Hitam menelan semua warna yang dilewatinya.
Kamu-- biru dan merah yang terus berganti pesonanya.
Aku ini banyak sedihnya, semoga tak meleburmu di dalamnya.
Rupanya kehilangan tak membutuhkan angka untuk berhenti datang. Selamanya, selama hidup masih sanggup dijalani, kehilangan akan menemukan jalannya untuk kau lalui lagi. Bukan mencintai, bukan yang selalu kau lihat setiap hari. Dulu, kukira mencintai sepatutnya membutuhkan waktu selamanya, lalu kehilangan datang dan seketika mencintai menjadi hal yang begitu melelahkan. Ada luka yang memaksa menyiksa, ada hidup yang memaksa redup.
Kehilangan, selamanya membuat mencintai memiliki batasannya, sedang kita mencintai hal-hal yang tidak bertahan selamanya tanpa ingin kehilangan apa-apa.
Kita selalu ingin berada dalam satu gerbong kereta, dimana kita bisa duduk berdampingan dengan gelayut tangan dan kepala yang saling disandarkan. Sibuk memilih menu di kereta makan sambil sesekali menertawakan televisi yang sekilas menampilkan Gibran; cekikikan. Bukan seperti Tugu pertama kita, kamu yang menunggu entah dimana sedang degup jantungku yang mulai kehilangan arah. Yang seakan hujan sudah tau ceritanya, rela mereda agar canggung suara-suara kita mengalun dalam irama yang sama.
Mungkin saat ini kita masih tergesa menghitung berapa stasiun lagi untuk saling melepas peluk, menamatkan beberapa hari yang tidak banyak ini dan menukarnya dengan doa-doa untuk lebih bahagia lagi, sementara melupakan seberapa sedihnya nanti saat berpamitan lagi.
Nanti akan ada hari dimana kita akhirnya di kota yang sama dalam kereta menuju rumah, buah doa-doa kita yang mengangkasa. Semoga kita masih punya cinta yang sama, sebab rumah yang berisikan kita seperti bentuk bahagia yang tak memiliki jeda.
Butuh waktu yang tak sebentar untuk sampai kembali di rumah, tak sedikit juga doa untuk beberapa kesialan selama perjalanan; berharap siapapun membawaku pulang meski itu mobil ambulan. Tak bisa bersama hingga tujuan adalah satu hal, namun di tengah segala kebingungan dan kemarahan ini bagaimana ku bisa temukan lagi jalan pulang?
Butuh waktu yang tak sebentar untuk sampai kembali ke rumah, ku buka lagi pintu yang dulu pernah kututup dengan doa-doa bahagia diiringi isak bak ucapan "selamat datang di rumah".
Ada hari dimana aku terus ingin berduka, menangis mengasihani diri sendiri betapa hidup menjadi semalang ini. Ada juga hari dimana aku merasa aku pun harus bahagia, melewati hari dengan banyak perabot rumah yang berganti posisi demi menyibukkan diri. Berulang, esok, lusa, berulang lagi hingga ritme hidup kembali dikenali diri.
Pernah kucoba merunut kembali jalan yang pernah kita lalui, keindahannya menyesakkan hati. Kucoba jalan lain yang tak kalah indahnya, "andai kamu lihat ini" terus menggema di kepala. Lalu kukunci lagi pintu juga jendela.
Ada hari dimana kulihat kamu datang, kuanggap itu sebuah kebetulan karena rasanya tidak mungkin jika kamu datang karena merasa kehilangan. Tak mungkin juga berteduh kan? karena kamu tidak sedang kehujanan, apalagi bertamu pada orang yang pernah kamu tinggalkan di tengah jalan. Pintu tak kubuka, rumah ini kembali berserakan saat aku datang, tawamu yang dulu menyeruak menyenangkan kini bergantian menghujam; menyedihkan.
Aku di dalam, barangkali kamu masih penasaran. Jejakmu hari itu pun sesekali masih kupandang, lekat dan dalam. Masih berantakan, rumah pun aku juga yang di dalamnya; barangkali juga pencapaian ini yang menurutmu menyenangkan untuk didengar.
Sebab aku tahu, jatuh cinta bukan hanya tentang debar yang
tertinggal meski sudah sekian setelah jumpa, beberapa video dan foto kucing untuk
memulai sapa bertukar tawa, atau yang tiba-tiba ingin bercanda sampai menepuk
kepala manja karena saking gemasnya.
Maka aku sedang tidak jatuh cinta.
Aku hanya merindukan saat-saat bepergian denganmu, merunut
wisata dengan kaleng-kaleng bir dan lagu-lagu kesukaan kita. Mencari kedai kopi
dengan pemandangan senja yang selalu kita suka untuk berbincang tentang apa saja.
Aku hanya suka membayangkan melihatmu yang fokus di belakang kemudi dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan konyolku agar kamu tertawa sebelum menjawabnya, yang barangkali nanti malam masih menyisakan tawa ketika kamu mengingatnya sebelum tidur, lalu mengirimkan foto segelas kopi buatanmu besok pagi.
Aku tidak jatuh cinta. Kurasa hanya sedikit kurang lengkap, kurang penuh sebuah hari jika kamu tidak hadir dalam notifikasi. Biasanya aku akan mulai sibuk menimbang lagi, menimang hati yang perlahan dipeluk sedih. Tentu saja hariku masih berjalan seperti biasa, meski memang rasanya lebih mendung dari biasanya.
Percayalah, aku tidak jatuh cinta.
Tidak jika kamu tak merasakan hal yang sama.