Jika air mata melembabkan hidup, maka kesedihan bak jamur yang tumbuh di sepanjang tembok gang sempit sebelah rumah. Terlihat menggemaskan dengan wujudnya, yang entah di perjalanan keberapa kita tak lagi melihatnya bahkan bagaimana akhirnya dia mati. Bak kesedihan yang terus menjalari hidup, yang entah di hari keberapa kita tak lagi merasakannya entah terkikis rasa muak atau seseorang datang membersihkannya hingga rasa gelinya membawa gelak.
Hujan pasti datang, pun tangis. Kudoakan tangismu banyak bahagianya ya, kalaupun ada sedihnya kuharap ada seseorang yang membabat cepat jamurnya. Atau alih-alih menunggu orang lain bagaimana jika kita memilih sendiri untuk tertawa? Karena tak banyak yang bisa dilakukan ketika hujan terlalu deras untuk diterjang tanpa membuat kita kuyub.
Aku menyukai gelayut suaramu tiap memanggilku, seperti
teduh halte Basra jam delapan pagi. Aku menikmati obrolan malam kita sebelum
tidur meski tak jarang banyak hening yang menggenang saat kantuk mulai datang. Aku juga selalu menantikan
panggilan video kita tiap pagi, aku sibuk mencari bedak di tengah kantukmu yang enggan beranjak.
Tapi aku juga menikmati sesak jalan raya di jam pagi dan
pulang meski sering kuumpat diam-diam para pengendaranya, langit jingga selepas
maghrib ketika menuju rumah, lampu-lampu jalan yang perlahan menelan gelap,
bangunan-bangunan tinggi yang mulai berkedip warna-warni atau kepul hangat
cilok pinggir jalan.
Dan tiba-tiba aku mau kamu ada berdiri di sini.
Dalam antrian cilok meski menggerutu sesekali.
Sejak kamu menetap akhir-akhir
ini, tulisanku tak lagi jadi tempat kemana larinya sedih dan sepi. Mereka hidup lebih riuh minta duluan ditulis, pesannya dengan manis. Pun aku yang seolah tak ingin kalah, terus kewalahan meski kamu tak henti kugambar kala bermunajah.
Semoga menetapmu menjadi tinggalku, menjadi rumah di setiap pulangku.
“Gimana, apa sudah ada pacar
baru?”, absennya setiap mulai mengisi ruang obrolan.
Rasanya aku sudah tak kaget lagi dengan
kemunculannya atau bahkan dengan segala pertanyaan yang masih saja
kekanak-kanakannya itu. Kuintip dari luar ruangan, nanti sajalah kujawab jika
aku tak malas.
“Sudah”, jawabku dengan tambahan
ehehe agar tak terkesan canggung.
Jika kutarik di kali terakhir kau
menanyakannya, jawaban belumku menarikmu dengan ajakan konyol juga akhirnya. Bagaimana
tak konyol, bertahun aku berjalan tak peduli aku terseok bahkan terjatuh mengiringimu
tak juga bisa meluruhkan egomu untuk sekedar meraih tanganku. Bukankah terdengar
konyol jika saat ini, di mana aku memutuskan untuk berhenti dan menghilang dari
pandangmu, aku mendengar pertanyaanmu yang tak salah jika kunilai kekanak-kanakan
itu?
“Ga ada pacar mulu tiap ditanya, ga mau sama aku aja?”,
tulismu.
“Engga”, lagi-lagi kubalas dengan
tambahan ehehe agar tak terkesan angkuh.
Butuh waktu yang tak sedikit
untuk akhirnya ada di sini, barangkali jika kamu ingin tau. Bukankah kamu juga tau
meski perlahan tak mengiringi, panggilanmu
masih sering kuhampiri; semudah itu aku dulu.
Meski tak begitu yakin, semoga
jawabku tak membuatmu patah.
Meski sedikit, kuharap kamu
terluka.
Aku selalu menyukai
perjalanan meski tau tujuannya kurang begitu menyenangkan. Pun hidup, meski
terlunta lara dan susah payah mengembangkan tawa tetaplah bagaimana tujuan
hidup ini aku pun masih selalu ragu ketika akan menjawabnya. Kita pun demikian,
dua hati asing yang bertemu di entah simpang jalan yang mana atau pada
kendaraan yang keberapa. Berkendara di antah berantah dengan tujuan yang masih entah.
Kita sepakat bahwa tak ada perjalanan yang sepenuhnya aman, tapi melihat kita
bersamaan memasang seatbelt, memilih playlist lagu, tumpukan snack di bangku belakang juga genggam yang sesekali kau ciumi saat
menyetir rasanya aku akan cukup merasa nyaman di sepanjang jalan.