Charitri

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Hitam menelan semua warna yang dilewatinya.

Kamu-- biru dan merah yang terus berganti pesonanya.

Aku ini banyak sedihnya, semoga tak meleburmu di dalamnya.

Rupanya kehilangan tak membutuhkan angka untuk berhenti datang. Selamanya, selama hidup masih sanggup dijalani, kehilangan akan menemukan jalannya untuk kau lalui lagi. Bukan mencintai, bukan yang selalu kau lihat setiap hari. Dulu, kukira mencintai sepatutnya membutuhkan waktu selamanya, lalu kehilangan datang dan seketika mencintai menjadi hal yang begitu melelahkan. Ada luka yang memaksa menyiksa, ada hidup yang memaksa redup.

Kehilangan, selamanya membuat mencintai memiliki batasannya, sedang kita mencintai hal-hal yang tidak bertahan selamanya tanpa ingin kehilangan apa-apa.

Kita selalu ingin berada dalam satu gerbong kereta, dimana kita bisa duduk berdampingan dengan gelayut tangan dan kepala yang saling disandarkan. Sibuk memilih menu di kereta makan sambil sesekali menertawakan televisi yang sekilas menampilkan Gibran; cekikikan. Bukan seperti Tugu pertama kita, kamu yang menunggu entah dimana sedang degup jantungku yang mulai kehilangan arah. Yang seakan hujan sudah tau ceritanya, rela mereda agar canggung suara-suara kita mengalun dalam irama yang sama.

Mungkin saat ini kita masih tergesa menghitung berapa stasiun lagi untuk saling melepas peluk, menamatkan beberapa hari yang tidak banyak ini dan menukarnya dengan doa-doa untuk lebih bahagia lagi, sementara melupakan seberapa sedihnya nanti saat berpamitan lagi. 

Nanti akan ada hari dimana kita akhirnya di kota yang sama dalam kereta menuju rumah, buah doa-doa kita yang mengangkasa. Semoga kita masih punya cinta yang sama, sebab rumah yang berisikan kita seperti bentuk bahagia yang tak memiliki jeda.
Butuh waktu yang tak sebentar untuk sampai kembali di rumah, tak sedikit juga doa untuk beberapa kesialan selama perjalanan; berharap siapapun membawaku pulang meski itu mobil ambulan. Tak bisa bersama hingga tujuan adalah satu hal, namun di tengah segala kebingungan dan kemarahan ini bagaimana ku bisa temukan lagi jalan pulang?

Butuh waktu yang tak sebentar untuk sampai kembali ke rumah, ku buka lagi pintu yang dulu pernah kututup dengan doa-doa bahagia diiringi isak bak ucapan "selamat datang di rumah".

Ada hari dimana aku terus ingin berduka, menangis mengasihani diri sendiri betapa hidup menjadi semalang ini. Ada juga hari dimana aku merasa aku pun harus bahagia, melewati hari dengan banyak perabot rumah yang berganti posisi demi menyibukkan diri. Berulang, esok, lusa, berulang lagi hingga ritme hidup kembali dikenali diri.

Pernah kucoba merunut kembali jalan yang pernah kita lalui, keindahannya menyesakkan hati. Kucoba jalan lain yang tak kalah indahnya, "andai kamu lihat ini" terus menggema di kepala. Lalu kukunci lagi pintu juga jendela.

Ada hari dimana  kulihat kamu datang, kuanggap itu sebuah kebetulan karena rasanya tidak mungkin jika kamu datang karena merasa kehilangan. Tak mungkin juga berteduh kan? karena kamu tidak sedang kehujanan, apalagi bertamu pada orang yang pernah kamu tinggalkan di tengah jalan. Pintu tak kubuka, rumah ini kembali berserakan saat aku datang, tawamu yang dulu menyeruak menyenangkan kini bergantian menghujam; menyedihkan.

Aku di dalam, barangkali kamu masih penasaran. Jejakmu hari itu pun sesekali masih kupandang, lekat dan dalam. Masih berantakan, rumah pun aku juga yang di dalamnya; barangkali juga pencapaian ini yang menurutmu menyenangkan untuk didengar.

Sebab aku tahu, jatuh cinta bukan hanya tentang debar yang tertinggal meski sudah sekian setelah jumpa, beberapa video dan foto kucing untuk memulai sapa bertukar tawa, atau yang tiba-tiba ingin bercanda sampai menepuk kepala manja karena saking gemasnya.

