;

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Oktober 2014 sempat bismillah pengen ke Lombok, waktu itu planningnya bareng officemate, mba Giena, sepulang dari pantai Lombang, Sumenep - Madura. Awal 2015 saat mulai persiapin trip, partner justru ganti, balik lagi sama si Risha karena mba Giena memutuskan untuk pulang kampung saja.
Berhubung have no idea apa aja yang kudu dikunjungi selama di sana, kita putusin untuk menggunakan jasa travel. Ngumpulin list travel jadi tugas Risha dari awal, saya bagian telisik mau kemana aja dan tanya-tanya ke admin travelnya. Dan akhirnya kita putusin untuk menggunakan Fun Adventure

Januari 2015, si Risha udah rajin booking tiket pesawat untuk 14 Mei 2015 padahal belum ngajukan cuti dan belum booking agen travelnya. Baru kira-kira seminggu kemudian saya menghubungi travel untuk pendaftaran dan proses DP. Hingga proses ini, pengajuan cuti belum dilakukan. Hahaha.

Hingga sebulan sebelum keberangkatan, kita belum tau akan ada berapa orang yang nantinya akan bergabung dalam trip ini, siapa namanya hingga di mana nanti kita akan menginap. Kira-kira seminggu sebelum berangkat saya baru melunasi pembayaran dan mendapat itinerary selama di sana, poin yang pertama kita tunggu adalah hotel!
Maklum, turis manja macem kita berdua ini kalo masalah tidur harus plincess. Ga kaget, setelah diberi nama hotel, kita berdua sepakat untuk nantinya akan pindah hotel. Jengjeng.

Dari drama kemungkinan saya berangkat di hari selanjutnya, acc cuti, sedih melihat nama hotel, putusnya ransel saat di Juanda hingga separuh merem berangkat ke bandara akhirnya 14 Mei 2015 kita menuju Lombok. Sesuai anjuran admin untuk mengambil flight pertama, kita menunaikan tanpa cela meski guide belum sampai saat kita tiba di Lombok. Hvft.
Tapi jangan dikira karena kita yang datang pertama lalu kita yang menunggu peserta lainnya, justru kita berdua jadi yang terakhir bergabung karena melipir ke Solaria bandara terlebih dahulu. Hahaha.

Di parkiran bandara kita berdua baru bertemu mas Yudi sebagai guide selama di Lombok dan langsung dikenalkan dengan peserta lainnya. Terus terang lumayan jiper awalnya melihat muka-muka yang nantinya akan berbagi momen selama di Lombok ini, muka-muka traveler dengan perlengkapan a la traveler pula. Dan kita berdua punya doa yang sama saat berjalan menghampiri mereka di parkiran, semoga semua bukan couple.
AMIIIIIIIIIIIINNNN

Betapa kurang ajarnya kita berdua yang terakhir datang malah diam-diam jadi yang pertama naik ke mobil. Mungkin naluri anak bawang yang menuntun kita. Halah.

Total partner selama di Lombok ada 7 orang plus guide.
Mas Yudi, Guide.
Mas Tito, asli Surabaya tinggal di Jakarta.
Mba Tika, dari Jakarta yang ternyata baru tau kalo rumahnya deketan sama mas Tito.
Mas Danny, dari Balikpapan.
Mba Mey, pacarnya mas Danny.

ALHAMDULILLAH COUPLE CUMA SEPASANG!!

Lanjutan perjalanan hari pertama dilanjut di postingan selanjutnya ya. Hehe..
Suasana mendadak hening. Mata keduanya saling melempar pandang, berusaha tak bertemu pada satu titik. 

Dulu saat bunga-bunga menghiasai taman mereka yang nantinya tempat mereka bertukar janji untuk hidup bersama, sebuah lagu pernah dinyanyikan lelaki itu pada wanita yang hendak ia nikahi. Sebuah lagu yang minimal cocok untuk suasana pernikahan. Saling mengajukan jari manis, bergantian menyematkan cincin di jari manis masing-masing lalu berciuman di tengah sorak sorai doa keluarga, kerabat dan para sahabat.

