Jika tak salah hitung, saat itu lima jam sebelum takbir Lebaran. Tak pernah kubayangkan melihat diriku hancur di tengah hingar bingar Kemenangan. Tangisku tak kalah berisik beradu dengan takbir anak-anak yang memekik, sedang ibuku tak berhenti bertanya kemana kamu dan keluargamu pergi mudik.
Semalaman kubaca ulang percakapan terakhir kita, perdebatan panjang yang tak kumenangkan hingga beberapa pesanmu yang berulang untuk minta dimaafkan. Sudah kumaafkan meski besok bukanlah Lebaran. Entah ini karena memang betul bentuk perasaan atau hanya sebuah penghiburan, kamu tawarkan diri dan waktu jika nanti barangkali aku butuh bantuan. Terima kasih, tapi hari ini aku sudah cukup menyedihkan.
Hari itu hari Lebaran, butuh waktu yang lama untuk bisa melangkah keluar kamar dengan nyaman. Tangisku sudah pecah meski belum mulai sungkeman, air mataku terus menghapus riasan. Ibu tanya kamu datang kapan, sepupu tanya bisa dikenalkan kapan, sisanya memeluk mendoakan. Andai kamu tahu bagaimana di rumah ini kamu begitu dirayakan, apa kamu masih tetap ingin meninggalkan?
Kupahami lagi keputusanmu tak ingin lagi bertahan, meski aku juga tak begitu paham kompromi mana dariku yang kamu rasa memberatkan.
Mungkin karena hari itu Lebaran, hatiku seakan menjadi begitu lapang.
Mungkin karena hari itu Lebaran, air mataku tertahan oleh banyaknya senyuman.
Mungkin karena hari itu Lebaran, kekalutan hatiku mereda tenang.
Mungkin karena hari itu Lebaran, aku melepasmu meski kepala masih penuh dengan banyak pertanyaan.
Entah bagaimana aku setelah Lebaran.
Entah dari mana akhir ini bermula, pinta yang sering kau anggap amarah atau diam yang kau balas dengan biar. Anggap saja pernah kita berdua bahagia, mesra bersamaku membuat hatimu penuh dengan sesak yang nyata, meski rasa yang terus tumbuh padaku ini adalah cinta tetap kau minta kumatikan dengan paksa. Anggap saja pernah kita berdua bahagia, sebaik-baik memulainya selesaipun kuusahakan aku akan baik-baik saja.
Tak apa, setidaknya salah satu dari kita bahagia.
Setidaknya, luka ini tak menjadi sia-sia.
Entah berapa malam kuhabiskan mengawang di gelap remang
kamar, merapal banyak tanya yang tak ada habisnya. Suaranya sesekali
kudengar, seakan menyelamatkan.
Entah berapa panjang jalan yang kususuri demi mengulur
kepulangan, meracau seakan aku kesal salah jalan. Suaranya sesekali kudengar,
seolah menyadarkan.
Entah berapa pelarian yang kurencanakan, genggam tangannya begitu
menguatkan.
Di tengah betapa aku yang menyedihkan ini, kurayakan kamu
dengan kembali menghiasi diri.
Pernah sekali kubayangkan bagaimana kematian adalah jalan
termanis dari gelapnya pagi.
Jauh dari pagi itu, aku sudah merasa kehilangan hidup.
Tapi dari pagi itu, aku begitu menginginkan untuk terus
hidup.
Di kali pertama kupikirkan tentang kematian, satu-satunya
yang tergambar di kepalaku saat itu adalah bagaimana keadaanku nanti ketika aku
mati. Aku hanya ingin mati ketika pada akhirnya aku sudah hidup di hidupku
sendiri, aku hanya ingin mati ketika aku sudah merasakan kebahagian yang kuinginkan; karena aku hanya tak ingin mati dalam kematian yang menyedihkan.
Lelah bisa kulupa dengan lampu-lampu kota pulang kerja,
sedih bisa kumamah habis dengan tangis atau jengah yang seringkali kuteriaki
dengan sumpah serapah. Barangkali malam ini hatiku sudah tak bisa kutipu lagi,
barangkali kepalaku sudah tak lagi meredam pekak riuhnya tanya di dalamnya atau
barangkali aku sudah benar-benar kehilangan cara bagaimana agar hidupku tak
lagi menyedihkan nanti; malam ini aku sungguh ingin tidur dan tak ingin bangun
lagi.
Ada kalanya aku
sengaja berlama-lama hingga kepulan asap rokok bapak sebelah menerpa ujung
hidungku. Menyenangkan, seolah menemukanmu di tengah sibuk hariku.
Aku menyukai bagaimana
aku sedikit banyak menyerap banyak kebiasaanmu, misal tetiba terbahak sendiri
mendengar ujung lagu yang kugubah dengan kata-kata lucu. Atau, tempat-tempat baru yang kita kunjungi, bertaruh kecewa barangkali tak sesuai ekspektasi. Menyenangkan ternyata, merayakan tak sesuainya ekspektasi jika tak sendiri.
Aku jatuh cinta
pada diriku saat ini, yang lama tak pernah kulihat dia sebahagia ini.