Maka aku sedang tidak jatuh cinta.

Aku hanya merindukan saat-saat bepergian denganmu, merunut wisata dengan kaleng-kaleng bir dan lagu-lagu kesukaan kita. Mencari kedai kopi dengan pemandangan senja yang selalu kita suka untuk berbincang tentang apa saja.

Aku hanya suka membayangkan melihatmu yang fokus di belakang kemudi dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan konyolku agar kamu tertawa sebelum menjawabnya, yang barangkali nanti malam masih menyisakan tawa ketika kamu mengingatnya sebelum tidur, lalu mengirimkan foto segelas kopi buatanmu besok pagi.

Aku tidak jatuh cinta. Kurasa hanya sedikit kurang lengkap, kurang penuh sebuah hari jika kamu tidak hadir dalam notifikasi. Biasanya aku akan mulai sibuk menimbang lagi, menimang hati yang perlahan dipeluk sedih. Tentu saja hariku masih berjalan seperti biasa, meski memang rasanya lebih mendung dari biasanya.

Percayalah, aku tidak jatuh cinta.

Tidak jika kamu tak merasakan hal yang sama.

Postingan Lama Beranda

halo!

isi-isi kepala yang mencari teman bicaranya

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • 3GP Tour Ge Pamungkas - SURABAYA
    Surabaya, 24 Februari 2013. Terjadwal Surabaya sebagai kota selanjutnya setelah Sidoarjo dalam rangkaian tour sang juara Stand Up Comed...
  • Little I Can - Arif Alfiansyah
    Setelah berkunjung di Satu Bangsa Dalam Tawa di Jember minggu lalu, di Surabaya masih ada satu standup show yang sudah saya beli tike...
  • BUS EKA JAHAT
    Barusan baca artikel kalau pengemudi bus Mira dan Eka pada mogok di terminal Solo karena ada selisih dengan bus lokal Jogja Solo. BODO AMA...

Advertisement

Arsip Blog

  • ▼  2025 (3)
    • ▼  Oktober 2025 (1)
      • Warna
    • ►  Juni 2025 (1)
    • ►  Februari 2025 (1)
  • ►  2024 (13)
    • ►  Desember 2024 (1)
    • ►  Oktober 2024 (1)
    • ►  Agustus 2024 (2)
    • ►  Juli 2024 (5)
    • ►  Juni 2024 (2)
    • ►  Mei 2024 (2)
  • ►  2023 (11)
    • ►  Agustus 2023 (2)
    • ►  Juli 2023 (1)
    • ►  Mei 2023 (1)
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (3)
    • ►  Februari 2023 (2)
    • ►  Januari 2023 (1)
  • ►  2022 (23)
    • ►  Desember 2022 (1)
    • ►  November 2022 (2)
    • ►  Oktober 2022 (1)
    • ►  September 2022 (1)
    • ►  Agustus 2022 (1)
    • ►  Juli 2022 (5)
    • ►  Juni 2022 (2)
    • ►  April 2022 (3)
    • ►  Maret 2022 (3)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Mei 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
  • ►  2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (1)
    • ►  Juni 2020 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  September 2016 (2)
    • ►  Agustus 2016 (1)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  April 2016 (3)
    • ►  Maret 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (1)
    • ►  Januari 2016 (1)
  • ►  2015 (15)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  September 2015 (3)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  Februari 2015 (3)
    • ►  Januari 2015 (3)
  • ►  2014 (10)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (1)
    • ►  Mei 2014 (2)
    • ►  Maret 2014 (2)
    • ►  Januari 2014 (2)
  • ►  2013 (15)
    • ►  Desember 2013 (3)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  Oktober 2013 (1)
    • ►  September 2013 (2)
    • ►  Juni 2013 (1)
    • ►  Mei 2013 (2)
    • ►  April 2013 (1)
    • ►  Februari 2013 (3)
    • ►  Januari 2013 (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  November 2012 (1)
    • ►  Oktober 2012 (1)
    • ►  September 2012 (1)
    • ►  Juli 2012 (1)
    • ►  Juni 2012 (1)
    • ►  Mei 2012 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Oddthemes

Copyright © Charitri. Designed by OddThemes