Sesederhana itu.
Hingga kini, semua tak lagi bisa sederhana.

Pernikahan itu belum juga terwujud, tapi lagu itu masih setia mereka dengarkan. Sebagai semangat untuk berjuang yang pada akhirnya juga terdengar seperti sebuah duka yang diindah-indahkan. Taman semakin kehilangan satu-persatu bunganya, rumput yang mulai menguning dan mata yang selalu sembab pada wanitanya.
Entah, akankah ada pernikahan itu nantinya.

Hari ini mereka akan berpisah.
Sengaja datang lebih awal agar bisa berbincang di tengah lalu-lalang bandara. Semoga kota saja yang sekarang terpisah, hati dan rencana pernikahan ini jangan. Doa mereka di setiap hentak kaki pertemuan dan perpisahan terjadi. Lelakinya terus menguatkan wanitanya, menggenggam tangannya dan terus menciuminya.

Sebuah taksi perlahan berhenti tepat di hadapan mereka, genggaman mereka terlepas. Pak sopir yang terburu-buru membuka bagasi, lupa menutup kembali pintu kemudinya hingga suara radio dengan volume tinggi terdengar di sekitar jejeran kursi ruang tunggu.

Seolah sebuah soundtrack dalam film, semua melambat dan denting piano mengisi kenangan mereka.

Suasana mendadak hening. Mata keduanya saling melempar pandang, berusaha tak bertemu pada satu titik. Sang lelaki sibuk memejamkan mata dan mengusap wajah, sedang wanitanya sibuk menebar pandang dan menahan kedip matanya agar air mata tak jatuh tertumpah.
Entah mengapa lagu pilihan mereka untuk pernikahan nanti terdengar sangat menyedihkan kali ini.

“And this journey that we're on.

How far we've come and I celebrate every moment.
And when you say you love me,
That's all you have to say.
I'll always feel this way.

When you say you love me
The world goes still, so still inside and
When you say you love me
In that moment,I know why I'm alive...”




Hingga panggilan boarding untuk perjalanan lelaki itu terdengar, mereka sibuk mengusap mata dan susah payah terlihat baik-baik saja.
Untukmu, lelaki pertama yang membawa perihal mie ayam dalam perkenalan kita.
Sepenting itu kah mie ayam dalam hidupmu sehingga pesan singkat kau luncurkan dari Solo kepadaku yang berada di pelosok desa yang entah dimana aku bahkan sudah lupa saat itu, untuk sekedar menanyakan apakah mie ayamnya enak? Jika kuingat sekarang, mulia sekali mie ayam itu.

Butuh sekian hari hingga hitungan bulan untuk kita akhirnya bertemu. November 2012. Aku mengingatnya betul. Hujan yang mengguyur Jogja sore itu sedikit meruntuhkan harapanku bertemu denganmu. Bertemu lelaki yang membuatku bebas bercerita tanpa harus menjadi orang lain, yang membuatku ketagihan untuk membaca pesannya meski itu hanya rasa kecewanya melihat warteg tanpa mbak penjual yang biasanya. Aku menyukainya. Sungguh.

Kamu sudah di depan pintu kamarku tak lama setelah menutup telepon, mengabari jika kedatanganmu sudah disambut hujan. Kamu setengah kuyup dengan tentengan beberapa tas yang ku tahu itu sepasang sepatu kesayanganmu. Tak ada kalimat perkenalan resmi pada umumnya, seakan sudah saling mengenal, kupersilahkan kau membersihkan diri.

