itu saya dapat dobel dengan penampilan kembarannya dan konsepnya yang unik. Iya, Lukman kembar.




Dan inilah yang ditunggu sekitar 300 audience yang hadir!!
Kemal Palevi | @kemalpalevi
Dimulai dari Absurd Tour, seliweran di PERSETAWA, RepublikKomedi, EXART 2013 sampai di 2nd Anniversary Kemalicious Surabaya saya ada di bangku penonton nontonin Kemal. Hahahahaa…

Selamat ulang tahun Kemalicious Surabaya.
Kompak terus dan tetap mendukung sang idolanya di jalan kebaikan.
Jangan tambah banyak ya.
*dijumroh*

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ►  2025 (3)
    • ►  Oktober 2025 (1)
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Juni 2024 (2)
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ►  April 2022 (3)
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ▼  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ▼  Mei 2014 (2)
      • Thought
      • 2nd Anniversary Kemalicious Surabaya
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © Charitri. Designed by OddThemes