Aku masih terlalu keras kepala untuk sekedar menyerah begitu saja. Masih kuusahakan semua sisa-sisa kebetulan yang kupunya, barangkali saat kamu menutup pagar nomor lima, berkendara dengan lusi putihmu menunggu lampu merah atau di tengah lelah menuju rumah.
Masih kuusahakan semua sisa-sisa kebetulan ini demi satu pandang dan barangkali kita bisa berbicara lagi.
Kira-kira sudah berapa isak dan hela napas yang mengamini bahwa mereka memang tak akan pernah bisa meredakan pedih? bahwa hati akan selalu merasakan nyeri tiap kepala tak henti bertanya dengan dalih menyelesaikan teka-teki. Pada akhirnya yang melekat pada kita hanyalah sisa-sisa perasaan, dan selebihnya adalah kenangan yang barangkali sudah bertumpuk dengan penyesalan. Aku tak lagi menghitung malam yang kuhabiskan dengan mengeringkan basah mata dengan ujung sarung bantal, karena rupanya ingatan tak butuh angka untuk merasakan kehilangan.
Hingga hari ini kepergiannya masih menjadi teka-teki yang semakin aku coba mengerti hanya membawaku pada pedih yang lebih dalam lagi, yang seakan memaksaku untuk melepasnya dengan rela yang pura-pura. Pun bagaimana bisa aku sepenuhnya rela jika dipaksa berpisah meski perasaan kita masih sama?