Aku tak menyukai orang yang terang-terangan mengetahui aku menyembunyikan sesuatu, menyembunyikan perasaanku. Juga dia yang menyempatkan menaruh telapak tangannya di keningku sebelum masuk kamar mandi. Dia bilang aku demam. Sial, ketahuan.
Di depannya, juga di setiap harinya bertukar pesan, aku tak pernah bisa membohonginya.
Aku membencinya.

Tapi bagaimana aku membencinya di awal pertemuan ini sementara sejak sore itu, tanganku tak pernah ia biarkan melenggang sendirian. Bagaimana aku membencinya sementara tangannya tak berhenti memeriksa panas di keningku? Aku juga tak sekuat itu menahan debar yang iramanya tak bisa kunikmati sambil menari. Tanpa meminta persetujuanmu, aku diam-diam menyiangi harap ini sendiri.

Apa kabarmu?
Karena sejak batalnya rencana pertemuan kita yang terakhir, sudah tak kubaca pesanmu lagi. Akupun sudah sibuk sendiri memangkas harap yang sudah terlanjur tumbuh rimbun. Kamu lelaki yang tak pernah terlihat marah, setidaknya aku melihatnya begitu. Yang kuingat marahmu hanya ketika sekali kupanggil “good boy” yang menurutmu itu kurang pantas disebutkan. Bahkan saat hari terakhirku di Jogja yang hanya menutupnya dengan tangis pun kamu tak marah. Justru kamu yang sibuk memeluk dan mengusap pipiku. Dengan memangkas semua rimbunan yang kusiangi ini dan mulai menagaburkanmu, semoga kau tak marah. Dan sepertinya bahkan tidak.

Namun hari ini kuputuskan memangkas habis apa yang aku tanam diam-diam dulu. Bukan mematikanmu, tapi akan kutanam harap yang baru. Bukan melupakanmu, tapi memindahmu dari jalan utamaku.
Aku menyukaimu hingga kini. Terlebih saat mendengarmu bercerita.
Aku bahkan merindukan diriku sendiri saat berada di dekatmu, saat aku bisa berhenti berbohong tentang perasaanku.


Bahkan nanti jika kita benar-benar tak lagi bisa menggaungkan sapa, kuingin kamu tau jika memang masih ada aku yang kau ingat dalam setiap hari terberatmu, aku akan tetap menjadi seperti itu. Datanglah, karena aku masih akan membuka pintu seperti dulu. Selalu.
Decit ban mengagetkanku dan meninggalkan sedikit lecet di beberapa bagian tubuhku. Bukan karena luka ku, tapi sepasang mata yang sedang merenggang nyawa menatapku penuh iba. Sementara lelaki yang terseret hingga ratusan kilometer itu berlari dan menangis mendapati kekasihnya sudah tak bangun lagi. Aku menghela napas panjang hingga beberapa orang dan mobil polisi datang. Resiko pekerjaan?

Mungkin itu sebabnya aku tercipta dengan hati yang kuat dan pribadi yang tangguh. Perkara begini pasti dengan mudah aku lewati. Aku memang diciptakan sadis.

Tapi begini-begini aku juga bisa luluh. Apalagi dengan yang Februari ini datang. Itu kamu yang sama dengan decit ban yang bisa melukaiku, tapi kamu berbeda. Kamu perlahan-lahan tanpa aku merasa tersakiti, lembut. Bahkan aku pernah melukai tubuhku sendiri agar kamu tetap tinggal lebih lama. Belum lagi kamu juga pintar menyejukkan hatiku yang seringnya panas dan kaku.

Setiap pagi dan siang hari ada hal yang selalu kutunggu, jam berangkat dan pulang sekolah anak-anak kampung depan. Ini mengasyikkan karena mereka aku bisa mendengar banyak cerita. Kadang tentang guru, teman kelas sebelah atau hal-hal random yang seringnya lucu. Dan dari mereka aku pun tahu, hubungan kita ini namanya LDR, hubungan jarak jauh. Ketemunya jarang, rindunya sering. Hehe.
Tapi beruntung kita ada di negara ini yang tak banyak memiliki jenis musim. Cukup melewati satu kemarau, kita pasti akan bertemu lagi.

