;

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Hingga sampai juga kita di malam seperti ini, memandang api unggun yang sama meski tak saling bersebelah. Malam menahan kita hingga kerumunan berubah menjadi sepi, meninggalkan kita dengan baranya yang kian mereda.

Bukankah api unggun itu semakin terlihat seperti kita?

Ada kalanya dulu saling bergantian mengambil kayu demi menjaga apinya, mengusir dingin dengan saling menghampiri dengan tangan penuh ubi. Karena kita berdua tau, memandangnya saja tak membuat bara menang dari dingin malam.

Hingga sampai juga kita di malam seperti ini, memandang api unggun yang sama meski tak lagi bersebelah. Sesekali bertemu tatap seolah menunggu siapa yang lebih dulu membuat dingin tak lagi ingin menetap, entah dengan kembali menyalakan api atau bersiap pergi.

"Tentang Nala dan hati yang sedang berbunga"

Saat itu Mei, di mana aku tak begitu menginginkan hadiah lain selain badai yang kudoakan cepat pergi. Dia bertanya aku ingin hadiah apa, dan entah bagaimana pertanyaan itu mengembalikan banyak warna.

"Malam nanti ada janji yang ditunggunya, dipilihnya baju terpantas dan bergaya, tak sabarnya ingin segera malam tiba"

Malam itu di penghujung bulan, kami sepakat berjalan beriringan. Dia punya tujuan, sedang aku masih seringkali merasa ketakutan; takut jika nantinya badai ini menarikku lebih kuat dari genggaman tangannya, takut jika semua kemalanganku hanya akan mengecilkan rasa. Barangkali karena peluknya yang penuh asa, aku memberanikan diri menghadapi badai ini dengan banyak bunga darinya. Barangkali karena tawanya setiap menceritakan tujuan kita, aku mulai tak sabar ingin segera tiba.

"Tujuh tepat, pesan singkat diterimanya.
Kabar dari yang ditunggu jadi tak bisa, tak bisa bertemu"

Dua hari itu adalah dua hari yang paling menakutkan bagiku, merajuknya ternyata juga minta waktu. Kukira satu dua hari lagi akan cukup, ternyata hanya semalam untuk mengakhiri perjalanan ini dalam dua paragraf. 

"Lama Nala merasa sulit disuka, bagi Nala malam ini istimewa.
Sedih dia kembali masuk kamarnya. Tentang Nala dan kemurungan hatinya"

"Nala figur sederhana, tak ramai kelilingnya, '92 lahirnya.
Hari besar baginya bila melihat benih cinta.
Bagi Nala, itu langka"

"Lalu Nala mengirim singkat sebuah pesan.
Kepadanya, Nala bertanya:
"Kapan ada waktu lain lagi?""

Dua paragraf itu tak membuatku cukup, bagiku dua paragraf itu nyatanya hanyalah asal penutup. I always tell the truth? apakah itu sekarang hanya sebagai motto hidup? Kebingungan-kebingunganku malam itu hanya menyisakan dirinya dan amarah, memaksa harus menerima untuk tak lagi bersama meski perasaan kami sama. Demi tujuan yang lama kami tata, di tengah gemuruh amarah di dadanya, aku sedikit memaksa:
"Bukankah kita masih belum coba banyak cara?"

--
#30hbc2305

Semalam, akhirnya kuberanikan diri menghubungimu lagi. Meski rasa rindu dan ego yang haus penjelasan akan alasanmu menyerah pada kita sudah habis memamah jiwa, nyatanya keberanianku semalam bukan karena itu. Membaca tulisan penuh candamu itu seakan mengoyak luka yang kuabaikan sakitnya. Bagaimana hal yang kau gaungkan sebagai alasanmu menyerah itu keluar sebagai canda, sedang aku hingga hari ini masih sibuk meyakinkan diriku untuk menerima luka.

Aku senang melihatmu baik-baik saja, sungguh. Meski tak banyak, aku masih berharap bisa menemukanmu seperti saat kita masih saling rindu. Bukan kamu yang malam itu, yang mengartikan keteguhanku semata-mata untuk melawan ibumu. 

Kubaca berulang kali jawabanmu dan kutemukan kamu malam itu lagi, kamu yang tak pernah kukenali. 

Aku masih terlalu keras kepala untuk sekedar menyerah begitu saja. Masih kuusahakan semua sisa-sisa kebetulan yang kupunya, barangkali saat kamu menutup pagar nomor lima, berkendara dengan lusi putihmu menunggu lampu merah atau di tengah lelah menuju rumah.

Masih kuusahakan semua sisa-sisa kebetulan ini demi satu pandang dan barangkali kita bisa berbicara lagi.

Kira-kira sudah berapa isak dan hela napas yang mengamini bahwa mereka memang tak akan pernah bisa meredakan pedih? bahwa hati akan selalu merasakan nyeri tiap kepala tak henti bertanya dengan dalih menyelesaikan teka-teki. Pada akhirnya yang melekat pada kita hanyalah sisa-sisa perasaan, dan selebihnya adalah kenangan yang barangkali sudah bertumpuk dengan penyesalan. Aku tak lagi menghitung malam yang kuhabiskan dengan mengeringkan basah mata dengan ujung sarung bantal, karena rupanya ingatan tak butuh angka untuk merasakan kehilangan.

Hingga hari ini kepergiannya masih menjadi teka-teki yang semakin aku coba mengerti hanya membawaku pada pedih yang lebih dalam lagi, yang seakan memaksaku untuk melepasnya dengan rela yang pura-pura. Pun bagaimana bisa aku sepenuhnya rela jika dipaksa berpisah meski perasaan kita masih sama?

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  Oktober 2025 (1)
      • Warna
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Juni 2024 (2)
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ►  April 2022 (3)
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © ;. Designed by OddThemes