Ini sudah Februari dan kamu pasti akan datang. Satu musim sudah kulalui banyak hari berat, sakitnya penutupan luka hingga berbagai kejadian menyeramkan dan tak jarang berujung kematian. Namun seperti biasa yang kuceritakan, menolongnya pun aku tak bisa. Jadi pribadi macam apa aku ini kuharap kau tak akan berhenti datang. Tapi kadang aku menyesal membuatmu datang padaku, jalan terjal sudah kau lalui namun masih harus manjatuhkan diri padaku yang seringnya keras bak batu ini. Untuk perjuanganmu aku sungguh berterima kasih.

Luka yang terakhir kau tangisi dulu, sudah disembuhkan. Jadi tak usah bingung mencarinya, hanya tujulah aku dan rindu ini akan menari dengan aroma tanah yang lama tak kau kunjungi pula. Aku tak akan menjadi mengerikan dengan kedatanganmu, kupersilahkan engkau menemui mereka yang disekelilingku. Mereka pun membutuhkanmu. Merindukanmu.
Tapi aku juga tak mau kalah, ada lubang yang belum disembuhkan di ujung sana. Diami luka itu dan mamah habis setiap rindu yang menempel di dalamnya. Sebelum kau pergi jauh lagi, sebelum musim ini berakhir lagi.

Aku masih menunggumu, Hujan. Meski manusia lebih menyukaimu dengan tanah yang aromanya mereka rindukan, tanaman yang hijau segar seketika saat kau jamah atau semua yang bergembira karenamu. Biar aku terlihat angkuh di mata mereka, dan terlihat tak tahu terima kasih, namun hanya kamu sendiri yang tahu bagaimana aku yang sungguh merindukan kedatanganmu.

Yang menunggumu,


Aspal jalanan yang penuh lubang.
Untuk @lely_setyawan87

Entah bagaimana jaring abstrak ini menemukan kita dalam semesta yang luasnya tak kira-kira. Begitu saja hingga kini sesekali aku merindukanmu seperti seorang adik yang yang ditinggal kakaknya menikah dan hidup di luar sana. Rindu sekali.

Aku ingat pertama kali kita bertemu, seperti seorang kakak yang menemukan adiknya tersesat lalu diberi makan. Diajak berbincang lalu saling berpelukan. Nyaman sekali rasanya.
Bahkan aku tak malu melihatmu lamat-lamat saat mengunyah sampai beberapa kali mencubit pipimu gemas. Padahal itu pertemuan pertama kita. Untung saja itu kamu ya mba bukan gebetan, bisa-bisa aku dituduh wanita cabul. Hehe.

Terima kasih untuk menyapaku lebih dulu waktu itu, terlebih kalau tidak salah mengingat, saat itu aku sedang tertekan dengan keadaan bapak yang sakitnya tak seperti biasanya. Meski dengan membacanya, aku seperti dikuatkan oleh setiap doamu. Pun berkat doa-mu, hingga hari ini aku masih bisa menemani si bapak. Terima kasih.

Karenamu juga si anak ragil dengan ini bisa merasakan bagaimana mempunyai kakak perempuan. Meski sekalinya dapat, si kakak sudah menikah dan tinggal dengan suaminya. Terima kasih.

Hari ini tepat setahun pertemuan pertama di sekian waktu perkenalan kita. Terima kasih atas telinga yang selalu siap mendengarkan, mata yang terus memperhatikan, peluk yang menenangkan juga pipi yang selalu menjadi medan cubitan. Sehat dan berbahagialah di setiap kakimu melangkah bersama suami dan semoga tahun ini, menjadi ibu bisa kau dapati.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  Oktober 2025 (1)
      • Warna
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Juni 2024 (2)
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ►  April 2022 (3)
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © ;. Designed by OddThemes